Back Anda disini: Home

Artikel

Massa Bentrok dengan Aparat

PALEMBANG – Ribuan orang yang tidak terima “jagoannya” kalah dalam pemilihan calon anggota legislatif 2014, berunjuk rasa. Massa berusaha masuk ke Gedung KPU Kota Palembang, namun aparat dari Sat Sabhara Polda Sumsel dan Polresta Palembang serta Sat Brimob Polda Sumsel sudah lebih dulu menghadang.

Bentrokan tak terhindarkan. Massa melempari aparat dengan buah tomat dan bola air. Mereka juga membakar ban bekas, namun api langsung cepat dipadamkan. Massa semakin anarkis lalu menerobos penghalang dari aparat dengan cara mendorong dan menendang penghalang aparat.
Lantaran kondisi yang tak kunjung kondusif, aparat menurunkan dua unit mobil Water Canon dan menyemprotkannya ke arah massa. Akhirnya massa memilih mundur namun beberapa di antaranya yang menjadi provokator men-sweeping satu unit mobil. Akibat ulah mereka itu, aparat Sat Brimob Polda Sumsel bersenjata api laras panjang dengan mengendarai sepeda motor trail menembak ke arah massa.
Tiga di antaranya berhasil dilumpuhkan dan diamankan aparat. Bahkan, satu orang dilarikan ke rumah sakit karena luka tembak yang diderita. Itulah sekelumit simulasi Mantap Brata untuk pengamanan Pemilu 2014 mendatang dalam Apel Kesiapan Sistem Pengamanan dan Linmas Kota Palembang dalam rangka pengamanan pemilu 2014 di halaman depan venue lapangan tembak, Jakabaring Sport Center (JSC), kemarin.
Selain untuk simulasi pengamanan pemilu, kegiatan itu juga untuk meningkatkan kemampuan perorangan, kesatuan sinergitas Polri dan TNI, serta instansi terkait. Setelah kondisi kondusif, aparat kepolisian di-back up TNI dari Kodim 0418 Palembang dan Kodam II/Sriwijaya mengamankan tempat-tempat vital dan sarana umum, seperti pasar dan mal.
Informasi dihimpun, sebanyak 1.200 personel polisi serta 360 anggota TNI Angkatan Darat, Angkatan Udara, dan Angkatan Laut dilibatkan dalam simulasi. Sedangkan massanya, sebanyak 1.000 dari pedagang Pasar 16 Ilir.
Kapolda Sumsel, Irjen Pol Saud Usman Nasution mengatakan, simulasi ini dilakukan secara langsung dengan mendatangkan massa agar polisi bisa lebih jelas melihat gambaran jika terjadi aksi anarkis. Selain itu, petugas keamanan TNI-Polri dan pihak terkait adanya keterpanduan dan kekompakan sehingga pekerjaan berat bisa diselesaikan dengan aman sehingga kondisi bisa kembali kondusif.
“Untuk proses pengamanan nanti, polisi akan memperketat sejumlah titik rawan, seperti KPU, TPS, pasar, mal, serta tempat-tempat lainnya. Di simulasi tadi, terlihat ada aspirasi dan kepentingan massa. Maka dari itu, seluruh anggota harus tahu permasalahan terlebih dahulu agar tetap termonitor. Pihak KPU dan Banwaslu juga bisa memberikan penjelasan sehingga bisa memberi keterangan kepada masyarakat untuk tidak terjadi unjuk rasa susulan,” jelas Saud.
Pangdam II/Sriwijaya, Mayjen TNI Bambang Budi Waluyo, mengimbau kepada TNI dan Polri agar tak segan-segan bertindak tegas terhadap aksi unjuk rasa yang berujung anarkis. Aparat TNI dan Polri juga harus bersinergi dalam pengamanan pemilu nanti. Namun jika pengunjuk rasa sudah melakukan tindak anarkis, aparat keamanan harus sigap dan tak ragu melakukan tindakan tegas.
“Berunjuk rasa boleh saja, tapi tetap pada koridor dan peraturan yang telah ditetapkan dan tidak melakukan tindak anarkis. Sebelum menggelar demonstrasi, koordinator aksi (korak) demonstran harus memberitahu apa tujuan mereka melakukannya dan berapa jumlah massa yang dikerahkan hingga berjanji melakukan aksi dengan tetap tertib,” bebernya.
Setelah kegiatan itu, beberapa aparat kepolisian membentangkan spanduk yang bertuliskan ”Selamat Ulang Tahun kepada Kapolda Sumsel, Irjen Pol Saud Usman Nasution, yang ke-56”.  Terlihat kapolda langsung memeluk Pangdam II/Sriwijaya, Mayjen TNI Bambang Budi Waluyo. (cj1/ce4)