>> Home Gelora Sriwijaya All Sport FDR Belum Ditemukan
Kenalkan Alam Lewat Eksperimen Sains
INSPEKTUR MARZUKI- menggali kreatifitas dan keingintahuan anak-anak, PG dan TK Mangga...Readmore
Turnamen Tenis Sumeks Open 2013
PALEMBANG - Technical Meeting Turnamen Tenis Sumeks Open 2013 telah rampung digela...Readmore
Tangkal Badai Pegunungan
PALEMBANG - Sriwijaya FC belum pernah menang saat berlaga ke markas Persiwa Wamena di...Readmore
Jual 15 Unit per Bulan
PALEMBANG – Penjualan Honda Brio di PT Maju Mobilindo -- Main Dealer Honda Palemban...Readmore
Putusan Sesuai Perintah MK
PALEMBANG - Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kota Palembang segera mengeluarkan surat kepu...Readmore
  • Kenalkan Alam Lewat Eksperimen Sains

    INSPEKTUR MARZUKI- menggali kreatifitas dan keingintahuan an...

  • Turnamen Tenis Sumeks Open 2013

    PALEMBANG - Technical Meeting Turnamen Tenis Sumeks Open ...

  • Tangkal Badai Pegunungan

    PALEMBANG - Sriwijaya FC belum pernah menang saat berlaga ke...

  • Jual 15 Unit per Bulan

    PALEMBANG – Penjualan Honda Brio di PT Maju Mobilindo -- M...

  • Putusan Sesuai Perintah MK

    PALEMBANG - Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kota Palembang seger...

NEWS UPDATE

Stop
Play
FDR Belum Ditemukan

JAKARTA - Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) langsung bergerak cepat setelah menerima black box Sukhoi Super Jet (SSJ) 100 dari tim pencari. Kemarin, kotak yang merekam aneka data penerbangan pesawat nahas tersebut langsung dibawa ke markas KNKT di Jalan Merdeka Timur, Jakarta Pusat.
Namun, black box tersebut ternyata tidak lengkap karena baru Cockpit Voice Recorder (CVR) yang berhasil ditemukan. Sedangkan satu bagian lain yang belum ditemukan adalah Flight Data Recorder (FDR). Pincangnya data dikhawatirkan tidak sepenuhnya bisa mengungkap penyebab menabraknya pesawat ke tebing Gunung Salak.
Ketua Basarnas, Marsekal Madya Daryatmo memastikan hal itu kemarin. Kepada wartawan, dia menunjukkan bentuk utuh dari black box yang masih berwarna oranye. Nah, dari situ terlihat ada bagian yang kurang. “Saya minta ke rescuer dari TNI/Polri dan Brimob untuk melanjutkan pencarian,” ujarnya.
Lebih lanjut dia menjelaskan, sangat mungkin FDR tidak ditemukan bareng dengan CVR karena kedua alat itu memang terpisah. Namun, tetap menjadi satu kesatuan yang akhirnya disebut black box. Dari kedua alat itulah nanti akan terungkap berbagai informasi.
Daryatmo mengakui, pencarian FDR bisa jadi lebih sulit. Namun, tim sudah siap mengobok-obok kembali lokasi ditemukannya CVR. Diyakini, benda yang dicari tidak jauh dari lokasi ekor pesawat. Maklum, black box umumnya disimpan di bagian ekor yang diyakini tetap utuh saat kecelakaan terjadi.
Seperti yang diberitakan sebelumnya, kondisi CVR sudah gosong. Daryatmo sempat khawatir kalau alat yang tersebut benar-benar rusak parah. Kalau sampai itu terjadi, KNKT bisa kesulitan untuk membaca. “Mudah-mudahan dalamnya masih bagus meski luarnya sudah seperti ini,” imbuhnya.
Investigation in Charge (IIC) KNKT untuk kasus SSJ-100, Mardjono Siswo Suwarno optimistis CVR tersebut bisa dibaca. Dibanding CVR pesawat Garuda Indonesia yang terbakar di Bandara Adi Sucipto, Jogjakarta, 7 Maret 2007 lalu, dia menyebut masih lebih baik.
“Di Jogja sampai meleleh dan butuh 1,5 bulan untuk membacanya,” kata Mardjono. Dia lantas menjelaskan kalau pihaknya bakal langsung mengejarkan CVR tersebut. Harapan yang langsung terucap dari mulutnya adalah tiga dari empat kanal yang ada di CVR bisa dibaca.
Kalau tiga kanal itu bisa didengar, dia yakin bisa mendapatkan data yang mencukup untuk investigasi. Sebab, CVR memiliki kemampuan untuk merekam seluruh informasi yang ada di kokpit selama dua jam. Diprediksi, pembacaan data tersebut bisa selesai dalam seminggu ke depan.
Tetapi, bukan berarti dalam sepekan sudah ketahuan apa yang menyebabkan pesawat senilai US$30 juta tersebut mengalami kecelakaan. Perjalanan panjang masih harus dilalui, salah satunya melakukan transkrip pembicaraan yang terekam CVR. “Proses itu butuh waktu yang lama karena butuh penerjemah,” terangnya.
Apalagi, seluruh percakapan itu bakal di transkrip ke tiga bahasa yakni Rusia, Inggris, dan bahasa Indonesia. Namun, Guru Besar Teknik Penerbangan ITB itu tidak bisa mengestimasi berapa lama proses tersebut akan berakhir. Setelah proses transkrip selesai, akan dilakukan sinkronisasi data dari FDR.
Kalau FDR tetap tidak ketemu? Dia mengaku tidak mempermasalahkan hal itu. Pengandaiannya, tidak ada rotan akar pun jadi, jelas Mardjono. Alias, mengesampingkan FDR dan analisa diambil dari CVR, dan rekaman ATC dengan pilot. “Tapi, saya yakin bisa ketemu karena FDR diperlukan untuk baca ketinggian pesawat,” urainya.
Kepala Tim Laboratorium KNKT, Budi Nugroho saat jumpa pers di kantor KNKT juga menyampaikan alasan kenapa dia perlu bantuan KNKT Rusia. Menurutnya, pesawat Sukhoi menggunakan bahasa Rusia dan pembicaraan antara pilot dengan tower pakai bahasa Inggris.
Dia lantas memberi tahu kalaupun semua proses nanti usai, pembicaraan dalam kokpit tidak untuk dipublikasikan. Alasannya, itu sudah jadi aturan internasional. Jadi, kalau ada rekaman yang tiba-tiba beredar dipastikan itu palsu. “Tolong digarisbawahi, kecelakaan pesawat tidak sama dengan kecelakaan motor, mobil, dan kereta,” tegasnya.
Di Halim Perdanakusuma, Ketua Sub Komite Penelitian Kecelakaan Transportasi (PKT) Udara dari KNKT, Masruri juga meyakinkan kalau CVR tersebut masih bisa dibaca. Meski gosong, disebutnya bagian dalam yang berisi data rekaman masih kuat. Kalau di-download tidak bisa, masih ada opsi recovery.
Bukan tanpa alasan kenapa KNKT optimistis proses pembacaan data bisa dilakukan sekitar seminggu. Selain kondisi, alasan lain adalah asal pabrikan CVR tersebut dari Amerika. Itu dibuktikan dengan kode L3 Communicated di badan alat perekam suara itu. “Pasti bukan buatan Rusia,” terangnya.
Dalam ulasan sebelumnya, menjelaskan kalau alat yang dimiliki KNKT terbatas pada black box pabrikan Amerika dan Prancis. Kalau sampai alat tersebut buatan Rusia, bisa dipastikan KNKT bakal kesulitan. Namun, dipastikannya CVR tersebut buatan L3, berarti tidak perlu diragukan lagi masalah kompabilitas software dan hardware.
Ketua KNKT, Tatang Kurniadi, menambahkan, pihaknya akan mengutamakan keakuratan. Oleh sebab itu, dia berharap agar semua pihak bisa bersabar menunggu hasil kerja timnya. “Untuk laporan hasilnya, ada waktu hingga satu tahun,” jelasnya.
Terpisah, menepis isu bahwa Moskow berusaha untuk mengambil alih proses identifikasi black box ditepis oleh Duta Besar Rusia untuk Indonesia Alexander Ivanov. Dia menegaskan kalau CVR bakal diteliti sepenuhnya di Jakarta. “Yang berwenang untuk meneliti Indonesia,” ucapnya.Bantuan yang akan diberikan pihaknya nanti adalah mendatangkan alat khusus yang rencananya datang hari ini. Peralatan tersebut menambah amunisi tim Rusia yang sudah datang sebelumnya melalui Bandara Halim Perdanakusuma.

Peng-upload Foto Palsu Korban Sukhoi tak Ditahan
Di bagian lain, Yogi Samtani, tersangka penyebar foto-foto korban pesawat Sukhoi Super Jet 100 tidak ditahan oleh Bareskrim Mabes Polri. Pria berumur 22 tahun yang kini masih duduk di bangku kuliah salah satu perguruan tinggi di Lampung sudah sejak Selasa (15/5) lalu ditetapkan sebagai tersangka. Yogi yang datang sendiri ke Bareskrim Mabes Polri ditemani ibunya, Lis Anggraini, dan seorang pengacara Muhammad Yahya Rasyid sejak kemarin sudah diperiksa oleh tim penyidik.
Kabareskrim Mabes Polri Komjen Pol Sutarman menjelaskan Yogi, dikenakan pasal dalam UU ITE. “Dia yang pertama meng-upload gambar-gambar yang tidak sesuai dengan faktanya sehingga kita kenakan undang-undang ITE,” ujar Sutarman saaat dijumpai di halaman gedung Bareskrim Mabes Polri, kemarin (16/5).
Sutarman menjelaskan dengan kecanggihan tim cybercrime Polri, lokasi Yogi sudah diketahui sejak awal. Namun, rupanya Yogi merasa resah dan datang sendiri ke Bareskrim Mabes Polri. “Kita tidak melakukan penahanan karena dia menyerahkan diri, dan gentlemen-lah. Kalau berbuat salah ya ngaku saja dan bertanggung jawab,” ujar mantan kapolda Metro Jaya ini.
Menurut Sutarman, apa yang dilakukan YS harus bisa dijadikan contoh untuk masyarakat Indonesia lainnya supaya tidak mengulang kesalahan yang sama, dengan sengaja mengunggah foto yang tidak benar. “Nanti kita sampaikan ke jaksa, tergantung dari jaksa apakah memenuhi syarat penuntutan atau tidak. Ini jadi contoh bagi semua agar hati-hati bermain internet,” katanya.
Yogi dianggap melanggar UU ITE pasal 51 (1) jo pasal 35 UU No 11/2008. Dia memulai menyebarkan foto palsu di internet dengan akun @yogi_samtani pada Rabu (9/5), pukul 18.00. Padahal pesawat itu baru ditemukan secara visual pada Kamis (10/5), pukul 10 pagi.
Yogi kemarin sempat muncul sebentar di ruang Humas Polri. Lebih banyak menunduk, Yogi berulangkali meminta maaf. “Saya sama sekali tidak ingin menyakiti keluarga korban. Saya benar-benar minta maaf,” katanya.(dim/rdl/ce1)


Add this to your website
 

--------------------------------------------------

GELORA SRIWIJAYA

article thumbnailKim-Vali Masih Tanda Tanya
23 May 2013

JAKARTA - Besok (24/5), Persiwa Wamena menjamu Sriwijaya FC di Stadion Pendidikan, Wamena. Namun, tim berjuluk Badai Pegunungan itu masih pusing menyiapkan komposisi terbaik untuk menjamu juara ber [ ... ]


Berita lain

Harian Pagi Sumatera Ekspres
Gedung Graha Pena Jl. Kol H Barlian No.773 KM.6,5 Palembang 30152
Telp : (0711) 411768, 415263, 415264
Fax :  (0711) 420066
Info Berlangganan : (0711) 7739888
Info Layanan Iklan : (0711) 420078