Back Anda disini: Home

Artikel

Pemerintah Tak Berdaya Tangani Asap

Pemerintah harus mengakui jika penanggulangan asap yang dilakukannya belum sesuai harapan. Meski pada 
kenyataannya berbagai langkah dilakukan. Butuh penanganan komprehensif terkait bencana ini. Seperti apa? 
 
---------------------------
KABUT asap di Palembang makin parah. Dampak yang ditimbulkannya pun mulai terasa. Terutama bagi kesehatan, transportasi baik udara, darat dan laut. Upaya penanggulangan yang dilakukan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) bersama instansi terkait seakan tak membuahkan hasil. 
Kebakaran lahan dan hutan yang terjadi di sejumlah daerah di Sumatera Selatan (Sumsel) sudah mencapai level parah. Wajar, jika beberapa provinsi di antaranya Riau, Kalimatan, dan Jambi serta negara tetangga seperti Singapura menyebut jika Sumsel penyumbang asap.
Danlanud Palembang Letkol Pnb Sapuan SSos menegaskan, kondisi kabut asap yang pekat memicu jarak pandang pada kemarin pagi (12/10) kurang dari 200. “Tidak bisa dilakukan penerbangan jarak pandang hanya 100 meter, kondisi ini dipastikan tidak bisa melakukan penerbangan pemadaman asap,” ujar Sapuan.
Ia mengatakan, sekitar pukul 10.00-11.00 WIB, kabut mulai membaik. Sehingga pihaknya berinisiatif melakukan penerbangan untuk melakukan pemadaman asap. “Sudah ada satu helikopter melakukan penerbangan ke daerah OKI guna melakukan water boombing ke daerah penyumbang kabut asap terbesar hari ini (kemarin, red),” ucapnya.
Selama kondisi kabut asap, setiap pagi pihaknya melakukan pantauan hot spot baik melalui satelit, helikopter, dan darat. “Melakukan penerbangan jarak pandang paling tidak 800 meter,” terangnya. Lanjut Sapuan, kondisi asap yang semakin pekat (tebal, red) tim penanganan sudah mendapat tekanan dari pusat, dalam penanganan asap yang saat ini kondisi udara sudah tidak sehat. “Diakui, kabut asap bebarapa hari terakhir makin pekat, berdampak pada buruknya kondisi udara. Bahkan jika seseorang kondisi tubuhnya tidak kuat bisa berdampak pada kesehatan,” akunya.
Sekarang, masyarakat diminta jika keluar rumah harus menggunakan masker, jangan berada di luar rumah jika tidak dalam kondisi terdesak apalagi bagi anak-anak. “Sangat penting keluar rumah menggunakan masker, asap dan debu yang tercemar.” 
Penanganan sekarang, mulai mengalami permasalahan helikopter yang digunakan MI-8 dan helikopter Kamov, kesulitan dalam mendapatkan air ketika ingin melakukan water boombing. “Sulit mendapatkan sumber air saat melakukan water boombing akibat kemarau sekarang, bahkan sempat beberapa kali saat dilakukan pengambilan air menggunaka baketn (mangkok penampung air, red) malah terambil lumpur,” ucapnya.
Sebagai antisipasi terjadi hal serupa pada tahun depan, pihak kita bakal melakukan penyiraman terlebih dahulu pada koordinat dianggap rawan dan melakukan sosialisasi ke masyarakat yang tinggal di sekitar koordinat titik api. “Kita telah mengantongi koordinat titik api. Mudah-mudahan tahun depan hal seperti ini dapat segera teratasi,” kata dia. 
 Mayor POM Robert Flan SH menambahkan, kondisi titik api terjadi kemarin sebanyak 120 titik api yang tersebar di bebarapa wilayah Sumsel, seperti Ogan  Komering Ulu (OKU), Banyuasin, Ogan Komering Ilir (OKI), Ogan Ilir (OI), Tulung Selapan.
 “Segala unsur terkait bergerak, kita akan berupaya membantu semaksimal mungkin dalam penanganan kabut asap ini,” ucapnya. Besok (hari ini (13/9)), tim melakukan pemadaman koordinat titik api di beberapa wilayah dengan menggunakan tiga helikopter. “Tempat pengambilan air pada posisi S:3.21.53, E : 105.4.33,” terangnya.
Setelah dilakukan pengambilan air, helikopter pertama MI-8 melakukan pemadaman di wilayah kecamatan Pampangan. S : 3.22.16. E: 105.5.23 dan S : 3.21.40. E 105.06.35 kemudian helikopter Kamov di Kecamatan Pedamaran S : 3.23.59. e : 105.06.35. “Koordinat tersebut hasil ground check lapangan oleh Kepala BPBD Sumsel, Kepala Dinas Kehutanan dengan helikopter Bolkwow yang dilakukan kemarin (12/10) pukul 12.00 WIB,” tukasnya.
Sementara Kepala Badan Lingkungan Hidup (BLH) Kota Palembang Thabrani melalui Kepala Bidang Lingkungan Henny Kurniawati mengatakan, saat ini kualitas udara di Kota Palembang masih dalam keadaan berbahaya, karena itu warga diminta untuk tetap menggunakan masker dan mengurangi aktivitas di luar rumah.
Dari sampel titik pantau yang dilakukan BLH, menurut dia, kualitas udara sudah di atas 100 PM10. Titik pantau tersebut antara lain simpang Charitas, Bundaran Air Mancur, Jembatan Ampera, Jalan Merdeka, Kambang Iwak, dan kawasan Benteng Kuto Besak (BKB).
“Sejak dilakukan pemantauan pada 7-8 Oktober hingga hari ini (kemarin, red) kualitas udara sangat  tidak sehat yaitu mencapai 120 indeks standar pencemaran udara, padahal dalam kondisi normal di bawah 100,” terangnya
Menurut dia, setiap hari petugas mengecek kualitas udara di wilayah Kota Palembang. Partikel debu yang tebal akibat asap kebakaran hutan menjadi penyebab utama udara dalam kondisi berbahaya. Sejauh ini upaya mengantisipasi dampak asap tersebut pada kesehatan dengan mengurangi aktivitas di luar rumah. Selain itu, warga yang terpaksa ke luar rumah harus mengenakan masker, dan perbanyak minum air putih. (nni/asa/ce2)