>> Home
Turnamen Tenis Sumeks Open 2013
PALEMBANG - Technical Meeting Turnamen Tenis Sumeks Open 2013 telah rampung digela...Readmore
Tangkal Badai Pegunungan
PALEMBANG - Sriwijaya FC belum pernah menang saat berlaga ke markas Persiwa Wamena di...Readmore
Jual 15 Unit per Bulan
PALEMBANG – Penjualan Honda Brio di PT Maju Mobilindo -- Main Dealer Honda Palemban...Readmore
Putusan Sesuai Perintah MK
PALEMBANG - Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kota Palembang segera mengeluarkan surat kepu...Readmore
Nenek Delapan Cucu Masuk Bui Lagi
PALEMBANG – Walau pernah mendekam di penjara selama 1 tahun  bulan 4, yang bebas t...Readmore
  • Turnamen Tenis Sumeks Open 2013

    PALEMBANG - Technical Meeting Turnamen Tenis Sumeks Open ...

  • Tangkal Badai Pegunungan

    PALEMBANG - Sriwijaya FC belum pernah menang saat berlaga ke...

  • Jual 15 Unit per Bulan

    PALEMBANG – Penjualan Honda Brio di PT Maju Mobilindo -- M...

  • Putusan Sesuai Perintah MK

    PALEMBANG - Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kota Palembang seger...

  • Nenek Delapan Cucu Masuk Bui Lagi

    PALEMBANG – Walau pernah mendekam di penjara selama 1 tahu...

NEWS UPDATE

Stop
Play
Kuno, ELT SSJ 100 tak Terdeteksi Radar

JAKARTA - Klaim Sukhoi Civil Aircraft Corporation, perusahaan yang membangun Sukhoi Super Jet (SSJ) 100 bahwa pesawatnya menggunakan teknologi terkini patut dipertanyakan. Buktinya Emergeny Locator Transmitter (ELT) pesawat nahas tersebut menggunakan frekuensi lama. Akibatnya jelas, pesawat tersebut jadi lebih lama ditemukan.
Kepastian itu disampaikan oleh Ketua Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT), Tatang Kurniadi, usai mengevakuasi alat tersebut dari jurang jatuhnya SSJ 100. Setelah dicek, ternyata ELT tersebut masih menggunakan model lama dengan frekuensi di kanal 121.5, 203 MHz, sedangkan yang terbaru frekuensinya berjalan di 121.5, 203 MHz.
“Padahal, Indonesia sudah pakai frekuensi terbaru,” ujar Tatang. Perbedaan frekuensi itulah yang membuat alat tersebut lantas tidak berfungsi dengan baik. Terlebih, posisi jatuhnya bangkai pesawat di dalam jurang membuat sinyal di frekuensi lama tidak bisa keluar.
Itulah kenapa, saat menerima kabar SSJ 100 hilang kontak tim pencari tidak bisa segera menemukan bangkai pesawat. Pola pencarian dilakukan dengan cara yang lebih luas, yakni menyisir lokasi di sekitar kontak terakhir dengan ATC Atang Sandjaja. Basarnas saat itu juga heran kenapa ELT tidak terdeteksi.
Bahkan, juru bicara Basarnas Gagah Prakoso mengungkapkan, tidak hanya satelit Indonesia yang gagal menangkap frekuensi SSJ 100. Dua satelit milik negara tetangga yakni Singapura dan Australia yang menjadi backup satelit Indonesia juga bernasib sama. Idealnya, begitu kecelakaan terjadi pesawat langsung memancarkan ELT.
Dia tidak tahu pasti kenapa pabrikan Sukhoi memasang alat tersebut. Kalaupun alat tersebut merupakan standar pabrikan, terbukti tidak bisa berfungsi baik di Indonesia. Namun, untuk lengkapnya Tatang akan membawa ELT tersebut ke markas KNKT. “Akan kami selidiki lebih lanjut ELT tersebut,” imbuhnya.
Anggota Komisi I DPR Roy Suryo yang ikut ke Posko Cijeruk, Bogor berharap agar fakta itu segera ditindaklanjuti pabrikan Sukhoi. Artinya, kalau serius membuka pasar di Indonesia harusnya peralatan menyesuaikan juga. “Harus jadi koreksi kalau pesawat itu masih dipasarkan,” katanya.
Lebih lanjut dia menjelaskan, kalau ELT dulunya bernama ELBA (emergency located beacon aircraft). Alat tersebut disebutnya sudah jadi standar penerbangan sipil. Alat tersebut akan bekerja otomatis saat pesawat jatuh dengan tekanan tinggi. Dengan begitu, tim pencari bisa melakukan pencarian dengan lebih mudah dan cepat.
Saat ini, lanjut Roy, terdapat tiga jenis ELT. Yakni, ELT untuk pendaki gunung, kapal laut, dan pesawat terbang. Dinamisnya dunia penerbangan juga memengaruhi penggunaan frekuensi tersebut, kalau memaksa di 12.5 VHF yang jenis pancarannya line off sight atau lurus tidak bisa menembus gunung.
Lebih jelas lagi, juru bicara Basarnas Gagah Prakoso mengatakan kalau frekuensi di pesawat Sukhoi sudah sangat lama ditinggalkan Indonesia. Frekuensi tersebut pernah dipakai penerbangan Indonesia pada tahun 1980-an. “Akhirnya, regulasi pada 2009 menegaskan semua frekuensi ELT beralih ke 406 MHz,” tuturnya.
Di Indonesia, proses perpindahan frekuensi sendiri juga tidak secepat membalik tangan. Namun, dia memastikan sejak munculnya regulasi tersebut tidak ada lagi pesawat di Indonesia yang ELT-nya masih di kanal 121.5. Tidak hanya pesawat, disebutkan juga untuk kapal semua sudah meninggalkan frekuensi itu.
Dia lantas menjelaskan bagaimana proses penyampaian titik koordinat melalui ELT ke radar milik Basarnas. Cukup sederhana sebenarnya, saat pesawat mengalami musibah ELT lantas terpancar. Satelit menangkap sinyal tersebut dan diteruskan ke radar. “Di bumi, satelit mengirimkan data dalam bentuk koordinat,” jelasnya.
Dari titik koordinat itulah lantas di set ke Global Positioning System (GPS) untuk membaca lokasi. Begitu GPS menunjukkan ke mana arah yang harus diambil, tim pencari mulai bergerak ke lokasi. Namun, proses tersebut tidak terjadi di ELT milik Sukhoi.
Kalaupun alat tersebut menyala, sinyal yang dikeluarkan tidak bisa dideteksi radar di Indonesia, Singapura, atau Australia. Lantas, seperti yang ditulis di atas, pencarian dilakukan dengan cara manual. “Saya tidak tahu pasti, mungkin hanya Rusia atau Sukhoi saja yang pakai frekuensi lama,” terangnya.
Bukan tanpa alasan Gagah menyebut demikian. Saat ini, maskapai penerbangan rata-rata menggunakan pesawat dari pabrikan Eropa dan Amerika. Nah, dua benua tersebut sepakat untuk sama-sama menggunakan frekuensi 406 MHz. Dia yakin betul frekuensi tersebut dianut oleh beberapa negara lain mengingat dominasi pesawat Eropa dan Amerika di dunia.
Kepala Basarnas Marsekal Madya TNI Daryatmo menambahkan, pihaknya belum tahu pasti apakah ELT mengalami kerusakan atau tidak. Saat dibawa ke atas dari jurang, kondisi fisik memang lumayan bagus. Namun, apakah saat kecelakaan berfungsi atau tidak, dia tak tahu pasti.
Di luar itu, Daryatmo juga menyampaikan kalau tim SAR gabungan telah mendekati bangkai ekor SSJ 100. Seperti diberitakan sebelumnya, ekor tersebut berada di dasar jurang sedalam 500 meter dan diprediksi banyak jenazah korban. “Cuaca dan medan masih jadi kendala, tapi kami sudah dekat di ekor pesawat,” urainya.
Untuk black box, Daryatmo mengatakan belum ada di tangan tim pencari. Benda yang diduga black box sebelumnya ternyata hanya ELT, GPS, dan alat komunikasi lainnya. Jadinya, pencarian masih terus dilakukan dan asumsi black box ada di antara ekor pesawat tidak berubah.
Skenario untuk pencarian hari ini tidak berubah. Tetap kombinasi SAR udara dan SAR darat. Begitu juga dengan pola evakuasi, kalau malam hari ditemukan akan dibawa ke Jakarta melalui jalan darat atau menunggu keesokan paginya. “Ada belasan helikopter di lokasi, kalau tidak bisa diatur bisa muncul persoalan baru,” tegasnya.
Di bagian lain, delegasi Rusia terkait kecelakaan pesawat Sukhoi Superjet 100 menemui Wakil Presiden Boediono di Kantor Wapres, kemarin (14/5). Diantar Duta Besar Rusia untuk Indonesia Alexander Ivanov, selama 30 menit delegasi membicarakan seputar kecelakaan yang terjadi di Gunung Salak, Bogor, itu.
Mereka antara lain ketua delegasi khusus Rusia untuk mempelajari kasus SSJ 100 Yuri Slyusar dan Presiden United Aircraft Corporation Mikhail Pogosyan. Sementara Wapres antara lain didampingi Wamenhub Bambang Susantono, Dirjen Perhubungan Udara Herry Bhakti, dan Plh Dirjen Amerika Eropa Kemenlu M Wahid Supriyadi.
Juru Bicara Wapres Yopie Hidayat mengungkapkan, dalam pertemuan tersebut, delegasi Rusia menegaskan akan ikut membantu dan menyelidiki penyebab kecelakaan pesawat SSJ 100. Yopie menyebut tiga kelompok bantuan, yakni SAR, identifikasi korban, dan analisa penyebab kecelakaan.
“Tim dari Rusia ini ketiganya berada di bawah kendali instansi Indonesia,” tegas Yopie. Dengan begitu, dia menjamin prosesnya akan berlangsung transparan. Justru dengan bantuan itu prosesnya akan berjalan lebih mudah. “Kredibel dan transparan juga menjadi kepentingan Indonesia,” imbuhnya.
Yopie menepis ada maksud lain dari kedatangan delegasi Rusia tersebut kepada Wapres. Menurutnya, pertemuan tersebut hanya bersifat audiensi. “Wajar jika mereka melakukan courtesy call ke wapres,” katanya.
Apakah ada permintaan agar black box untuk dibawa ke Rusia? Menurutnya, permintaan tersebut tidak ada. Namun Yopie menegaskan, analisa black box akan dilakukan di Indonesia. “Kita menggunakan ketentuan bahwa itu menjadi wewenang negara tempat lokasi kejadian kecelakaan,” katanya. Namun dia tidak merinci bisa tidaknya KNKT untuk menganalisa black box itu. “Tanya KNKT ya,” ucapnya.
Dalam pertemuan tersebut, Wapres menyatakan, musibah kecelakaan tersebut tidak sampai mengganggu hubungan kedua negara. Wapres juga menginstruksikan penuntasan penyelidikan secepatnya. “Wapres meminta supaya cepat dituntaskan dan memberi penjelasan yang kredibel pada dunia internasional yang memberi perhatian pada kejadian ini,” urainya.

Hasil Identifikasi Jenazah
Diumumkan Bersamaan

Pengumuman hasil identifikasi jenazah korban pesawat SSJ 100 tampaknya bakal berlangsung lama. Tim Disaster Victim Identification (DVI) Mabes Polri mengaku akan mengumumkan identitas ke-45 jenazah secara bersamaan, tidak satu persatu. Menurut Kepala Rumah Sakit Polri Dr. Soekanto, Brigjen Pol Agus Prayitno, cara tersebut dilakukan agar tidak terjadi kesalahan dalam proses pendistribusian jenazah kepada pihak keluarga.
“Kita umumkan bersamaan juga agar bagian tubuh korban yang diserahkan sudah utuh dan tidak ada yang kurang. Memang butuh waktu lama, karena itu kita minta pihak keluarga untuk bersabar,” jelasnya di Gedung RS Polri, kemarin.
Agus menuturkan, estimasi waktu identifikasi jenazah sekitar dua minggu. Prediksi tersebut bisa meleset. Namun, dia mengungkapkan pihaknya terus berupaya bergerak cepat dalam melakukan proses identifikasi. “Setiap kali kita menerima kantong jenazah, langsung kita kerjakan,” jelasnya.
Hingga kemarin, lanjut dia, sudah ada 25 kantong jenazah yang masuk ke RS Polri. Rinciannya, 21 kantong berisi potongan tubuh korban (body parts), sementara sisanya berisi properti milik korban. “Tim DVI sudah lakukan pemeriksaan terhadap 22 kantong jenazah. Tadi pagi, datang lagi tiga kantong jenazah dan saat ini dilakukan pemeriksaan post morthem. Saat ini laboratorium DNA kita sudah running, tujuannya agar segera bisa dicocokkan dengan DNA dari body parts yang diperoleh,” ujarnya.
Direktur Eksekutif Disaster Victim Identification (DIV) Polri, Kombes Pol Dr Anton Castilani, menambahkan, proses identifikasi korban memang tidak bisa dilakukan dengan terburu-buru. Sebab, hal tersebut membutuhkan tingkat ketelitian yang tinggi. Apalagi, nantinya tim DVI harus merekonstruksi kembali potongan-potongan tubuh jenazah hingga menjadi kesatuan yang utuh. “Mohon pihak keluarga bersabar, kita berusaha tidak ada sepotong kecil dari bagian tubuh korban yang tidak sampai pada keluarga yang benar,” kata Anton.
Kadis Penum Mabes Polri Boy Rafli Amar mengatakan, sampai kemarin, tim DVI masih menunggu proses evakuasi yang belum tuntas. Dia meyakini, masih akan datang lagi potongan-potongan tubuh yang dievakuasi dari lokasi jatuhnya pesawat (crash site). “Potongan-potongan tubuh yang sudah kita terima, sifatnya masih parsial, padahal kita harus mendapatkan gambaran secara utuh untuk memperoleh identitas korban. Kita menggunakan pemeriksaan DNA karena tingkat akurasinya paling tinggi,” ungkapnya.
Karena itu, lamanya proses evakuasi juga tidak bisa diprediksi. Anton menuturkan, jika data post morthem dari potongan tubuh korban masih kurang, pihaknya akan berkoordinasi dengan pihak Basarnas untuk kembali melakukan pencarian. “Kalau masih banyak bagian tubuh dari hasil pemeriksaan post morthem yang masih perlu dilengkapi, kami akan hubungi Basarnas kira-kira apakah bagian-bagian itu bisa ditemukan di lokasi,” urainya.
Terkait identifikasi properti, Boy menuturkan hal tersebut melibatkan tim penyidik dari Bareskrim Mabes Polri. Keterlibatan tim penyidik tersebut diharapkan bisa mempercepat proses identifikasi jenazah. Dia juga menyatakan semua properti milik korban akan dikembalikan pada pihak keluarga. “Barang-barang milik korban akan dikembalikan. Tapi jika ada barang-barang yang masih terkait kepentingan investigasi, maka masih dalam penguasaan petugas,” ujar dia.
Ketika ditanya apakah terdapat jenazah utuh yang tergantung di parasut, Agus langsung membantah jika terdapat jenazah yang masih dalam keadaan utuh. Bahkan, dia menegaskan tidak ditemukan adanya parasut. “Hasil pemeriksaan tidak ada parasut dan tidak ada yang body yang utuh,” tegasnya. (dim/fal/ken/ce1)


Add this to your website
 

--------------------------------------------------

Harian Pagi Sumatera Ekspres
Gedung Graha Pena Jl. Kol H Barlian No.773 KM.6,5 Palembang 30152
Telp : (0711) 411768, 415263, 415264
Fax :  (0711) 420066
Info Berlangganan : (0711) 7739888
Info Layanan Iklan : (0711) 420078