Kam12182014

Last update10:42:45 AM

Back Anda disini: Home

Artikel

Eks Mucikari Dibekali Ilmu Konfeksi

KEDIRI - Gelak tawa selalu menghiasi acara pelatihan konfeksi yang diikuti para mucikari eks lokalisasi Semampir. Acara yang berlangsung sejak Jumat itu tidak hanya mengajari mereka teori, tetapi juga praktik membuat baju. 
Satu per satu mucikari diminta praktik menggunting kain kaus berlapis lima yang sudah disiapkan pelatih. Saat teman-temannya mendapatkan giliran praktik, peserta lain langsung bersorak hingga berteriak memberi semangat. ''Ayo Pak Sarji pasti bisa!'' teriak para peserta lain saat Ketua RT 29, Semampir, Sarji ikut praktik memotong kain.
 
Endang Utami, 55, mengaku senang dengan praktik memotong kain yang baru diikutinya. Perempuan yang pernah mempunyai delapan PSK di rumahnya tersebut tampak semakin antusias. Sebab, mereka tidak lagi belajar tentang materi, tetapi sudah diminta praktik langsung. Jadi, suasananya lebih menyenangkan.
 
Perempuan yang mendapatkan bagian mesin jahit dan mesin obras itu berharap bisa menuntaskan pelatihan. Termasuk saat magang di sentra konfeksi di Tulungagung. ''Saya harus bisa. Selain untuk pekerjaan baru, saya senang bisa guyon di sini dengan teman-teman untuk hiburan,'' katanya sambil terkekeh melihat teman-temannya ribut praktik.
 
Melihat antusiasme peserta, dinas koperasi dan UMKM harus segera menyiapkan lokasi di eks lokalisasi Semampir untuk memindah puluhan set mesin konfeksi tersebut. Sebab, gedung di RW 5 yang rencananya menjadi tempat sementara memiliki daya listrik yang kecil. Padahal, mesin-mesin itu membutuhkaan daya listrik yang besar.
 
Kepala Dinas Koperasi dan UMKM Triyono Kutut yang dikonfirmasi terkait dengan hal tersebut mengakuinya. ''Kami sudah membuat telaah staf kepada bapak wali kota terkait hal ini. Biasanya nanti disposisi ke DKP (dinas kebersihan dan pertamanan, Red) yang menangani kelistrikan,'' tuturnya saat ditemui di kantornya Jumat lalu.
 
Sembari menunggu kesiapan balai RW 5, dia menyebutkan bahwa alat-alat konfeksi itu akan tetap diletakkan di dinkop. Tiga bulan ke depan, setelah peserta selesai mengikuti pelatihan dan magang, mesin-mesin tersebut baru dipindah ke sana. ''Kalau peserta sudah benar-benar bisa, nanti alatnya akan dipindah ke sana,'' pungkasnya. (ut/mas/any)