Back Anda disini: Home

Artikel

Belum Terbukti Picu Kanker

SELAMA ini, banyak yang mengira bahwa pemberian bahan tambahan makanan (BTM) bisa memicu kanker. Padahal, belum ada penelitian yang menegaskan tentang hal itu. Para ahli gizi kini juga menyepakati bahwa pemberian BTM tidak mengakibatkan kanker.

 AHLI gizi dari Instalasi Gizi RSUD dr Soetomo, Dwi Eko Martini DCN mengatakan, pada pertemuan ahli gizi di Surabaya akhir Januari lalu, disepakati bahwa BTM sebagai pemicu kanker belum terbukti secara ilmiah. “Kami memberikan pandangan kepada masyarakat bahwa tidak ada indikasi
BTM menjadi salah satu penyebab kanker,” jelas Eko.
    Yang termasuk BTM adalah MSG (monosodium glutamat), pemanis, perasa, dan pemanis makanan. Eko lantas mencontohkan MSG. Dia mengatakan, bahwa MSG berbahan dasar nabati, yakni sari tetes tebu dan beberapa perasa. Dalam jumlah atau kadar tertentu yang berlebih, MSG bisa membuat kepala pusing.
    ”Karena itu, pemakaian MSG lebih baik sesuai dengan takaran,” tuturnya. Pemakaian MSG bisa jadi memicu kanker jika dikonsumsi bersama makanan yang mengandung zat pengawet atau bahan kimia lain. Misalnya, saat makan bakso, MSG sering ditambahkan. ’’MSG-nya mungkin tidak berbahaya. Tapi, bagaimana dengan baksonya. Bisa jadi, salah satu bahannya dari boraks. Hal itu yang memungkinkan memicu kanker,” ucapnya.
    Eko menjelaskan, bahan makanan lain yang diawetkan seperti ikan asin justru lebih berbahaya. Selain diawetkan, pengolahan ikan asin ditenggarai memakai bahan berformalin. Bisa juga mi basah yang pengolahannya kerap mengandung pengawet dinilai lebih berisiko memicu kanker.
    Kendati demikian, tidak ada salahnya membatasi MSG. Pakailah dengan takaran yang bijak. Jika memang yang dibutuhkan untuk empat orang, tuangkan takaran sesuai dengan porsi. Menurut Eko, reaksi suatu bahan terhadap tiap individu tidak sama. Ada yang merasa pusing bila mengonsumsi dalam jumlah sedikit.
    Ada pula yang tidak masalah mengonsumsi dalam jumlah banyak. ”Respons tiap individu berbeda. Konsumsilah sesuai dengan kebutuhan dan secukupnya saja,” jelas Eko. (kit/ai/ce4/ndy)