Back Anda disini: Home

Artikel

Tangkap Kapal Tanker Berbendara Asing

PALEMBANG - Kapal tanker berbendera Mongolia yang tak jelas asal dan tujuannya masuk ke perairan Indonesia, sudah beberapa kali terjadi. Anehnya, kapal tanker tanpa muatan itu seluruh anak buah kapal (ABK) merupakan warna negara Indonesia. Seperti yang terjadi Rabu malam (25/12/2013), kapal tanker berbendera Mongolia MT Awang Bazao GT 500, kandas di perairan Tanjung Berakit, Kabupaten Bintan, Provinsi Kepulauan Riau (Kepri).

    Kapal dengan sembilan ABK itu kandas di atas terumbu karang Malang Berdaun, 1,5 mil dari daratan Berakit atau di titik koordinat 01” 14 N dan 104” 32E. Kepala Kantor SAR Tanjungpinang, Abdul Hamid, kala itu mengatakan tidak tahu dari mana dan tujuannya tanker kapal dalam kondisi kosong itu. Mereka hanya fokus kepada masalah penyelamatan jiwa ABK.
     Yang terbaru, Sabtu (22/2), sekitar pukul 08.40 WIB, giliran Pangkalan TNI Angkatan Laut (Lanal) Palembang, berhasil menangkap kapal tanker juga berbendera Mongolia di perairan Sumatera Selatan (Sumsel). Kapal tanker bernama MT Lokong itu bermuatan 280 ton, dengan nakhoda Ruddy Sulong. Dia dan tiga ABK-nya merupakan warna negara Indonesia.
“Penangkapan terjadi di muara antara Tanjung Api-Api dan Bangka, berkat adanya laporan dari intelijen Lanal yang ditindaklanjuti,” kata Komandan Lanal Palembang Letkol Laut (P) I G Merta Yasa SSos, kepada wartawan, kemarin (23/2).
    Lanjutnya, kapal tanker itu datang dari arah Singapura yang diduga menuju perairan Palembang. Sempat terjadi kejar-kejaran karena kapal tersebut sedang bergerak, namun hal tersebut tidak berlangsung lama. “Setelah berhasil dikejar, anggota patroli Lanal melakukan pemeriksaan dan ternyata kapal yang dinakhodai Ruddy Sulong dengan tiga ABK-nya itu tidak memiliki izin berlayar,” ungkap Danlanal.
     Untuk kepentingan pemeriksaan dan penyelidikan, kapal tanker berbendera Mongolia tanpa muatan itu diamankan di dermaga Lanal Palembang.  “Kapal tanker dalam keadaan kosong, diduga akan digunakan dalam kegiatan illegal tapping, namun hal ini belum bisa dipastikan karena masih dalam pengembangan tahap penyelidikan dan penyidikan,” tegasnya.
     Untuk sementara, pelanggaran yang terjadi karena kapal itu tidak memiliki Surat Persetujuan Berlayar (SPB), tidak ada Port Clearance, tidak memiliki pengoperasian kapal asing. Kemudian crew list tidak sesuai, dimana berdasarkan dokumen ada satu nakhoda dengan enam ABK, sementara yang terjadi ada satu nakhoda dengan tiga ABK. Dari surat yang tertera, kapal tanker MT Lokong itu milik Black Blade Investment INC Panama.
    Danlanal menjelaskan, nakhoda dan tiga ABK itu tidak dilakukan penahanan, hanya dalam pengawasan di kapalnya selama dilakukan pemeriksaan. “Kami biarkan tinggal di kapal, namun tetap dalam pengawasan. Kapal juga kami lumpuhkan, dengan mengambil kompas, alat navigasi, dinamo starter dan kemudi kapal dikunci,” terangnya.
    Menurut Danlanal, kapal tanker MT Lokong itu melanggar Pasal 323 UU No 12/2008 tentang Pelayaran,  dengan ancaman pidana penjara selama lima tahun dan denda sebesar Rp600 juta. “Lanal memiliki wewenang dalam melakukan penyidikan dan pemberkasan hingga diserahkan ke Kejaksaan Negeri Palembang untuk masuk dalam proses persidangan,” jelasnya.
    Sementara nakhoda kapal tanker MT Lokong, Ruddy Sullong, terkesan banyak berkelit saat ditemui di atas kapalnya. Ketika ditanya, dia mengatakan berasal dari Pulau Jawa. Soal tujuannya dari arah Singapura, awalnya Ruddy mengaku hendak ke Pulau Jawa. Tapi kemudian berubah hendak ke Palembang.
 Termasuk siapa bosnya, dia hanya mengaku bosnya di Palembang tapi tidak tahu siapa namanya. “Tidak tahu untuk apa bawa kapal, kami hanya kerja dan menjalani perintah. Ini baru pertama kami melintas dan langsung ditangkap,” tukasnya. (cj8/air/ce1/ndy)