Back Anda disini: Home

Artikel

Pembunuh Sadis Terpidana Mati (1)

Majelis hakim Pengadilan Negeri (PN) Sekayu, Selasa lalu (18/2) telah menjatuhkan vonis mati kepada terdakwa Abdullah Rusik (32). Dia merupakan pembunuh sadis dan keji, yang memenggal kepala Iskandar (39) pada 7 Agustus 2013 lalu. Kepala Iskandar lalu dimasukkannya dalam kantong plastik, digantung di pondok tempat bermain biliar.

 
YUDHI AFRIANDY -  Sekayu
 
    “MENYATAKAN terdakwa (Rusik) telah terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah, melakukan tindak pidana pembunuhan berencana sebagaimana diatur dalam Pasal 340 KUHP jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP,” ucap ketua majelis hakim, Anisa Bridigestirana SH, saat membacakan putusannya kala itu.
    Terdakwa Abdullah Rusik dijatuhi hukuman pidana mati. Sedangkan untuk kedua rekannya, terdakwa Indra Atmaja (33) dan Dobi Sugara (23), dijatuhi hukuman lebih ringan. Terdakwa Indra Atmaja dihukum 15 tahun penjara, sedangkan Dobi 14 tahun penjara. Atas putusan tersebut, Zainal Arifin SH selaku penasihat hukum ketiga terdakwa menyatakan pikir-pikir dahulu menerima atau mengajukan upaya banding.
    Bagaimana terpidana mati Abdullah Rusik menjalani hari-harinya di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) II B Sekayu? Puluhan sepeda motor berjejer di halaman parkir Lapas II B Sekayu yang berlokasi di Jl Inpres Penjara, Kelurahan Serasan Jaya, saat wartawan koran ini datang beberapa waktu lalu.
    Sejumlah orang terlihat pula tengah duduk, menunggu di ruang di ruang jenguk. Sementara pintu lapas masih tertutup rapat. Beberapa kali wartawan koran ini memanggil dan mengetuk, baru keluar petugas membukakan pintu.  “Mau bertemu siapa, Pak,” tanya sang sipir.
      Begitu diutarakan maksud kedatangan hendak bertemu Rusik, sipir itu  mengajak ke ruang Kasubag Tata Usaha Lapas II B Sekayu, Sugeng Prayogi SH MH. “Bila telah mengantongi izin (dari Kanwil KemenkumHAM Sumsel), baru kami tanyakan kesediaan Rusik mau tidaknya diwawancara. Semua ada aturannya. Mas,” cetus Sugeng.
     Pucuk dicinta ulam tiba, beberapa menit datanglah Kepala Lapas II B Sekayu, Rudik Erminanto BcIP SH MH. Rudik sempat berbicara kepada Sugeng, tapi intinya tetap sama, harus seizin Kanwil KemenkumHAM Sumsel. Koran ini lalu menelpon Kepala Kanwil (Kakanwil) KemenkumHAM Sumsel Budi Sulaksana SH MH, dia pun memberikan izin.
Tapi Rudik dan Sugeng, kembali mengatakan Rusik tidak mau ditemui. Mereka pun tak memberikan izin menemui Rusik, hanya mengatakan terpidana Rusik dan Indra serta Dobi, menghuni  Blok G7. Penjagaan terhadap mereka pun diperketat.  “Bahayo, Dek. Rusik biso brutal. Ngamuk dan membahayakan ratusan narapidana lainnyo. Jiwa petugas lapas jugo biso terancam, lah nekat Rusik nih,” ujar Sugeng.
Apalagi katanya, jumlah petugas Lapas II B Sekayu tidak seimbang dengan 300 warga binaan yang ada. Di dalam ruang tahanan Blok G7 itu, Rusik berserta enam narapidana lainnya.  “Tak ada perilaku aneh ditunjukkan Rusik kepada narapidana lainnya. Dirinya berperilaku seperti biasa, mulai dari bergaul dan berbicara pascavonis mati yang dijatuhkan majelis hakim PN Sekayu,” aku Sugeng.
Diungkapkan Sugeng, sebelum divonis Rusik rajin dikunjungi dan dijengkuk keluarganya. Mulai dari istri dan anaknya, serta keluarga besarnya. Tapi sejak dijatuhi hukuman mati itu, belum ada kunjungan keluarga lagi. “Kami dak tau namo istri dan anaknyo.  Kami jugo dak berani melakukan pemeriksaan sekarang ini,” cetus Sugeng sembari keluar meninggalkan ruangan, meninggalkan wartawan koran ini.
Sekian lama ditunggu, Sugeng tak kembali lagi ke ruangannya. Harapan untuk bertemu dengan Rusik pun kandas. Padahal, mungkin ada yang akan disampaikan oleh Rusik. Terpisah, penasihat hukum ketiga terpidana Rusik, Indra dan Dobi,  Zainal Arifin SH, sempat menyayangkan sikap dan tingkah laku Rusik. Selama tiga bulan menjalani persidangan di PN Sekayu, Zainal Arifin menilai sikap Rusik angkuh dan tidak menghormati majelis hakim.
Seperti, Rusik menolak memakai seragam tahanan. Kemudian  berteriak dengan nada keras di hadapan majelis hakim. “Bu hakim jatuhkan vonis mati, jangan mikir-mikir,” kata Zainal menirukan perkataan Rusik. Perbuatannya itu, menandakan tak adanya penyesalan Rusik sebagai otak pembunuhan. Dan majelis hakim lantas menjatuhkan hukuman lebih berat, dari tuntutan jaksa penuntut umum (JPU) yang seumur hidup.
Bahkan saat vonis dibacakan, Rusik duduk sambil tangan kiri menopang kepalanya dan kakinya bergoyang-goyang. “Saya sebagai kuasa hukumnya, kadang kala tak simpatik pada Rusik ini,” aku Zainal. Namun dikatakan Zainal, Rusik akan mengajukan banding atas vonis yang dijatuhkan kepadanya oleh majelis hakim PNS Sekayu.  
Rusik menilai, hukuman mati terhadapnya terlalu berat dan tak sesuai dengan rasa keadilan yang ada. Sementara menurut Zainal, Rusik yang merupakan warga Dusun II, Desa Bintialo, Kecamatan Batang Hari Leko (BHL), Muba itu irit bicara soal keluarganya. Selaku huasa hukum, Zainal pun tak mengenal baik istri dan anak Rusik, serta keluarganya. “Kami sidang hanya berempat saja (Zainal, beserta ketiga terdakwa, red). Mulai dari buat pembelaan, pleidoi, serta lainnya,” tutupnya.(*/ce1/ndy)