Back Anda disini: Home

Artikel

Nasdem Kenang Era Pemerintahan Soekarno

JAKARTA - Nuansa pemerintahan Indonesia di bawah kepemimpinan Presiden Soekarno terasa dalam apel siaga perubahan yang dilakukan Partai Nasdem di Stadion Gelora Bung Karno kemarin (23/2). Ketua Umum Partai Nasdem Surya Paloh memotivasi kader dan simpatisan partainya dengan menceritakan kiprah Indonesia era itu.
    Salah satunya saat Indonesia menjadi tuan rumah Asian Games 1962 yang juga dihelat di GBK. Namun, Indonesia tidak mengundang Israel sebagai bentuk penghormatan persahabatan dengan negara-negara Arab. Alasan serupa ditunjukkan ketika dia tidak mengundang Taiwan karena simpati dengan Tiongkok.
    Hal itu lantas memantik reaksi dari Komite Olimpiade Internasional (KOI) dengan menjatuhkan sanksi untuk Indonesia. Yakni, menangguhkan keanggotaan Indonesia. "Ini yang menarik. Indonesia tidak merasa lemah, tidak merasa tersudut. Indonesia berdiri tegap dan membusungkan dada," seru Surya Paloh yang disambut riuh tepuk tangan kader dan simpatisan Partai Nasdem.
    Dari sikap Indonesia tersebut, lanjut dia, kemudian lahir GANEFO (Games of the New Emerging Forces) atau Pesta Olahraga Negara-Negara Berkembang. Kala itu, pesta olahraga tersebut diikuti 51 negara. "Ini menunjukkan betapa besar kepercayaan diri kita sebagai suatu bangsa waktu itu," kata Paloh.
    Kepercayaan diri Indonesia saat itu, kata Surya, juga ditunjukkan saat menjadi inisiator Gerakan Non Blok (GNB). Kala itu dunia dikuasai dua blok besar, yakni barat dan timur. "Kita tetap pada keyakinan politik, tidak mau ke kiri, ke kanan, ke barat, atau ke timur, tapi melaksanakan politik bebas aktif," ujarnya.
    Paloh mengatakan, kondisinya berbeda setelah reformasi memasuki usia 16 tahun. Dia menyebut Indonesia kalah dalam kompetisi dengan bangsa lain, selain mengalami demoralisasi. Praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme, kata dia, justru makin marak. Demokrasi juga dinilai hanya menghasilkan politik transaksional.
    Begitu juga persoalan kedaulatan pangan. "Semua kita impor. Ini kesedihan kita. Petani kehilangan perasaan bangga sebagai petani. Nasib petani makin susah," tegasnya lantas mengajak untuk melakukan perubahan dalam hajatan pemilu mendatang.
    Bersamaan dengan apel siaga itu, Partai Nasdem melangsungkan pengukuhan dewan pimpinan ranting (DPRt) Partai Nasdem se-Indonesia. Pengukuhan secara simbolis itu dilakukan terhadap DPRt yang berjumlah 6.678. Selain itu, dilakukan defile DPW-DPW dengan menyertakan beberapa caleg di dapil tersebut.
    Sayang, klaim 180 ribu kader yang akan membirukan GBK sepertinya tidak terjadi. Sebab, beberapa bagian tribun di dalam GBK tampak kosong. Justru banyak simpatisan yang memilih berada di luar Stadion GBK. (fal/c6/fat/ndy)