Sel09232014

Last update10:00:16 PM

Back Anda disini: Home

Artikel

Tri Rismaharini di Xiamen

Oleh: NOVI BASUKI*)
*) Researcher pada Department of Southeast Asian Studies, Xiamen University, Tiongkok, (Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya. )

TANGGAL 6 November 2012, saya menerima SMS dari Pemerintah Kota Xiamen,  Tiongkok. Isinya adalah pemberitahuan bahwa Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini pada 12–14 Desember akan berkunjung ke Kota Bangau itu. Pemkot Xiamen melalui kantor urusan luar negerinya meminta saya untuk menjadi penerjemah selama kunjungan berlangsung. Saya sanggup. Sudah seperti biasa, setiap ada kunjungan dari Indonesia, saya selalu diminta menjadi interpreter.
Bu Risma beserta enam orang lain dalam rombongannya tiba di bandara internasional Gaoqi sekitar pukul 7 malam. Sehari sebelumnya, beliau melakukan kunjungan ke Guangzhou. Guangzhou dan Xiamen punya hubungan sister city dengan Surabaya. Keesokan harinya, rombongan dibawa ke pulau kecil Gu Lang Yu.
Untuk ke sana, perjalanan harus menyebrang dengan feri. Ketika tour guide membelikan tiket, Bu Risma menyempatkan diri untuk melihatlihat kondisi sekitar. Foto-foto. Tapi, berbeda dengan pejabat kebanyakan: bukan foto pribadi. Yang diabadikan oleh Bu Risma adalah kondisi selokan, keadaan jalan, dan pelbagai tanaman yang ditanam.
Saya tidak ikut ke pulau yang dulu merupakan tempat kantor-kantor konsulat jenderal negara luar untuk Xiamen. itu. Hanya mengantar sampai rombongan masuk ke ruang tunggu untuk naik kapal –karena harus menyiapkan pertemuan dengan wali Kota Xiamen.
Entah apa saja yang dilakukan Bu Risma selama di pulau itu. Tetapi, sangat mungkin, tidak akan jauh berbeda dengan yang dilakukannya ketika di Museum Perencanaan Kota Xiamen dan Taman Yuan Bo Yuan. Dua tempat itu adalah destinasi Bu Risma setelah Pulau Gu Lang Yu. Saya turut menemani. Menerjemah. Di museum perencanaan, pemandu menjelaskan master plan pembangunan kota: mulai dari sejarah Kota Xiamen yang dulu hanya desa pesisir kecil-miskin, kemudian menjadi daerah khusus ekonomi, lalu mendapat penghargaan dari PBB sebagai Kota Layak Hidup, berhasil membangun terowongan bawah laut pertama di Tiongkok pada 2010, dan berencana pada 2020 akan menyelesaikan pembangunan kereta bawah tanah, bandara baru, kota baru, pusat kapal pesiar, dsb. Terhadap apa yang disampaikan oleh pemandu itu, Bu Risma tidak banyak berkomentar. Menyimak.
Hanya sesekali saja bertanya. Juga demikian ketika di Taman Yuan Bo Yuan. Bu Risma sangat jarang menimpali uraian dari Kepala Dinas Lingkungan Xiamen Cai Yunxia yang memandunya langsung. Saya jadi teringat Deng Xiaoping, pelopor kebijakan reform and openingup 1978. Pada awal kebijakannya itu diberlakukan, Deng melakukan kunjungan ke Jepang. Ketika naik Shinkansen, dia diberi penjelasan oleh pemerintah setempat, perihal kecepatan kereta-cepat ini. Deng hanya diam. Tidak berkata sepatah pun. Bai Yansong, wartawan ternama Tiongkok, dalam satu dialog di televisi, memberikan komentar untuk ini: ”Deng Xiaoping barangkali sudah nge-fly memikirkan negaranya”.
Ternyata benar. Setelah penjelasan usai, Deng angkat bicara. ”Kita (Tiongkok) telah terlalu terbelakang. Sudah tidak bisa hanya dengan berjalan untuk mengejar ketertinggalan. Kita harus berlari!” katanya. Saya yakin, kala itu, Bu Risma juga sedang memikirkan masa depan Surabaya –mungkin juga Indonesia– laiknya Deng memikirkan masa depan Tiongkok.
Barangkali, Bu Risma berkata begini dalam hatinya: ”Surabaya tidak bisa hanya dengan berlari, apalagi berjalan. Kita harus terbang!” Pertemuan dengan wali Kota Xiamen dihelat jam setengah tujuh malam, langsung setelah Bu Risma dari Taman Yuan Bo Yuan. Beliau tidak sempat istirahat. Padahal, kondisi kesehatannya kurang baik. Sebelum pertemuan, Bu Risma minta air hangat untuk minum obat. Saya kemudian tahu dari dokter pribadinya, yang juga termasuk dalam rombongan, bahwa kondisi Bu Risma memang sudah tidak fit sejak sebelum kunjungan ke Xiamen ini.
Sakit pun masih bekerja. Wali Kota Xiamen Yu Keqing memuji keberhasilan Bu Risma memimpin Surabaya. Yu juga tahu bahwa Bu Risma masuk nominasi wali kota terbaik dunia. Masih segar dalam ingatan saya, jawaban Bu Risma waktu itu: ”Keberhasilan yang didapat Surabaya tidak lepas dari peran serta masyarakat. Sebagai pemimpin, saya harus bertanggung jawab terhadap amanah yang diberikan rakyat kepada saya dengan bekerja untuk mereka sebaik-baiknya.”
Saat jamuan makan malam, Yu bertanya apakah semua wali kota di Indonesia dipilih secara langsung oleh rakyat. Bu Risma mengiyakan. ”Caranya?” tanya Yu. ”Partai politik adalah kendaraannya,” sahut Bu Risma, ”hanya saja, saya tidak paham politik.
Karena tujuan saya memang bukan berpolitik,” imbuhnya. Yu tersenyum menanggapi: ”Setahu saya, Bu Risma ke Xiamen pertama kali ketika masih menjabat sebagai kepala dinas pertamanan. Sekembalinya dari sini, langsung terpilih menjadi wali kota. Sekarang statusnya sebagai wali kota, sepertinya, sepulangnya nanti, akan langsung terpilih jadi gubernur atau bahkan presiden.” Bu Risma tertawa.
Besoknya, jam 6 pagi, rombongan melanjutkan perjalanan ke Beijing. Kondisi fisik Bu Risma belum sepenuhnya pulih.