Sab07042015

Last update04:00:04 PM

Back Anda disini: Home

Artikel

Diduga WNI, Pembajak Kapal Tanker Akan Dilindungi Kemenlu

JAKARTA - Pemerintah berjanji memberikan perlindungan terhadap pembajak kapal tanker Orkim Harmony, jika benar delapan di antara pembajak yang ditangkap di Vietnam tersebut berkewarganegaraan Indonesia. 
 
Menurut Menteri Luar Negeri Retno Marsudi, perlindungan yang dapat diberikan paling tidak mendampingi WNI yang tengah bermasalah hukum di luar negeri. Karena itu Kemenlu telah mengirimkan tim beranggotakan empat orang. Tujuannya, untuk memverifikasi terlebih dahulu, apakah benar dari para pembajak tersebut ada yang berkewarganegaraan Indonesia. 
 
“Dari sejak ada info, sejak mereka ada di otoritas Vietnam, kami sudah lakukan komunikasi. Kami sudah kirim empat orang. Pertama kami minta akses kekonsuleran," ujar Retno, Senin (22/6) malam.
 
Retno mengatakan, tim hingga saat ini masih berada di Vietnam. Karena itu belum dapat memberi keterangan lebih jauh. Meski begitu Retno kembali menegaskan, Kemenlu pendampingan hukum akan diberikan jika memang benar ke delapan perompak merupakan WNI.
 
“Kami ingin menjamin tak ada hak-hak hukum yang dikurangi selama proses (pemeriksaan) berlangsung. Jadi hal pertama yang kami minta adalah akses konsuler. Rencananya hari ini (Senin) akses konsuler sudah diberikan," ujar Retno.
 
Saat ditanya apakah akses telah diberikan pemerintah Vietnam, Retno mengaku belum dapat memastikannya. Namun begitu ia menegaskan, akses sangat dibutuhkan sebagai langkah awal untuk melakukan verifikasi status kewarganegaraan delapan perompak tersebut.
 
Selain telah mengirimkan tim, Kemenlu kata Retno, saat ini juga masih terus berkoordinasi dengan KBRI di Kuala Lumpur, KBRI di Hanoi, dan KJRI di Ho Chi Minh City. 
 
Sebelumnya diberitakan, delapan perompak yang membajak kapal tanker berbendara Malaysia, MT Orkim Harmony akhirnya ditangkap saat mencoba melarikan diri pada Jumat (19/6). Sayangnya mereka tidak berhasil. 
 
Sekitar 08:30 waktu setempat, Kamis (18/6), para perompak membebaskan terlebih dahulu sejumlah ABK. Lalu melarikan diri menggunakan sekoci milik MT Orkim Harmony menuju Vietnam, sekitar 175 km dari lokasi kapal tanker tersebut.
 
Para pembajak sempat meloloskan diri setelah mengancam kapten kapal untuk tidak membunyikan alarm dan meminta empat kapal Angkatan Laut Malaysia (RMN) yang mengawasi tanker menjauh setidaknya 9 km dari MT Orkim Harmony.
 
Tetapi pada Jumat (19/6) sekitar pukul 06:30, atau sekitar 10 jam setelah meninggalkan kapal tanker - bajak laut ditangkap, terapung sekitar 148 km di lepas pantai Vietnam, dekat Tho Chu Island. 
 
Informasi berkembang menyebut, para perompak antara lain bernama Hendry A asal Pondok Gede, Jakarta. Kemudian Ruslan asal Natuna, Anambas, Fauji (Medan, Sumut), Jhon Danyel Despol (Kisaran, Sumut) dan Abher (Barelang, Batam). Kemudian Kurniawan, Randi Andilya dan Ahjas. Namun informasi belum dapat dipastikan kebenarannya. Kemenlu masih harus memverifikasi terlebih dahulu. (gir/jpnn)