| Inginkan Moerdiono Akui Darah Dagingnya |
|
|
|
| Kamis, 29 Juli 2010 01:58 | |||||||||
Status Muhammad Iqbal Ramadhan, anak hasil perkawinan siri Machica
Mochtar dengan Moerdiono, sampai saat ini “tidak jelas”. Dokumen kelahiran remaja 13 tahun itu tak menyebut Moerdiono sebagai ayah. Kasus itu merupakan imbas dari perkawinan siri yang tidak mengakui anak hasil perkawinan “di bawah tangan” tersebut. “Saya akan terus memperjuangkan status ayah anak saya,” ujar Machica saat ditemui di kediamannya di Jalan H Toran, Bintaro, Jakarta Selatan, kemarin (27/7). Pedangdut yang ngetop lewat lagu Ilalang itu tak lagi menempati rumah pemberian Moerdiono di Jalan Perkutut, kompleks perumahan Bintaro sektor dua. Machica memilih tinggal di rumah orang tuanya. Padahal, jaraknya dengan rumah pemberian Moerdiono tak lebih dari 400 meter. “Rumah pemberian Pak Moer dikontrakkan. Kan bisa untuk pemasukan juga. Saya dan anak-anak tinggal di sini saja (di rumah orang tua Machica, red),” ujar wanita berambut sepinggang itu. Di rumah yang berdiri di atas lahan seluas 300 meter persegi itu Machica tinggal bersama ibunya, Rosmiyati Mochtar, Aqsa Nur Azeezah (3), anak keduanya; dan suami yang dia nikahi pada 2001, Khalid Mahmod. Ayah Machica, Mochtar Ibrahim, juga tinggal di rumah tersebut sebelum meninggal tiga tahun silam. “Rumahnya kan lumayan besar. Ada delapan kamar di sini,” kata wanita penggemar pisang tanduk itu. Machica merupakan pedangdut yang populer pada 1990-an. Popularitas itu pula yang mengantarkan Machica mengisi acara kampanye Golkar pada 1992 di Bali. Di situlah wanita kelahiran Makassar pada 1970 ini bertemu Moerdiono yang kala itu mensesneg yang juga pembesar di partai pemerintah tersebut. Saat itu Machica masih kinyis-kinyis. Usianya baru 22 tahun. Moerdiono pun kepincut kendati sudah punya istri sah dan empat anak. Dia lantas merayu Machica dengan memberangkatkannya ke Tanah Suci bersama kedua orang tua pedangdut itu pada 1993. “Pintar dia. Begitu pulang haji, saya dikawinin,” ujarnya lantas tersenyum. Perkawinan itu dilakukan secara siri karena Moerdiono sebagai pejabat negara tak bisa berpoligami. Meski begitu, semua rukun pernikahan dipenuhi. Mulai saksi, mahar, hingga ijab dan kabul. “Setelah perkawinan, setiap hari kami selalu dekat. Kalau orang berkata, romantislah. Meski begitu, yang namanya rumah tangga, pasti ada liku-likunya,” tutur Machica mengenang masa-masa bulan madu dengan politikus Golkar yang kini menyeberang ke Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) itu. Kendati pada awalnya romantis, pada 1998 keduanya berpisah. Tidak jelas kapan persisnya. Sebab, sejatinya mereka tak pernah bercerai. Karena pernikahannya siri, perceraian tidak bisa dilakukan di pengadilan agama. “Pokoknya, dia meninggalkan saya. Saya telepon maupun saya kirimi surat, tidak pernah dibalas. Udah kayak orang mati saja,” kata Machica. Saat perpisahan itu terjadi, Iqbal baru berusia setahun. Padahal, sejak anak tersebut lahir, Moerdiono tampak senang. Dia kerap menggendong dan bermain dengan Iqbal. Namun, lantaran kebersamaan itu cuma setahun, Iqbal tak pernah tahu masa-masa indah bersama ayah biologisnya itu. “Mana ada bayi setahun mengingat itu semua. Kecuali saat itu Iqbal berumur lima tahun,” ujarnya. Sejak meninggalkan Machica, Moerdiono juga tak pernah berkomunikasi Iqbal. Dia, kata Machica, juga tak mengirimkan duit lagi. “Kalau hati memang bisa beralih ke yang lain. Tapi, kalau hubungan darah dan daging, masak harus putus gara-gara kami berpisah,” katanya. Menurut Machica, rumah tangganya dengan Moerdiono bubar lantaran ada pihak ketiga. Namun, bukan istri pertama Moerdiono yang membuat mereka berpisah. Moerdiono, kata Machica, punya perempuan lain. Dia lantas menyebut seorang desainer ternama yang kini menjadi anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD). Tapi, Machica tak tahu persis status “hubungan” keduanya. Machica mengakui bahwa dirinyalah yang meminta suami sirinya itu untuk mengakhiri hubungan. Sebab, sebagai “istri”, dia merasa dikhianati “suami”. Meski begitu, setelah itu Machica sempat goyah dan shock. “Saya seperti layangan putus,” ujarnya mengingat masa-masa suram itu. Namun, dia tak menyerah. Penggemar singkong goreng ini masih bisa mencari duit dengan menyanyi dari panggung ke panggung. Apalagi, pada saat itu beberapa lagunya sering diputar di radio dan televisi. Terutama lagu berjudul Semua Untukmu dan Ilalang. “Lumayan. Paling tidak saya bisa menghidupi anak-anak meski tidak mewah,” katanya. Machica mengakui, dirinya memang tak banyak muncul di layar kaca. Dia lebih sering tampil di acara-acara off air di daerah-daerah. Saat itu, untuk sekali tampil, dia dibayar Rp20 juta hingga Rp30 juta. Kalau borongan seminggu hingga dua minggu, dia mendapat bayaran Rp10 juta per hari. Itu untuk wilayah Jawa, Sumatera, Kalimantan, hingga Sulawesi. Kalau di Papua, dia dibayar lebih tinggi. Yakni, Rp20 juta per hari. Lama menjanda membuat Machica berpikir untuk kawin lagi. Namun, dia tak mau menikah dengan pejabat lagi. Dia sudah kapok. Menikah dengan pejabat, kata dia, memang bergelimang harta. Tapi, itu tidak menjamin rasa aman dan tenteram. Setiap hari dia gelisah dengan keselamatan diri dan keluarga karena selalu saja ada teror dari orang-orang yang tidak suka dengan hubungan mereka. Machica mencontohkan sejumlah selebriti yang menikah dengan pejabat. Hidup mereka kerap diwarnai konflik. Mulai konflik dengan istri tua hingga berebut warisan dengan ahli waris dari istri pertama. Ada juga yang harus menanggung malu karena sang suami ditangkap penegak hukum saat menerima duit suap plus lady escort yang mendampingi. “Lebih baik begini saja. Hidup biasa-biasa nggak apa-apa, yang penting tenteram,” katanya sambil merangkul Iqbal yang kebetulan lewat di depannya. Pada 2001, Machica kembali menunaikan ibadah haji bersama kedua orang tuanya. Di Tanah Suci, dia memohon diberi suami yang bisa menjadi imam dan pengayom keluarga. Nggak pakai lama, doa itu dijawab ketika dia sampai di Tanah Air. Saat itu dia makan di sebuah restoran di kawasan Fatmawati, Jakarta Selatan. Dia bertemu pengusaha tekstil asal Pakistan bernama Khalid Mahmod. Lima hari sejak pertemuan itu, mereka sepakat menikah. Pernikahan kedua Machica ini dikaruniai seorang anak. Namanya Aqsa Nur Azeezah yang kini berusia 3 tahun. “Ini nanti mau aku ikutkan sinetron. Wajahnya kan Indo. Campuran Indonesia-Pakistan,” katanya lantas mengelus anak manis yang rambutnya dikepang dua itu. (*/c2/ari)
3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."
|

BERITA UTAMA
-
Dihibur Artis-Bintang Iklan
Menyambut Idulfitri atau Lebaran, sejumlah ...
-
Keselamatan Penumpang Prioritas
Keselamatan dan kenyamanan penumpang mudik ...
-
Standar Nasional, Minim Rambu
Memastikan tak ada hambatan di jalur lintas ...
-
Brimob Amankan Mapolsek
Sedikitnya 10 personel Brimob Petanang, Kota Lubuklinggau turun mengamankan Mapolsek Rawas Ulu yang ...
-
Ito Calon Kuat Pengganti BHD
Waktu pergantian Kapolri Jenderal Bambang...
-
M. Ariyo, Terapi Bocah Trauma
Mendongeng bagi saya bukan profesi. Itu hobi," ujar Ariyo saat ditemui Jawa Pos pada Rabu lalu (1/9)...
-
Parpol tak Bisa Intervensi
PDI Perjuangan langsung mengambil sikap atas penetapan 14 tersangka kasus suap cek perjalanan (trave...

Terbanyak Dibaca
- Harga Baru Mitra Bisnis Sumatera Ekspres (25577)
- Tamara Bleszynski Main Film Panas (21054)
- Harga Baru Society Biz Sumatera Ekspres (20701)
- Tamara Bleszynski Main Film Dewasa (18795)
- Kemungkinan Memang Luna Maya? (10616)
- 2010, Gaji TNI Naik Lima Persen (8658)
- Anang-Syahrini “Berjodoh” (7750)
- “YU Itu Bukan Yuniza Umirtuningsih!” (7504)





Status Muhammad Iqbal Ramadhan, anak hasil perkawinan siri Machica
Mochtar dengan Moerdiono, sampai saat ini “tidak jelas”. Dokumen kelahiran remaja 13 tahun itu tak menyebut Moerdiono sebagai ayah. Kasus itu merupakan imbas dari perkawinan siri yang tidak mengakui anak hasil perkawinan “di bawah tangan” tersebut. 












