Hipertensi pada Kehamilan PDF Cetak E-mail
Rabu, 28 Juli 2010 19:49
Hipertensi (tekanan darah tinggi) adalah tekanan yang diakibatkan dari aliran darah yang dipompa oleh jantung. Darah mengalir cepat sehingga menekan dan merusak dinding arteri pada pembuluh darah.
‘‘Seseorang dikatakan memiliki hipertensi jika pada pemeriksaan, tekanan darah diatas 140 mmHg sistolik atau 90 mmHg diastolik yang biasa ditulis 140/90 mmHg,’’ujar dr Rizal Sanif SpOG (K).
Sebanyak 5 persen dari wanita  yang hipertensi sebelum kehamilan. Hal ini disebut sebagai essential hypertension. Namun, ada banyak kasus dimana wanita hamil dengan hipertensi. Bila kehamilan ini terjadi perlu penanganan yang khusus, terutama untuk menjaga kehamilan dan bayi.
Menurutnya, 5 sampai  8 persen  dari wanita mengalami tekanan darah tinggi selama kehamilan. Hal ini disebut sebagai gestational hypertension. Meskipun biasanya hilang setelah melahirkan, gestational hypertension dapat meningkatkan resiko terjadinya hipertensi kronis di masa yang akan datang.
‘‘Kadang hipertensi kronis memicu pada preeclampsia, yaitu suatu kondisi serius yang ditandai dengan peningkatan tekanan darah dan protein dalam urin yang menjadi tanda masalah pada ginjal,”jelasnya.
Ia menjelaskan, satu dari empat orang wanita dengan hipertensi kronis menjadi preeclampsia. Bila hal itu dialami mungkin akan terjadi pembengkakan pada wajah dan tangan, dan kenaikan berat badan secara tiba-tiba. Selain itu terjadi sakit kepala yang terus menerus, penglihatan kabur, pusing dan sakit perut.
“Preeclampsia dapat cepat meningkat menjadi kondisi mengancam jiwa yaitu eclampsia. Kondisi yang jarang terjadi ini dapat menyebabkan seizures dan kadang koma,”ungkapnya.
Lebih jauh dijelaskan Rizal, hipertensi dapat menurunkan aliran darah ke plasenta, yang akan mempengaruhi persediaan oksigen dan nutrisi dari bayi. Hal inilah yang dapat memperlambat pertumbuhan bayi dan meningkatkan risiko saat melahirkan.
‘‘Hipertensi juga meningkatkan resiko kerusakan tiba-tiba dari plasenta. Dimana plasenta akan terpisah dari uterus sebelum waktunya. Komplikasi ini dapat mengancam jiwa, meski begitu hal ini jarang terjadi,’’ungkap spesialis obstetric & ginekologi dari RS Dr Mohammad Hoesin Palembang.
Semua pengobatan yang gunakan selama kehamilan dapat mempengaruhi bayi. Meski beberapa obat yang digunakan untuk menurunkan tekanan darah dianggap aman digunakan selama kehamilan. “Tapi obat seperti angiotensin-converting enzyme (ACE) inhibitor tidak aman,”jelasnya.
Bagaimanapun perawatan sangat penting. Resiko untuk serangan jantung, stroke dan masalah lain yang berkaitan dengan hipertensi tetap mengancam selama kehamilan dan dapat membahayakan bayi juga.
Bila memang obat dibutuhkan untuk mengatasi tekanan darah, maka obat yang diresepkan harus yang paling aman dan dengan dosis efektif yang paling kecil. Gunakan obat seperti yang diresepkan.
‘‘Jangan menghentikan obat sembarangan atau menyesuaikan dosis sendiri,”saran Rizal.
Ditambahkannya, dokter mungkin akan merekomendasikan untuk induksi kelahiran beberapa minggu sebelum waktu melahirkan agar terhindar dari komplikasi, atau bila menderita preeclampsia atau komplikasi lainnya. ‘‘Namun, jika mengalami preeclampsia yang parah, maka akan diberikan pengobatan selama melahirkan untuk mencegah kejang,”pungkasnya. (mg39)


Comments
Add New Search
Beri Komentar
Nama:
Email:
 
Judul:
Please input the anti-spam code that you can read in the image.

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

 

HIDUP SEHAT

Stop
Play