RI Bebas Pemadaman Bergilir PDF Cetak E-mail
Rabu, 28 Juli 2010 02:16
Kesuksesan PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) mengatasi dan menyelesaikan kasus pemadaman bergilir mendapat apresiasi dari pemerintah. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), kemarin (27/7), mendeklarasikan Indonesia Bebas Pemadaman Listrik Bergilir 2010 di halaman Kantor Gubernur NTB, Mataram.
    NTB dipilih sebagai lokasi dan tuan rumah deklarasi karena merupakan daerah terakhir yang berhasil mengatasi masalah pemadaman bergilir pada 30 Juni lalu.
    "Semua tahu, listrik penting. Listrik juga tentang keadilan. Tidak adil rasanya kalau sebagian rakyat tidak mendapatkan listrik dengan mudah," kata SBY ketika memberikan sambutan.
    Dirut PLN Dahlan Iskan dan sejumlah menteri Kabinet Indonesia Bersatu hadir dalam deklarasi tersebut. Di antaranya, Menko Perekonomian Hatta Rajasa, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Darwin Zahedy Saleh, Menko Kesra Agung Laksono, Mendagri Gamawan Fauzi, serta sejumlah pejabat tinggi negara lain.
    SBY menuturkan, permasalahan listrik yang terjadi saat ini merupakan warisan sejak zaman Indonesia baru merdeka. Pendiri Partai Demokrat itu menjelaskan, sejak dulu hingga 2005, jumlah atau kapasitas listrik di Tanah Air tidak berubah. Padahal, permintaan masyarakat terus meningkat.
    Sebagai antisipasi, ungkap SBY, pemerintah mencanangkan program pembangunan pembangkit berkapasitas 10 ribu megawatt (MW) tahap pertama dan kedua. "Butuh waktu panjang. Sebagai contoh, untuk membangun pembangkit 2 x 200 MW, butuh waktu 2 hingga 4 tahun. Untuk itu, hingga waktu penambahan daya tersebut tuntas, masalah daruratnya perlu diatasi dulu," ujarnya.
    SBY menyatakan lega masalah pemadaman listrik bergilir berhasil diselesaikan secara tuntas pada 30 Juni lalu. Dia secara eksplisit menyampaikan penghargaan atas perjuangan karyawan PLN yang bekerja siang dan malam selama enam bulan terakhir. Karena itu, SBY mengundang karyawan dan direksi PLN tersebut untuk minum teh di Istana Negara.
    Dalam kesempatan itu, Presiden juga menjawab kekhawatiran soal kenaikan tarif dasar listrik (TDL). SBY juga menjawab berbagai pernyataan miring seputar penghapusan subsidi dalam APBN. Dia menerangkan, di antara total anggaran lebih dari Rp1.000 triliun dalam APBN, lebih dari Rp200 triliun dihabiskan untuk subsidi.
    Padahal, pemberian subsidi itu belum tentu tepat sasaran bagi rakyat miskin. Untuk listrik, pemerintah mengalokasikan subsidi Rp55 triliun, sedangkan subsidi BBM Rp90 triliun.
    "Tidak ada kenaikan TDL untuk pengguna 450-900 VA. (Tarif listrik) untuk industri juga sudah dihitung sehingga tidak akan membebani produksi. Dengan kebijakan ini, ke depan justru akan bisa dialirkan listrik ke daftar tunggu," kata SBY sambil mengutip daftar tunggu saat ini yang mencapai 19 juta pelanggan.
    Kendati begitu, SBY menyatakan bahwa tidak berarti tidak akan ada pemadaman listrik sama sekali. Tuntasnya pemadaman bergilir tidak berarti masalah listrik sudah selesai. Presiden akan mengevaluasi dalam tiga bulan ke depan apakah kondisi listrik bisa bertahan seperti saat ini. "Berarti, Desember nanti kita lihat lagi. Ketika PLN mampu mengatasi, sekali lagi kita layak memberikan apresiasi," tuturnya.
    Karena itulah, dia menantang para direksi baru PLN di bawah kepemimpinan Dahlan Iskan yang menjabat selama enam bulan terakhir. Tantangan itu dilontarkan SBY secara terbuka. "Dalam enam bulan ke depan mulai hari ini, kalau persoalan listrik bisa diatasi sepenuhnya, saya akan memberikan apresiasi setinggi-tingginya," tegasnya.
    Mendapat tantangan seperti itu, Dahlan Iskan yang duduk tidak jauh dari SBY hanya tersenyum. Tanpa ditantang pun, mantan CEO Jawa Pos tersebut sudah memiliki agenda kerja tersendiri. Selain menuntaskan sisa-sisa pekerjaan selama enam bulan pertama, kata Dahlan, PLN harus mampu menyiapkan daya listrik untuk 19 juta rumah tangga di Indonesia yang belum menikmati listrik.
    Dia menuturkan, PLN memiliki sumber daya dan banyak orang pintar. Hanya, selama ini tenaga mereka belum dimanfaatkan secara optimal karena penanganan masalah kelistrikan selalu diserahkan kepada kontraktor swasta.
    Sejak masuknya Dahlan, para insinyur PLN diberi kepercayaan sehingga meningkatkan kinerja BUMN kelistrikan tersebut. Kemarin, berbagai hasil kreasi para insinyur PLN itu dipamerkan. SBY meluangkan waktu cukup lama untuk menyaksikan kreasi inovatif tersebut.
    Saat memberikan laporan tanpa teks di hadapan SBY dan sejumlah menteri, Dahlan memaparkan berbagai persoalan yang selama ini dihadapi PLN di Aceh hingga Ambon. Semua sudah bisa diatasi.
    Laporan Dahlan tidak hanya mengundang aplaus dari SBY, tapi juga menarik simpati para undangan. Dahlan membeberkan berbagai persoalan PLN sehingga masyarakat tahu perjuangan perusahaan listrik itu selama enam bulan terakhir.
    "Orang-orang PLN tidak berani pakai seragam karena takut dilempar warga. Bahkan, ada general manager PLN yang dijemur oleh masyarakat," paparnya.
    Bukan hanya itu, PLN dihadapkan pada berbagai demonstrasi ketidakpuasan masyarakat di banyak tempat. Seorang karyawan PLN terpaksa menjotos demonstran karena tidak tahan dihujat. Dahlan tidak menyalahkan anak buahnya itu. Petugas PLN Ambon tersebut justru diajak ke Mataram dan dihadirkan di depan SBY.
    Dahlan juga menyebutkan beberapa prestasi di daerah. Misalnya, di Aceh yang sebelumnya terjadi krisis listrik dan krisis kapasitor (14 VA). "Untuk mengatasi, kami pasang kapasitor dari Medan ke Aceh. Sekarang, selain bebas krisis listrik, Aceh juga bebas tegangan karena sudah 20 VA," jelasnya.
    Dahlan juga memaparkan kondisi listrik di Jawa. Pada 30 November mendatang, tegas dia, kualitas pelayanan dan mutu listrik di Jawa harus berstandar internasional.
    Sementara itu, Menteri ESDM Darwin Zahedy Saleh menyatakan, dalam jangka pendek, upaya mengatasi krisis listrik dilakukan dengan membeli kelebihan daya dari swasta. PLN juga menyewa genset serta mempercepat pemeliharaan mesin. "Proyek pembangunan listrik 10 ribu MW kami harapkan rampung pada 2013," ujarnya. (fat/mni/jpnn/c5/dwi)

Comments
Add New Search
Beri Komentar
Nama:
Email:
 
Judul:
Please input the anti-spam code that you can read in the image.

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."