Selalu Matikan Lawan, diuluki Homicide PDF Cetak E-mail
Rabu, 28 Juli 2010 02:08
Nama saya Corey "Homicide" Williams. Saya lahir dan dibesarkan di Bronx, New York. Beberapa orang menyebut saya sebagai Raja New York. Setelah kuliah, saya mengejar pengakuan dan kredibilitas di jalanan New York. Rata-rata saya antara 30 sampai 40 poin di setiap turnamen di New York. Setiap orang yang mencoba menghadang saya selalu kalah. Itulah asal muasal sebutan "Homicide." Karena saya selalu menghancurkan lawan-lawan saya”
    Penjelasan singkat itu disampaikan langsung oleh Corey Williams, dalam wawancara dengan ElevationMag, salah satu media streetball top. Dalam wawancara yang sama, dia menegaskan lagi julukan "seram?-nya: Homicide alias 187 alias pembunuhan.
    “Saya mendapatkan nama itu karena permainan saya yang agresif, karena saya selalu menyerang dan mematikan lawan-lawan di depan saya. Titik," tandasnya.
    Penggemar berat basket, khususnya streetball, tentu sudah tidak asing lagi dengan nama Corey "Homicide" Williams. Dia merupakan salah seorang legenda basket jalanan, bahkan pernah dinobatkan sebagai salah satu pemain streetball terbaik dalam sejarah.
    Tentu saja, Williams lebih dari sekadar bintang streetball. Dengan skill basketnya, dia sudah melanglang dunia, menjajal berbagai kompetisi profesional di berbagai benua. Mulai di Amerika Serikat, Eropa, Amerika Selatan, Asia, hingga Australia. Dia juga sudah berkali-kali masuk seleksi tim-tim NBA. Hanya nasib yang menghalanginya punya karir di liga paling bergengsi tersebut.
    Bisa dibilang, Williams telah merasakan indahnya kedua "dunia basket." Sukses di arena streetball yang "bebas aturan." Sukses di arena profesional.  Soal definisi streetball sendiri, Williams ingin menegaskan apa itu streetball yang sebenarnya. "Tur streetball (yang populer di dunia) telah menghancurkan apa itu streetball yang sebenarnya. Sekarang, orang mengidentikkan streetball dengan trik-trik bermain basket. Padahal, yang benar adalah orang-orang yang adu ketangguhan di lapangan outdoor, tanpa ada wasit dan foul, tanpa gerakan-gerakan lemah. Itu streetball yang sebenarnya," ungkapnya.
    Pemain yang kini berusia 32 tahun itu mengaku tidak langsung mendapat julukan "Homicide." Awalnya adalah "The Hard Worker" (pekerja keras), lalu ke "C-Murder," lalu ke "C-Homicide," baru kemudian menjadi "Homicide”.
    Williams memang benar-benar ngetop di New York. Di arena streetball, dia berkali-kali menghadapi bintang-bintang streetball kelas dunia lain, atau bahkan menghadapi pemain-pemain NBA secara individual. Pernah, dalam suatu even, dia menghadapi Ron Artest. Waktu itu Artest masih tergabung di Indiana Pacers, dan memegang gelar Defensive Player of the Year. Sekarang, penggemar NBA tentu tahu, Artest baru saja membantu Los Angeles Lakers meraih gelar juara 2010.
    Berhadapan langsung dengan Artest, Williams tidak gentar. Berkali-kali dikasari dan diblok, Williams terus menyerang. Alhasil, dia pun mencetak 26 poin. Timnya kalah tipis, tapi dia mampu meraup banyak poin meski dikawal Artest yang lebih tebal dan besar (Williams 190 cm, Artest 201 cm).
    “Itu 26 poin paling sulit yang pernah saya dapatkan. Tapi saya mampu mendapatkan 26 poin! Pertandingan itu benar-benar membantu mental saya, memberi tahu saya kalau saya mampu bermain di level tertinggi," ucapnya seperti dikutip majalah Dime.
    Dari jalanan New York pula Williams mendapat "penghargaan" tertinggi dalam karir seorang pemain basket: Yaitu mendapatkan kontrak sepatu, dan dibuatkan sepatu signature sendiri, yang kemudian dijual laris di berbagai penjuru dunia.
    K1X, merek sepatu asal Jerman, mengontraknya. Membuatkannya sepatu bernama "187," alias kode polisi New York untuk pembunuhan alias homicide. "Saya ingin menegaskan kepada Anda, bahwa saya adalah pemain streetball pertama dalam sejarah yang mendapatkan kontrak sepatu signature. Saya juga pemain pertama dalam sejarah yang mendapat sepatu eksklusif tanpa harus bermain di NBA!" tukasnya. "Ini saya dapatkan karena kemurahan hati Tuhan, kerja keras, dan tekad untuk tidak pernah menyerah," tegasnya.
    Sampai hari ini, Williams masih tidak mau melupakan masa lalunya di jalanan New York. Meski sudah berkeluarga dan tinggal di Denver, serta mengejar dolar di berbagai penjuru dunia, Williams terus menyempatkan diri untuk kembali ke Rucker Park, New York.
    Pertengahan Juli lalu, dia kembali mengikuti even bergengsi Entertainer?s Basketball Classic (EBC) di kota tersebut. Dan meski sudah tergolong pemain senior, dia masih menjadi idola. Performa pun tidak mengecewakan. Dia menjadi top scorer, mencetak 36 poin dalam pertandingan ekshibisi yang sangat bergengsi itu.
    “Semakin banyak penonton, semakin besar beban, semakin baik saya bermain. Inilah yang saya cintai," katanya seperti dilansir New York Post.(bersambung)

Comments
Add New Search
Beri Komentar
Nama:
Email:
 
Judul:
Please input the anti-spam code that you can read in the image.

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."