Back Anda disini: Home

Artikel

Kredit Nganggur Tembus Rp1.013 T

JAKARTA - Sektor perbankan Indonesia mencatat kinerja gemilang sepanjang 2013. Hampir semua paramater menunjukkan tren cemerlang. Sayang, ada satu indikator yang “merah”. Yakni, undisbursed loan atau kredit nganggur. Itu adalah kredit yang sudah disetujui perbankan namun belum ditarik oleh debitur.
    Data Statistik Perbankan Indonesia yang dirilis Bank Indonesia (BI) dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan, undisbursed loan periode Desember 2013 menembus angka Rp1.013,47 triliun. Itu merupakan rekor tertinggi sepanjang sejarah perbankan Indonesia. Sebagai perbandingan, pada periode Desember 2012, angka undisbursed loan tercatat sebesar Rp 817,27 triliun.
    Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Peter Jacobs, mengatakan, undisbursed loan sebesar itu terdiri atas pinjaman yang sudah terikat komitmen pencairan (committed) Rp 301,47 triliun dan uncomitted Rp712,00 triliun. “Committed artinya pinjaman itu tidak bisa dibatalkan karena dananya sudah siap dicairkan,” ujarnya.
    Ekonom Sri Adiningsih, mengatakan, tingginya undisbursed loan menunjukkan tidak mampunya pelaku usaha menyerap kredit perbankan, terutama di sektor infrastruktur. “Ini pelajaran penting bagi pemerintah. Kenapa? Karena infrastruktur adalah domain pemerintah,” ujarnya.
    Menurut Sri Adiningsih, sulitnya pembebasan lahan maupun berbagai proses birokrasi dan perizinan seringkali menyulitkan pelaku usaha. Akibatnya, meskipun perencanaan pembiayaan sudah disiapkan, proyek belum bisa dimulai sehingga kredit perbankan pun tidak dicairkan.
    “Ini menimbulkan banyak kerugian. Kinerja bank tidak optimal, proyek tidak berjalan, infrastruktur kurang, ujung-ujungnya memicu ekonomi biaya tinggi dan melemahkan daya saing investasi,” jelasnya.
    Pernyataan tersebut senada dengan penjelasan Corporate Secretary Bank Rakyat Indonesia (BRI) Muhammad Ali. Menurut dia, kebanyakan undisbursed loan berasal dari perusahaan yang bergerak di sektor infrastruktur, sehingga pembebasan lahan menjadi kunci utama jalannya proyek. “Jika proyek infrastruktur lancar, undisbursed loan akan turun,” ujarnya.
    Kepala Ekonom Bank Negara Indonesia (BNI) Ryan Kiryanto menambahkan, selain persoalan infrastruktur, besarnya undisbursed loan juga disebabkan rendahnya daya serap dunia usaha terhadap kredit perbankan. “Ini karena masih adanya masalah struktural yang menghambat ekspansi dan investasi,” katanya.
    Menurut Ryan, bagi perbankan, undisbursed loan memberi efek negatif. Dana yang nganggur berarti menjadi tidak produktif karena tidak menghasilkan bunga. Sebaliknya, bank tetap harus membayar bunga kepada nasabah yang menyimpan uangnya di bank. Akibatnya, bisa menurunkan profitabilitas perbankan. “Karena itu, bank juga harus lebih cermat dalam menganalisis kebutuhan kredit calon debitor,” ucapnya.
    Sementara itu, terkait kinerja perbankan pada 2013 secara umum, Peter Jacobs mengatakan sangat positif dan solid. Berbagai parameter seperti rasio kecukupan modal (CAR), rasio penyaluran kredit terhadap dana nasabah (LDR), nilai aset, rasio kredit macet atau nonperforming loan (NPL), hingga laba, semua mencatat kinerja positif. “Terutama laba. Tahun 2013 lalu perbankan berhasil membukukan laba hingga Rp106,7 triliun. Ini rekor laba terbesar,” ujarnya. (owi/ca/ce1/ndy)