Back Anda disini: Home

Artikel

Eva Janji Datang

PALEMBANG - Pihak-pihak yang diduga kuat mengetahui kasus dugaan korupsi di Dinas Pendapatan Daerah (Dispenda) Palembang 2010-2011 makin terang. Sebelumnya, penyidik Unit Tipikor Polresta Palembang telah mengungkapkan di tahap awal ini akan menetapkan empat tersangka.
    Dua tersangka pria dan dua lagi wanita. Dari empat orang itu, ada tiga “orang dalam” pada periode 2010-2011 dan satu lainnya orang dari luar Dispenda. Rupanya, diam-diam penyidik telah memanggil Eva Santana, istri kedua mantan Wali Kota Palembang Ir H Eddy Santana Putra.
    Dia dipanggil sebagai saksi karena dianggap mengetahuan dugaan korupsi retribusi hotel, restoran, dan tempat hiburan di Dispenda dengan prediksi kerugian Negara Rp5 miliar tersebut. Kata Kapolresta Palembang, Kombes Pol Sabarudin Ginting melalui Kasat Reskrim Kompol Djoko Julianto SIk MH, sudah dua kali Eva dipanggil.
    “Tapi Ev (Eva, red) selalu mangkir. Dalam waktu dekat penyidik segera melayangkan surat pemanggilan ketiga. Kami  siapkan langkah tegas, jika masih mangkit maka akan jemput paksa,” tegas Djoko, kemarin.
    Menurut Djoko, pemanggilan paksa terhadap saksi ini sudah sesuai undang-undang. Katanya, pemanggilan tersebut untuk mendapatkan keterangan dari Ev terkait dugaan korupsi  di tubuh Dispenda periode 2010-2011. “Kami berharap Ev lebih kooperatif dan bertindak sebagai warga negara yang baik. Dengan begitu, kasus ini dapat semakin terang,” cetusnya.
    Kengototan penyidik memeriksa Eva bukan tanpa alasan. Sebelumnya, penyidik Unit Tipikor Satreskrim Polresta Palembang pimpinan Iptu Rendra Aditya telah mendapat lampu hijau dari Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) Sumsel tentang adanya kerugian Negara dalam kasus ini.
    Berhembus kabar burung kalau orang luar dimaksud kemungkinan  adalah Eva. Sayang, Djoko belum mau memastikan itu. “Memang ada tersangka yang akan segera kami tetapkan. Guna memastikan itu, tentu harus menanti gelar perkara setelah BPKP merilis kerugian Negara dalam kasus ini. Untuk Ev, kita lihat nanti. Yang jelas, penyidik bekerja profesional dan proporsional,” tegasnya.
    BPKP sendiri hingga kemarin (23/2) belum menyerahkan hasil auditnya. Penyidik juga belum mengantongi data pendukung aliran uang dari Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK). Ini penting bagi kepolisian memastikan siapa saja penikmat uang negara itu.
     Djoko minta penyelidikan dan penyidikan kasus ini tidak dikaitkan dengan unsur politis, sebab yang ditemukan oleh penyidik adalah murni tindak pidana. “Koordinasi yang dilakukan dengan BPKP dan PPATK sejauh ini memberikan kami (penyidik) lampu hijau untuk itu (melanjutkan proses hukum),” imbuhnya.
    Sudah 17 saksi yang diperiksa penyidik Polresta Palembang. Djoko mengatakan, pihaknya telah mengantongi pengakuan jika dana yang diduga dikorupsi tersebut dinikmati secara bersama-sama. Karenanya, Polresta Palembang menggandeng PPATK. “Dari 17 saksi yang telah dipanggil dan diperiksa, sekarang sudah mengerucut. Kami tinggal menentukan tersangka yang akan menjalani proses hukum selanjutnya. Kami akan buka kasus ini secara transparan,” tukasnya.
Para saksi yang pernah dipanggil sebagai saksi yakni pengelola hotel dan rumah makan, pegawai Dispenda hingga mantan Kadispenda Kota Palembang, Dra Hj Sumaiyah ZE MM. Proses penyelidikan kasus ini bahkan melibatkan Lembaga Penjaminan Saksi dan Korban (LPSK). Pada 22 Januari lalu, anggota LPSK, Prof Dr Teguh Sudarsono mendatangi Mapolresta Palembang. Kedatangannya atas permintaan saksi EK, Kasi Pemeriksaan Dispenda Kota Palembang. Saksi merasa dirinya telah dizalimi, didiskriminasi dan dikriminalisasi. Pada saat itu, Djoko tidak merinci siapa yang dimaksud saksi tersebut.
    Diungkap Djoko, dari pemeriksaan terhadap EK itulah Satreskrim Polresta Palembang menemukan adanya indikasi ke arah korupsi dan tidak dinikmati sendiri. Santer terdengar, uang negara yang menguap mencapai Rp5 miliar. Dari pengakuan EK, Unit Tipikor Satreskrim Polresta Palembang telah mengajukan surat permohonan pemeriksaan beberapa rekening saksi yang dicurigai ke PPATK. 
    Terpisah, Eva Santana Putra yang sekarang berada di Singapura mengaku dirinya akan datang pada pemanggilan ketiga nanti. “Bunda belum terima surat panggilan ketiganya. Tapi, Bunda pastikan datang. Insya Allah tidak ada apa-apa, karena memang tidak tahu apa-apa,” kata Eva menjawab pesan singkat Sumatera Ekspres melalui BlackBerry-nya tadi malam. (aja/ce1/ndy)