Sen09152014

Last update10:50:18 PM

Back Anda disini: Home

Artikel

Untuk Sementara Kitab Suci Diganti Buku Caleg

Awal tahun ini seluruh Panitia Pemilihan Luar Negeri (PPLN) bergerak menyosialisasikan Pemilu 2014 kepada WNI di luar negeri (diaspora). Begitu juga PPLN Vatikan. Yang khas, seluruh diaspora Indonesia yang mereka sasar adalah biarawan dan biarawati.    
DOAN WIDHIANDONO, Napoli
ADALAH Romo Florentinus Heru Ismadi SCJ yang menjadi ketua PPLN Vatikan. Dia pastor kelahiran 29 Oktober 1971. Meski tergolong muda, pastor dari Ordo Sacro Cuore di Gesu alias Imam-Imam Hati Kudus Yesus itu sudah punya prestasi global. Dia adalah sekretaris jenderal Kongregasi SCJ, organisasi para biarawan di tingkat dunia.
    Minggu pagi (16/2) Romo Heru tampak begitu gayeng berbicara di depan sekitar 110 suster plus 1 pastor di Casa del Volto Santo (Rumah Paras Suci). Tempat tersebut merupakan gereja juga biara yang terletak di jalanan pegunungan yang berkelok di Capodimonte, sedikit di luar Kota Napoli, Italia. Biara yang terletak di tepi tebing kecil itu menjadi kediaman para suster Piccole Ancelle di Cristo Re.
    Minggu itu Romo Heru tidak sedang berkhotbah meskipun sebelumnya juga memimpin misa di ruangan tersebut. Bukannya membawa kitab suci, romo dari Jogjakarta tersebut justru membawa selembar kertas berisi 12 partai politik (parpol) peserta Pemilihan Umum (Pemilu) 2014 dan para calon anggota legislatif (caleg)-nya.
    Ya, Romo Heru memang sedang mengajari para rohaniwan itu mencoblos. Bersama tim dari KBRI untuk Takhta Suci Vatikan, dia melakukan sosialisasi terkait dengan pemilu di Indonesia pada April nanti. Pagi itu tim PPLN Vatikan berpencar menjadi dua. Satu di Capodimonte, satu lagi di Casoria. Semuanya di sekitar Napoli. Di Capodimonte, Romo Heru didampingi pantarlih (panitia pendaftaran pemilih) Sturmius Teofanus Bate yang juga sekretaris III Dubes RI untuk Takhta Suci Vatikan.
    Pada sosialisasi tersebut, mereka menjelaskan berbagai hal teknis soal pemilu. Mulai pemilihan umum legislatif (pileg) dan presiden (pilpres), sistem pencoblosan, syarat-syarat pemilihan, hingga teknis hari pencoblosan.
    Selain itu, Romo Heru menekankan pentingnya pemilu bagi para biarawan-biarawati yang hidupnya “jauh” dari urusan politik dan duniawi tersebut. “Sebab, ada Surat Gembala Komisi Waligereja Indonesia (sidang para uskup) yang meminta umat menjadi pemilih yang cerdas berdasar hati nurani,” kata pastor berkacamata tersebut.
    Karena sasaran sosialisasi itu para rohaniwan, tentu Romo Heru melakukan pendekatan khas para pastor. Yakni dengan cerita kecil layaknya khotbah. Di depan para suster, dia bercerita tentang seekor tikus yang diburu ular. Tikus itu lalu berlari minta tolong ke sapi, ayam, dan kambing. Namun, semuanya tak mau menolong. “Itu bukan urusan saya,” kata binatang-binatang tersebut dalam cerita.
    Malang, dalam perburuan itu, ular justru terperangkap jebakan tikus. Malang pula, istri petani terpatok ular saat melihat jebakan tersebut. Atas saran beberapa tetangga, sang petani mengobati istrinya dengan paru-paru binatang. Semua dicoba. Mulai sapi, kambing, hingga ayam. Namun, istrinya tak selamat. “Semua mati. Istri mati, kambing mati, ayam mati, sapi mati. Yang selamat justru tikus,” kata Romo Heru disambut gelak tawa para peserta sosialisasi.
    Cerita itu, kata dia, adalah pesan bahwa tidak seyogianya orang bersikap cuek atau tidak peduli. Siapa tahu yang tidak peduli justru akan bisa mati. “Jangan berpikir bahwa politik bukan urusan para rohaniwan sehingga kita nggak memilih,”pesannya.
    Saat ini tercatat ada 1.384 pemilih yang terdaftar di PPLN Vatikan. Hampir seluruhnya rohaniwan. Yang bukan adalah para diplomat dan keluarganya dari KBRI. Nah, di antara ribuan rohaniwan itu, hanya 139 orang yang pastor, frater (calon pastor), atau bruder (rohaniwan nonpastor). Sisanya para suster.
    Mereka akan mencoblos pada 6 April, tiga hari sebelum pileg di Indonesia pada 9 April. Sebanyak 500 orang mencoblos di Roma, 500 di Napoli, dan sisanya mencoblos lewat pos yang sudah harus dicap pos paling lambat 15 April 2014.
    “Jadi, para suster sekalian, Anda akan kami kirimi kertas suara dan amplop anonim berisi PO Box untuk dikirimkan kembali ke kami. Kalau sudah terima, buka suratnya, renungkan, meditasi sebentar, lalu bless‚” katanya yang lagi-lagi disambut tawa berderai.
    Pada sosialisasi itu dijelaskan pula, suara para diaspora di Vatikan akan dimasukkan dalam daerah pemilihan Jakarta II. “Visi-misi partai dan curriculum vitae akan ditampilkan di blog PPLN Vatikan,”terang Romo Heru.
    Selain itu, dibagikan beberapa buku berisi rekam jejak calon dan parpol pada daerah pemilihan tersebut. Satu biara dengan jumlah pemilih banyak akan mendapatkan satu buku. “Jadi, menjelang pemilu, bacaan kitab sucinya diganti dulu. Diganti dengan buku data caleg,” gurau Romo Heru.
    Antusiasme peserta sosialisasi juga sangat tinggi. Yang ditanyakan bukan melulu aturan teknis. Romo Yohanes Kaki O. Carm misalnya. Dia adalah wakil rektor pada Santuaro Maria Santissima Di Campiglione, Caivano. Romo Yonas, panggilannya, mohon “petunjuk‚” soal siapa calon presiden (capres) yang sebaiknya dicoblos. “Sebab, banyak para suster yang tidak mengikuti secara detail politik di Indonesia. Biar tidak salah pilih,” katanya.
    Romo Heru menjawab bahwa parpol-parpol baru bisa mencalonkan presiden setelah pileg pada April nanti. “Tapi, beberapa nama memang sudah sering disebut,” katanya.
    Kepada Jawa Pos, Romo Yonas mengatakan bahwa para biarawan memang sebaiknya tidak abai terhadap jagat politik. “Sebab, setiap orang kristiani dipanggil untuk menjadi garam dunia, termasuk di dunia politik. Salah satunya dengan menggunakan hak pilih dalam pemilu,”tutur romo yang sudah empat tahun tinggal di Italia itu.
    Meski demikian, Romo Yonas mengakui bahwa tidak semua biarawan-biarawati punya akses luas terhadap informasi politik. “Misalnya para rubiah,”  ucapnya.
    Pada sosialisasi itu memang hadir empat rubiah dari Ordo Pasionis. Rubiah adalah biarawati yang menjalani hidup kontemplatif. Istilah gampangnya: pertapa. Mereka hidup dalam keheningan dalam pertapaannya untuk bermeditasi dan mendoakan orang. “Mereka tidak keluar dari biaranya kalau tidak diutus keluar,” ungkapnya.
    Romo Yonas yakin seluruh biarawati, termasuk para rubiah, bisa menjadi pemilih yang bertanggung jawab. Mereka akan mencari informasi detail soal calon-calon pilihan mereka. Sebab, mencoblos atau hak pilih itu juga menjadi bentuk tanggung jawab moral mereka sebagai warga negara dan pemuka agama. (*/c9/ari/ce1/ndy)