Uang Pecahan Baru PDF Cetak E-mail
Rabu, 21 Juli 2010 00:17
Mulai hari ini, Rabu (21/7), masyarakat akan kembali memiliki uang baru. Bentuknya, pecahan koin Rp1.000 dan uang kertas Rp10.000. Penukaran uang baru itu mulai berlangsung kemarin (20/7) yang dilakukan secara simbolis oleh Wakil Presiden RI Boediono di Bale Pasundan Kantor Bank Indonesia Bandung (KBIB). Boediono dalam kesempatan itu mengemukakan, pada dasarnya, membuat dan mengedarkan uang baru adalah hal yang tidak terlalu sulit. Namun yang sulit bagaimana menjaga nilai tukarnya.
”Ada beberapa hal yang harus dilakukan agar stabilitas nilai uang rupiah tidak terganggu. Di antaranya menjaga kepercayaan. Pekerjaan BI adalah menjaga stabilitas, termasuk inflasi di setiap daerah. Karenanya, perlu ada jalinan kerjasama yang harmonis antara pemerintah daerah dan perbankan. Tujuannya yakni agar laju inflasi terkendali,” paparnya. Sementara itu, Pejabat Sementara (Pjs) Gubernur Bank Indonesia (BI), Darmin Nasution menjelaskan, penerbitan seri terbaru Rp1.000 dan Rp10.000 merupakan salah satu upaya pemenuhan kebutuhan masyarakat, terutama untuk uang receh.
”Apalagi menjelang adanya momen keagamaan. Transaksi uang kecil biasanya menunjukkan trend peningkatan. Jadi, pembuatan ini salah satunya bertujuan untuk memenuhi kebutuhan,” ungkapnya. Kata Darmin, filosofi penerbitan uang logam baru Rp1.000 guna meningkatkan penggunaan uang logam. Seperti diketahui selama ini bahwa penggunaan uang logam jauh lebih awet dibandingkan kertas. Daya tahan uang logam, tuturnya, dapat mencapai 15 tahun. Menyinggung pembaruan warna mata uang Rp10.000, tidak lain untuk memperjelas adanya perbedaan antara uang Rp10.000 dengan Rp100.000.
”Selama ini, banyak keluhan mengenai dua mata uang itu. Kedua mata uang itu memiliki kemiripan. Karenanya, kami melakukan beberapa perubahan, salah satunya  dalam hal warna,” jelas Darmin. Kendati edisi baru terbit, lanjutnya, bukan berarti edisi uang Rp1.000, baik koin maupun kertas, dan Rp10.000 tidak berlaku. ”Edisi lama uang Rp1.000 dan Rp10.000 tetap berlaku,” tegasnya.
Dalam seri baru mata uang pecahan Rp1.000 terdapat relief bergambar alat kesenian khas dan tradisional Jabar, angklung, dan gedung bersejarah yang kini menjadi pusat pemerintahan provinsi Jabar, Gedung Sate. Koin itu berwarna silver karena berlapis nikel. Sedangkan pecahan Rp10.000, dalam hal gambar tidak mengalami perubahan. Tetap pahlawan asal Bumi Sriwijaya Palembang, Sultan Mahmud Badaruddin II. Namun, sejumlah penyempurnaan dan perubahan tetap ada. Diantaranya, perubahan warna. Seri terbaru Rp10.000, berwarna ungu kebiru-biruan. Dalam seri baru itu pun, Bank Indonesia (BI) menambah sistem pengamanannya. Contohnya, peneraan gambar sailing isi, cetak dalam, gambar tersembunyi, kode bagi tuna netra berupa bulatan, terdapatnya visible link, mikro teks.
”Kami pun menambahkan rainbow printing (cetak pelangi), lalu tanda air, electrotype, dan logo BI dalam bingkai berbentuk ornamen,” jelas Deputy Bidang VII Bank Indonesia, Budi Rohadi, beberapa saat setelah  peresmian dua mata uang baru itu. Ketika ditanya  berapa keping uang pecahan Rp1.000 yang dicetak, Rohadi mengungkapkan, BI mencetak sebanyak 709 juta keping koin logam bernilai Rp1.000.
”Yang sudah dicetak Perum Peruri (Percetakan Uang Republik Indonesia, red) sebanyak 300 juta keping uang Rp1.000,” tukasnya. Sementara uang pecahan Rp10.000, BI mencetak sebanyak 820 juta bilyet. Dari jumlah tersebut yang sudah tercetak Perum Peruri, sebanyak 102 juta bilyet. (cr-1)

Comments
Add New Search
Beri Komentar
Nama:
Email:
 
Judul:
Please input the anti-spam code that you can read in the image.

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."