Back Anda disini: Home

Artikel

Target 12 Ribu Unit Walau Sulit

Awal Maret nanti harga rumah sederhana sehat (RSh) Bersubsidi dipastikan mengalami kenaikan dari Rp88 juta menjadi Rp105 juta per unit. Ini mengekor naiknya harga bahan material bangunan. Bagaimana impact-nya?   SEJUMLAH developer bakal menaikkan harga RSh Bersubsidi setelah keluar keputusan pemerintah soal ketetapan harga yang baru.

Sekretaris DPD Real Estate Indonesia (REI) Sumsel, Ali Sya’ban mengakui kenaikannya sekitar 15 persen, dari Rp88 juta menjadi Rp105 juta per unit.
    "Awalnya ini usulan Apersi (Asosiasi Pengembang Perumahan dan Permukiman Seluruh Indonesia) dan sudah disetujui Kementerian Perumahan Rakyat. Sekarang kita menunggu surat keputusan pemerintah mengenai harga yang baru tersebut," ujar dia kepada Sumatera Ekspres, kemarin.
    Jika peraturannya sudah keluar khususnya harga RSh Bersubsidi untuk Sumsel, baru harga resmi dinaikkan. "Kemungkinan awal Maret nanti," ujarnya. Kenaikan harga rumah yang menyasar masyarakat menengah ke bawah ini, lanjut Ali, memang atas dasar pertimbangan naiknya material bangunan setiap tahun dan kenaikan upah minimum regional (UMR).
    Walaupun demikian, pihaknya meyakini demand (permintaan) RSh tetap meningkat. "Daya beli masyarakat Sumsel masih terbilang tinggi. Itu karena pendapatan per kapita masyarakat juga terus meningkat. Seiring bertambahnya jumlah penduduk, maka kebutuhan rumah juga semakin tinggi," imbuhnya.
    Jadi walaupun naiknya Rp17 juta, RSh tetap akan diburu. "Kami rasa kenaikan ini tidak akan membebani masyarakat, khususnya calon pembeli perumahan, sebab sesuai dengan naiknya pendapatan yang diterima,” kata dia.
    Namun dia tak memungkiri, tahun lalu growth pasar RSh sangat rendah. "Tahun lalu, pembangunan RSh dengan sistem FLPP (fasilitas likuiditas pembiayaan perumahan) sebanyak 4 ribu unit, sedangkan rumah menengah mewah (non FLPP) hanya 1.500. Berarti tahun 2013 hanya terbangun 5.500 unit rumah," ujarnya. Pembangunan rumah sesuai dengan penjualan unit rumah oleh developer. Ada 90 dari 160 developer di Sumsel yang aktif membangun rumah khusus anggota REI.
    Padahal targetnya 15 ribu unit rumah. Itu jauh sekali dibanding penjualan rumah 2012 sebanyak 11 ribu unit, rinciannya 6 ribu RSh Bersubsidi dan 5 ribu unit rumah menengah mewah. Penyebabnya, kata Ali, bukan karena kebijakan loan to value (LTV) saja yang lebih tinggi, juga faktor lain seperti, kenaikan bahan bakar minyak (BBM) berimbas pada kenaikan bahan material, pelemahan nilai tukar rupiah, naiknya suku bunga perbankan, turunnya harga komoditi yang melemahkan daya beli, juga terkendalanya lahan yang membuat laju pembangunan melambat.
    Walaupun tantangan itu masih jadi bayang-bayang di tahun ini, pihaknya tetap menargetkan bisa membangun 15 ribu unit rumah meliputi 12 ribu RSh dan sisanya menengah mewah. "Kita berharap tahun ini harga komoditi membaik serta tidak ada lagi kebijakan BI yang bisa menekan penyaluran rumah," imbuhnya. Jika demikian dia optimis target tercapai. (cj9/fad/ce2/ndy)