Sel09022014

Last update05:43:06 AM

Back Anda disini: Home

Artikel

Oknum LSM Tembaki Anggota DPRD Muba

SUNGAI LILIN – Raut wajah Asthawielah (56), anggota DPRD Musi Banyuasin dari Partai Hanura, Selasa malam (18/2), tampak pucat. Maklum, ia baru saja lolos dari maut setelah ditembaki oknum anggota LSM berinisial Ad, warga Dusun IV, Desa Babat Banyuasin, Kecamatan Babat Supat, Muba.

    Lho, apa penyebabnya? Kuat dugaan kejadian ini, murni kriminal. Pendek kata, tidak ada kaitan dengan politik atau pencalonan kembali Asthawielah.
     Kejadiannya sendiri sekitar pukul 20.30 WIB di kediaman korban Asthawielah merangkap posko Partai Hanura di Dusun III, Desa Babat Banyuasin, Kecamatan Babat Supat, Muba. Lokasi persis di tepi Jalintim Palembang-Jambi.
    Informasi yang dihimpun Sumatera Ekspres, saat kejadian, rumah korban tengah ramai didatangi kerabat dan timsesnya. Tiba-tiba muncul pelaku dengan berjalan kaki. Korban langsung membawa dan mengajaknya berbicara di ruang kerja. 
    “Dia datang mau minta uang Rp4 juta. Saya jelaskan bahwa saya tidak ada uang karena benar-benar lagi kosong. Dia tidak percaya, saya tunjukkan dompet saya kosong tapi dia malah emosi. Langsung ngomong kalau tidak mau kasih uang saya minta nyawa kamu,” tutur korban menceritakan kembali perbincangan dirinya dengan pelaku Ad.
    Tanpa diduga, pelaku mencabut senjata api di pinggangnya. Melihat gelagat buruk itu, korban langsung bereaksi. Walau terpisah oleh meja kerja, korban  berusaha menangkap tangan pelaku. “Dia mundur dan matanya arah keluar, saya langsung lari ke ruangan samping. Dia kemudian keluar ruangan ke halaman depan dan langsung melepaskan tembakan beberapa kali. Suaranya keras sekali, tidak pernah saya mendengar suara sekeras itu,” tandas korban.
    Muhammad, seorang saksi mata ditemui di lokasi kejadian mengatakan, ia memperkirakan pelaku melepaskan lima tembakan. Satu di antaranya mengenai kaca depan ruang kerja korban hingga memecahkan kaca dan menembus ke dinding samping. “Di luar ruang kerja persis di teras halaman, ada tiga orang, Pak. Dia (pelaku) kemudian menembakkan senjatanya ke arah ruangan. Setelah itu ke arah dekat kami. Dia bilang ada lagi yang melawan, dor dia nembak. Lalu teriak lagi ada lagi yang melawan? Dor dia menembak lagi. Sekali lagi ngomong kayak gitu dan nembak lagi sambil berjalan kaki ke luar menuju jalan lintas timur,” beber Muhammad.
     Sebelum menghilang dari pandangan mata, pelaku kembali melepaskan satu kali tembakan. Juga merobek spanduk Partai Hanura dan spanduk korban Asthawielah yang tengah mencalonkan diri kembali sebagai anggota DPRD.
    “Saya lihat dia jalan kaki ke arah belakang kantor Camat Babat Supat, di samping rumah korban. Setelah itu pelaku hilang. Kita tidak ada yang berani mengejar karena ketakutan semua, Pak,” cetus Muhammad. Usai pelaku pergi, korban  langsung menghubungi pihak kepolisian dari Polsek Sungai Lilin dan Pospol Subsektor Tanjung Kerang yang datang beberapa saat setelah kejadian.
    Kapolres Muba AKBP Iskandar F Sutisna keesokan paginya langsung mendatangi lokasi kejadian. Petugas melakukan penyisiran dan mengejar pelaku. Hanya, sayangnya belum berhasil ditemukan.
    “Ada lima tembakan saat kejadian, tapi hanya ditemukan satu butir proyektil peluru yang mengenai kaca dan dinding. Kami belum bisa mengidentifikasi jenis pelurunya dari kaliber berapa? Ataukah senjata apinya jenis revolver atau FN? Semua masih diperiksa di labfor, hanya kalau melihat kondisi tidak ditemukan selongsong sepertinya dari senjata api rakitan, karena biasanya kalau senpira ‘kan selongsong masih dipistol hanya proyektilnya saja yang lepas,” ujar Kapolres lagi.
    Menurut Kapolres Iskandar, saat ini seluruh anggota tengah melakukan penggeledahan ke rumah pelaku. “Identitasnya sudah dikantongi. Kalau yang bersangkutan menyerahkan diri baik-baik akan kita perlakuan baik. Tapi kalau tidak, jangan salahkan kita kalau ditindak tegas karena yang bersangkutan memiliki senjata api dan berbahaya,” katanya.
    Terkait motif, Iskandar menyangkal adanya motif politik dari kejadian tersebut. “Ini kriminal murni, pelaku mengaku berasal dari LSM berinisial B dan katanya disuruh seseorang berinisial Yn untuk mendatangi dan meminta uang kepada korban. Sepertinya pemerasan karena korban tidak memberi ditembaki.”
    Ia menambahkan, hasil penelusuran, Yn merupakan DPO (masuk Daftar Pencarian Orang), setidaknya dua kasus yakni 365 di Lais serta pembunuhan toke karet di Sungai Lilin tahun 2010.
    Kata Iskandar, Yn juga buronan karena melarikan diri dari Lembaga Pemasyarakatan (LP) di Palembang. “Hanya, Yn setelah kita lacak sepertinya berada di luar kota,” tandas Kapolres.
    Informasi yang dihimpun koran ini, Yn merupakan seorang “pemegang keamanan” di wilayah Jalintim, Kecamatan Babat Supat. Ia kerap meminta sejumlah uang kepada perusahaan yang ada melalui anak buahnya.
    “Itu kita tidak tahu tapi kalau dia memang ada di sini pastinya sudah lama kita tangkap karena yang bersangkutan merupakan buronan dan DPO kita,” tuntas Iskandar. 

Korban Masih Shock
                Korban Asthawielah sendiri mengaku masih trauma dan shock atas kejadian yang menimpanya. “Saya tidak tahu apa ada motif politik atau tidak. Yang jelas   pelaku meminta sejumlah uang kepada saya.”
    Ia menceritakan, beberapa waktu lalu Yn pernah sms dan menelepon. Ketika itu, dia mengabarkan kalau dirinya tengah berada di luar Sumsel dan memerlukan sejumlah uang. 
    “Memang saya kenal, kadang kita bantulah. Nah, tiga hari setelah Yn sms itu, dia datang dan menunjukkan kartu LSM B. Setelah itu, datang lagi beberapa kali. Ada yang pake motor, tapi pas kejadian jalan kaki,” terang Asthawielah.               
    Menurut Asthawielah, Ad mengatakan kepada dirinya bahwa ia minta uang keamanan kepada sejumlah perusahaan. “Saya tidak menyangka kalau dia bawa senpi apalagi mau membunuh seperti ini, kalau permusuhan atau apa tidak ada. Memeras terkait kasus juga tidak ada cuma memang dia mau minta uang saja,” ungkap pria berkacamata tersebut. (Kur/ce1/ndy)