Sel09232014

Last update01:53:51 AM

Back Anda disini: Home

Artikel

Sekretaris KPU Bunuh Selingkuhan

INDERALAYA - Teka-teki siapa pelaku pembunuhan terhadap Mrs X yang belakangan diketahui bernama Rita binti Nasrun (39), pelatih senam, terungkap. Tersangkanya, Drs H Dedi Albakri MM, sekretaris Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Ogan Ilir (OI).

Pelaku  berusia 51 tahun itu dibekuk Senin (17/2), pukul 02.00 WIB, di kediamannya, Jl Alamsyah Ratu Prawiranegara, Lr Bukit Permata No 17, RT 005/RW 006, Kelurahan Bukit Baru, Kecamatan Ilir Barat (IB) I, Palembang. Apa motif hingga pelaku tega menghabisi Rita, warga Perumahan Bhakti Guna Blok B2, RT 09, No 19,  Desa Tanjung Seteko, Kecamatan Inderalaya, Kabupaten OI itu?

Kuat dugaan, kasus ini terkait dengan perselingkuhan keduanya. Dedi yang sudah mempunyai anak dan istri ada affair dengan Rita yang juga sudah bekeluarga.  Hubungan tersebut diungkap Kapolres Kapolres OI AKBP Asep Jajat Sudrajat didampingi Kasat Reskrim AKP Suhardiman dan Kanit Pidum Ipda Marwan.

“Dugaan sementara antara tersangka dengan korban ada affair,” ujar  Kapolres Asep kepada wartawan, kemarin. Kapolres juga mengungkap soal alat bukti  berupa surat perjanjian antara tersangka Dedi dan korban Rita. Isinya berbunyi, “Kito pisah baek-baek dengan syarat kebutuhan bulanan tetap tanggung jawab kamu sebesar Rp2 juta. Dan tahun 2014 akan memenuhi janji membelikan mobil.”

Menurut Kapolres, surat perjanjian tersebut dibuat keduanya pada 2012 lalu. Yang berjanji dan membubuhkan tandatangan hanya Dedi. Sedangkan Rita, istri dari Amrullah, PNS guru di Kecamatan Tulung Selapan, Kabupaten OKI itu, sebagai pemegang janji.

Nah, atas perbuatannya, tersangka diancam pidana 338 KUHP dengan hukuman 15 tahun penjara. “Kita tidak memberlakukan tersangka di tahanan khusus, meski tersangka adalah sekretaris KPU. Tetap diberlakukan seperti tahanan umum lainnya, kecuali kalau anggota DPRD,” kata Kapolres lagi.

Seperti diberitakan sebelumnya, jasad Rita ditemukan pencari ikan Bambang (25), di tepi Sungai Ogan, Desa Ulak Kembahang, Kecamatan Lubuk Keliat, OI, Sabtu (15/2), sekitar pukul 03.00 WIB. Ketika itu, status korban masih Mrs X lantaran tak ada identitas apapun yang bisa dikenali.

Korban mengenakan celana jeans panjang warga hitam, manset warna hitam, baju motif bunga warna merah. Dia diduga tewas akibat pukulan benda tumpul dan belum ada membengkak saat ditemukan. 

Kemudian, foto wajah Mrs X beredar di dunia maya melalui broadcast BlackBerry Messenger (BBM) di kalangan warga OI. Tetangga korban, Ketua RT 09, Wasono langsung mengenali Mrs X tersebut dan berkoordinasi dengan aparat Polsek Inderalaya.

Masih kata Kapolres Asep, pengungkapan kasus pembunuhan ini, hanya dalam kurun waktu 1x24 jam. “Cepat terungkap berkat informasi masyarakat, kerja sama para media dan kekompakan jajaran polres bekerja sama dengan Polsek Tanjung Batu yang langsung dipimpin  Kapolsek Tanjung Batu Iptu Iwan Gunawan dan Polsek Inderalaya.”

Soal penangkapan dinihari, kata Kapolres, itu sengaja dilakukan. “Tersangka kita tangkap saat tertidur di kediamannya. Tanpa memberikan perlawanan, bahkan kooperatif. Sebelumnya, kita lakukan penyelidikan dan mendapatkan keterangan saksi kunci yang melihat tersangka.”

Berhasil menggiring tersangka sebagai pelaku tunggal, petugas lantas mengamankan barang bukti  kendaraan dinas Pemkab OI, milik KPU OI,  Grand Livina BG 1124 TZ yang sehari-harinya digunakan oleh tersangka. Dalam kendaraan itu, petugas menyita barang bukti pembuka kunci roda yang dipakai tersangka untuk menghabisi nyawa korban. Termasuk, di dalam mobil tersebut pada jok bagian depan sebelah kiri masih ada sisa bercak darah korban yang sudah dicuci tersangka.

“Titik terang kasus ini setelah Mrs X terkuak bernama Rita. Dilakukan pengembangan penyelidikan dan diperoleh alamat tempat tinggal korban dengan jelas dan lengkap. Bertemu saksi kunci yang melihat tersangka dan korban naik kendaraan pukul 16.00 WIB. Dari sanalah kita bisa simpulkan kalau pelakunya adalah Dedi Albakri, sekretaris KPU OI,” bebernya.

Bagaimana kronologis pembunuhan sendiri? Bermula tersangka Dedi  mengendarai  mobil dinasnya dari Inderalaya pada Jumat (14/2), sekitar pukul 16.00 WIB. Lalu, tersangka berhenti di SPBU Inderalaya, tepatnya di depan Perumahan Taman Permata Indah (TPI). Di sana sudah menunggu korban Rita.

Keduanya lantas meluncur  menuju Desa Tanah Abang Muara Kuang. Namun, sebelum sampai di Desa Tanah Abang, selama dalam perjalanan mereka terlibat pertengkaran hebat. 

Diduga tersulut emosi, Dedi menghentikan kendaraannya di kawasan Desa Bantian, sekitar pukul 21.00 WIB.  Sebelum turun, Dedi sempat memukul kepala korban satu kali tepat mengenai belakang kepala. Korban tewas dengan darah mengalir dari kepalanya.

Tersangka lantas menyeret tubuh korban Rita hingga ke tebing pinggiran Sungai Ogan Desa Bantian.  Setelah itu, Dedi pulang ke Palembang dan membersihkan kendaraannya untuk menghilangkan jejak. 

Dedi membantah kalau dikatakan antara dirinya dan korban ada affair. “Tidak ada hubungan spesial. Sebatas hubungan teman. Namun, selama berteman, korban banyak menuntut hingga terakhir minta dibelikan mobil,” ungkapnya kepada wartawan koran ini.

Awal perkenalan dirinya dengan korban, menurut Dedi, bermula dari rutinitas seluruh anggota KPU dan sekretariat yang menggelar senam dua tahun lalu. Nah, korban Rita pernah menjadi guru senam ketika itu.

“Hubungan pertemanan kami memang berlanjut,” ujarnya. Nah, Jumat (14/2), ada kegiatan sosialisasi pileg oleh KPU Ogan Ilir di Rumah Makan Sederhana. Hingga berakhir sore hari, Dedi pergi untuk menuju ke Tanah Abang, rutinitas akhir pekan untuk mengecek kebun karet milik keluarganya di sana.

Hanya saja, kata Dedi, sebelum berangkat korban disuruh menunggu di depan SPBU Inderalaya, depan TPI. Setelah bertemu mereka berangkat dengan janji tidak menginap melainkan pulang hari. Ternyata di perjalanan mereka terus bertengkar. “Selama perjalanan kami terus bertengkar,” ujar Dedi tanpa mau menjelaskan apa yang mereka persoalkan hingga terjadi pertengkaran tersebut.

“Saya tidak ada hubungan spesial dengan korban,” tukasnya. Nah tiba di kawasan Desa Bantian, emosi Dedi memuncak. Apalagi korban sempat melawan. “Ini bukti saya kena cakar dan ada perlawanan dari korban, akhirnya saya pukul dengan kunci roda satu kali pada bagian belakang hingga tewas,” tandas Dedi.  (sid/dom/ce1)