Back Anda disini: Home

Artikel

Polisi Usut Kasus Penembakan Pengacara LKBH PGRI

SIDOARJO - suasana ceria acara khitan Muhammad Firman Anang Prayoga di Desa Tambak Sawah, Kecamatan Waru, pada Rabu malam (8/10) berubah menjadi gaduh. Penyebabnya, Gufron yang tidak lain kakek Yoga tertembak di bagian kening kepala. Untung, nyawa Gufron yang berprofesi sebagai pengacara Lembaga Konsultasi dan Bantuan Hukum Persatuan Guru Republik Indonesia (LKBH PGRI) masih terselamatkan. Belum jelas siapa penembak misterius itu dan apa motifnya. Namun, ada kemungkinan penembakan tersebut terkait profesi Gufron, yakni pengacara.
 
Perkara tersebut, antara lain, adalah kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) yang melibatkan seorang pejabat Dinas Pendidikan (Dispendik) Sidoarjo terhadap seorang guru. Perkara tersebut dia anggap sebagai pencorengan terhadap dunia pendidikan. Ada juga kasus seorang guru yang gagal naik haji karena ada dugaan permainan kuota yang melibatkan oknum di Kemenag Surabaya.
 
Selain itu, Gufron menjadi penasihat hukum guru dan murid dalam kasus tabrak masal di SMA Hang Tuah 2 pada Oktober 2013. Peristiwa itu membuat empat orang menderita luka berat dan sejumlah penghuni sekolah luka ringan. Kasus tersebut melibatkan seorang anak pensiunan polisi berpangkat jenderal bintang satu
 
Hingga kemarin (10/10) kasus ini masih disaput gelap. Namun, kasus itu telah menjadi atensi polisi. "Saat ini berbagai kemungkinan masih terbuka," kata Kapolsek Waru AKP Tony Prasetyo. 
 
Hasil olah TKP (tempat kejadian perkara) awal menunjukkan bahwa penembakan tersebut mungkin dilakukan dari jarak dekat. Sebab, beberapa saksi mendengar suara "dess". Suara tersebut merupakan indikasi kemungkinan senjata yang dipakai adalah senapan angin. Padahal, saat kejadian, suara musik acara khitan terdengar dengan keras.
 
Lalu, dari mana arah penembak misterius itu? Kemungkinannya, antara lain, peluru ditembakkan dari rumah yang berada di depan TKP. Saat kejadian, rumah tersebut sedang tertutup.
 
"Tetapi, bisa jadi peluru ditembakkan dari kerumunan," kata Tony.
 
Kondisi Gufron pada hari kedua setelah penembakan sudah baik. Hanya, saat ditemui di kediamannya di Tambak Sawah, raut kelelahan terlihat di wajahnya. Penyebabnya, sejak dia diberitakan tertembak, banyak kolega dan kerabat yang mendatangi kediamannya. Di antaranya, kunjungan dari kawan-kawan PGRI. Otomatis waktu istirahatnya juga berkurang. Sejauh ini Gufron tidak mau berspekulasi mengenai orang yang tega melakukan teror atau menganiayanya. Meski demikian, pihaknya juga bakal mengaitkan kejadian itu dengan beberapa kasus yang sedang ditangani.
 
Saat ditanya kemungkinan itu, Gufron tidak mau berspekulasi. ''Untuk kasus (lalu lintas) di sekolah itu terkunci di kepolisian,'' ungkapnya tanpa menjelaskan lebih detail. 
 
Selain kasus tersebut, Gufron ternyata juga disebut-sebut sedang menangani kasus sengketa lahan di Waru. Nah, bukan tidak mungkin sengketa itu juga berbuntut teror penambakan tersebut. Namun, tetap saja Gufron menyerahkan sepenuhnya kepada polisi. (laz/c10/hud)