>> Home Sumatera Ekspres Penggugat Charitas Hadirkan Dua Saksi
Cemas Omzet Turun
PALEMBANG – Kebijakan pemerintah pusat menggratiskan biaya obat-obatan, khus...Readmore
Massa Bakar Kantor PT Gembala Sriwijaya
INDERALAYA - Kantor PT Gembala Sriwijaya di jalan lintas timur, Palembang-Prabumul...Readmore
Kurang Sebulan, Catat 150 SPK
BOGOR – Mobil All New KIA Carens mendapat respon baik dari publik Tanah Air....Readmore
Pembagian Buku Manasik Tertunda
PALEMBANG – Sebanyak 6.475 set buku manasik haji dan umrah kiriman Kementeri...Readmore
Dicat dan Diperbaiki
PALEMBANG – Pascakebakaran bagian bawah jembatan Ampera 2010 lalu, hingga ki...Readmore
  • Cemas Omzet Turun

    PALEMBANG – Kebijakan pemerintah pusat menggratiska...

  • Massa Bakar Kantor PT Gembala Sriwijaya

    INDERALAYA - Kantor PT Gembala Sriwijaya di jalan lintas ...

  • Kurang Sebulan, Catat 150 SPK

    BOGOR – Mobil All New KIA Carens mendapat respon ba...

  • Pembagian Buku Manasik Tertunda

    PALEMBANG – Sebanyak 6.475 set buku manasik haji da...

  • Dicat dan Diperbaiki

    PALEMBANG – Pascakebakaran bagian bawah jembatan Am...

NEWS UPDATE

Stop
Play
Penggugat Charitas Hadirkan Dua Saksi

PALEMBANG - Sidang gugatan perdata antara Fahmi Wati (orangtua pasien Derby Adi Diansyah, selaku penggugat) dengan RS RK Charitas (Tergugat 1), dr Silvia Triatna SpA (Tergugat II), dan RS Myria (turut tergugat) memasuki babak baru. Dalam sidang kemarin (25/4), pihak penggugat yang merupakan orangtua kandung dan pasien Deby Adi Diansyah yang diduga meninggal karena malapraktik di RS RK Charitas menghadirkan dua orang saksi.
Keduanya dari pihak keluarga penggugat, Yusmala Dewi (bibi korban) dan Armalia Tiara Puspa (sepupu korban). Dalam keterangannya, para saksi membenarkan, sejak masuk pertama kali RS RK Charitas tanggal 23 November 2011 pukul 20.30 WIB hingga tanggal 24 November 2011 pukul 16.30 WIB, tidak ada dokter yang memeriksa Derby.
“Awalnya Derby sakit panas, lalu orangtuanya membawa Derby ke RS Myria dan disuruh pulang. Tapi karena lokasi rumah jauh di Banyuasin, akhirnya memilih dirawat inap. Lantaran terbatas peralatan dan ruangan, akhirnya dirujuk ke RS RK Charitas,” jelas saksi Yusmala Dewi di hadapan majelis hakim Pengadilan Negeri Palembang.
Bahkan, diakuinya, dari pemeriksaan darah pasien (Derby, red) tidak diketemukan indikasi atau gejala DBD. Pesan dari perawat RS Myria yang membawa pasien ke RS RK Charitas menyebutkan, tidak perlu masuk UGD tapi cukup ke bagian registrasi. “Selama dirawat, keponakan saya itu tidak ada dokter yang memeriksa. Tapi cuma perawat yang datang,” ungkapnya.
Sementara itu, Armalia Tiara Puspa, dalam kesaksiannya menyebutkan, dokter datang memeriksa pasien sekitar pukul 16.30 WIB. Tapi sejak pukul 11.00 WIB saat pertama datang, selalu kesakitan saat mau buang air kecil. “Setelah sekali periksa lalu disuruh masuk ruang ICU. Ini menimbulkan keanehan dari pihak keluarga. Padahal, harusnya ditangani sejak keluarga melaporkan keluhan pasien,” terangnya.
Dindin Suudin SH, kuasa hukum dari RS RK Charitas mengungkapkan, dari hasil persidangan, saksi membenarkan dan mendukung jawaban sebelumnya. Karena sebelumnya sempat terjadi penolakan dari keluarga pasien. “Tindakan yang dilakukan oleh perawat dan dokter sudah sesuai dengan prosedur yang ada di RS RK Charitas. Ini bisa dilakukan melalui telepon,” katanya tegas.
Apalagi, pasien ini dari rujukan. Meski demikian, dikatakannya semua sudah dilakukan mengikuti kebijakan dan aturan yang ada. “Sehingga tidak serta merta ini bisa disalahkan. Apalagi semua tindakan perawat dikonsultasikan dengan pihak dokter. Dan kita setelah memeriksa langsung memerintahkan agar dimasukkan dalam ruang ICU untuk mendapatkan penanganan intensif, namun ajal berkata lain,” terangnya.
Alamsyah Hanafiah SH, kuasa hukum dari Fahmi Wati menerangkan, saksi telah membenarkan dokter tidak pernah memeriksa pasien dan yang melakukan pemeriksaan cuma dari perawat. “Dari masuk sampai pagi dokter juga tidak datang memeriksa. Padahal pasien sudah sangat kesakitan. Selain itu, infus yang dipasang juga tidak dicabut, padahal pasien kesakitan saat buang air kecil. Akibatnya cairan dalam tubuh pasien kebanyakan dan menyebabkan meninggalnya pasien anak klien kami yaitu Derby Adi Diansyah SH,” bebernya.
Dari kejadian ini, sejak pasien datang hingga meninggal tidak ada perawatan sama sekali oleh tim dokter. Meskipun ada, cuma dilakukan satu kali yaitu sekitar pukul 16.30 WIB, setelah itu langsung dibawa ke ruang ICU.
Fahmi Wati, orangtua korban langsung menimpali, “Padahal dari pagi sampai sore tidak ada tindakan dokter. Begitu diperiksa menggunakan stetoskop langsung masuk ICU. Dan selama di ruang ICU, dokter tidak pernah ada di ruangan. Padahal kita sangat membutuhkan dokter pada saat itu.” (afi/ce1)


Add this to your website
 

ALL SPORT

article thumbnailPercepat Jalur Juara
23 Feb 2013

LONDON - Manchester United akan bertandang ke markas Queens Park Ranger dalam lanjutan Premier League yang akan dilangsungkan Sabtu (23/2). Pertandingan yang rencananya disiarkan Global TV mulai pu [ ... ]


Berita lain

GELORA SRIWIJAYA

article thumbnailKim-Vali Masih Tanda Tanya
23 May 2013

JAKARTA - Besok (24/5), Persiwa Wamena menjamu Sriwijaya FC di Stadion Pendidikan, Wamena. Namun, tim berjuluk Badai Pegunungan itu masih pusing menyiapkan komposisi terbaik untuk menjamu juara ber [ ... ]


Berita lain

Harian Pagi Sumatera Ekspres
Gedung Graha Pena Jl. Kol H Barlian No.773 KM.6,5 Palembang 30152
Telp : (0711) 411768, 415263, 415264
Fax :  (0711) 420066
Info Berlangganan : (0711) 7739888
Info Layanan Iklan : (0711) 420078