Back Anda disini: Home

Artikel

ASI Turunkan Resiko Kanker Payudara

Bulan Oktober ini adalah bulan breast cancer awareness atau pemahaman mengenai kanker payudara. Pemahaman mengenai kanker tersebut penting 
karena angka kematian akibat breast cancer semakin meningkat. 
-------------------------------------
KEPALA Dinas Kesehatan (Kadinkes) Kota Palembang, Dr Anton Suwindro M Kes mengatakan, sebelumnya kanker mulut rahim menjadi pembunuh nomor satu untuk perempuan. Tetapi, kini bergeser dan digantikan breast cancer.
“Keterlambatan dalam penanganan kanker tak lepas dari pasien yang menunda untuk memeriksakan diri. Selain itu, banyak faktor risiko yang andil di dalamnya,”kata dia. Faktor genetik maupun pola hidup yang buruk seperti merokok maupun kurang olahraga tak bisa dituding jadi tersangka utama.
Selain lifestyle, ujarnya, ada faktor lain yang meningkatkan risiko kanker payudara. Yakni, keengganan untuk memberikan air susu ibu kepada bayi. “Tak hanya baik bagi si kecil, menyusui pun punya peran besar dalam tubuh sang ibu,”lanjutnya.
Menurut dia, saat hamil dan menyusui, terjadi peningkatan kualitas dan kuantitas hormon estrogen. Hormon tersebut mengatur siklus pertumbuhan perempuan. Saat menyusui, sel-sel dalam payudara berubah. Yakni, pada periode nol hingga enam bulan, sel payudara ibu menyusui jadi lebih matang.
Bila dibandingkan dengan perempuan yang tak menyusui, terpaan hormon estrogen dapat mengakibatkan proliferasi sel atau pertumbuhan pesat pada sel. “Nah, sel yang bertumbuh itu bisa jadi tak terkontrol dan jadi sel kanker,”ulasnya.
Sel kanker memang berasal dari sel tubuh normal yang terus berubah hingga menjadi sel ganas. Bila perubahan itu tidak bisa dicegah, ada kemungkinan sel normal berubah menjadi sel kanker. Untuk mengurangi risiko itu, Dr Anton menyarankan ibu agar memberikan ASI minimal enam bulan. Tujuannya, sel dan kelenjar di payudara menjadi matang dan tidak berubah jadi ganas.
ASI eksklusif sangat bermanfaat baik bagi ibu maupun bayi. Bagi bayi, ASI mengandung banyak zat kekebalan tubuh dan zat-zat gizi yang tepat bagi bayi. Selain itu, ia dapat menurunkan risiko penyakit infeksi, seperti diare, infeksi saluran napas, obesitas, dan diabetes. ASI eksklusif juga meningkatkan intelegensia bayi. Bagi ibu, menyusui dapat mengurangi perdarahan setelah melahirkan dan menurunkan risiko tumor payudara, kanker ovarium, dan osteoporosis pascamenopause.
“Itu salah satu alasan semua dokter merekomendasikan pemberian ASI selama enam bulan pertama usia bayi,”tambahnya. Faktor imun yang di hasilkan ASI adalah zat yang disebut imunoglobulin sekretorik A (IgA) yang ada dalam jumlah besar di kolostrum susu pertama tubuh memproduksi untuk bayi. 
Dengan memberi ASI sama juga menjaga bayi dari kuman dengan membentuk lapisan pelindung pada selaput lendir di usus bayi, hidung dan tenggorokan. Bayi yang diberi susu formula ketimbang ASI tidak mendapatkan lapisan perlindungan, sehingga mereka lebih rentan terhadap peradangan, alergi dan masalah kesehatan lainnya. “Menyusui dapat meningkatkan kecerdasan anak Anda,”pungkasnya. (may)