Jum10242014

Last update01:24:17 AM

Back Anda disini: Home

Artikel

Pariwisata Sumsel Menuju MEA

Oleh: Devi Valeriani SE MSi*)
* Mahasiswa Program Doktor Ilmu Ekonomi Universitas Sriwijaya
 
Gaung persiapan menghadapi Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) beberapa tahun belakangan ini sangat gencar diwacanakan dan didiskusikan dalam 
banyak forum. Upaya-upaya dari beberapa sektor telah dilakukan untuk memenangkan persaingan, di antara negara-negara Asia Tenggara.
Namun, upaya tersebut diharapkan tidak hanya sekadar wacana, perlu adanya action dan effort yang kuat agar mampu bersaing dalam menghadapi MEA 2015. Cepatnya irama ke arah pemberlakuan MEA menandakan perlunya kesiapan yang matang sehingga Indonesia mampu menguasai Asia Tenggara, bukan sebaliknya.
Pariwisata adalah industri yang menjual jasa, sarana dan prasarana pada sebuah destisasi wisata. Indonesia mempunyai target Rencana Jangka Panjang Pariwisata dapat mencapai 25 juta wisatawan mancanegara di tahun 2025. Kesiapan Indonesia dalam menghadapi MEA dinilai sudah cukup matang, khususnya dari sektor pariwisata, karena sudah lamanya persiapan untuk menghadapi MEA, baik itu dari segi industri maupun SDM yang memenuhi standar kompetensi. Namun, hal lain yang harus diperhatikan adalah permasalahan infrastruktur, konektivitas, kesehatan dan kebersihan (sumber: Kementerian Pariwisata dan Industri Kreatif, 2014). Pemberlakuan MEA yang tanpa persiapan akan berdampak buruk bagi Indonesia, termasuk di dalamnya sektor pariwisata.
Pariwisata merupakan gabungan antara jasa dan industri penyedia pelayanan kepada wisatawan yang dapat memberi suatu pengalaman kepada wisatawan, seperti transportasi, akomodasi, pusat perbelanjaan, jasaboga, tempat hiburan, fasilitas penunjang lainnya, dan berbagai hal yang disediakan bagi wisatawan yang sedang berada jauh dari rumah (Soekadijo R.G, 2000: Anatomi Pariwisata). Terdapat empat aspek yang harus diperhatikan dalam penawaran pariwisata, yaitu: attraction (daya tarik), accesable (transportasi), amenities (Fasilitas), dan ancillary (kelembagaan) (sumber : Ariyanto.2005: EkonomiPariwisata).
Sumatera Selatan merupakan salah satu destinasi wisata yang telah dikenal hingga ke mancanegara. Dengan sebutan sebagai “Bumi Sriwijaya”, “Kota Pempek” yang berpenduduk lebih kurang 7.450.394 jiwa menyimpan banyak sekali potensi pariwisata yang dapat dimanfatkan secara optimal. Objek-objek wisata di Sumatera Selatan sudah terbagi atas wisata sejarah, wisata kuliner, wisata religius, wisata bahari, wisata alam, dan wisata olahraga. Sungai Musi yang merupakan sungai terpanjang di Sumsel dengan Jembatan Ampera-nya merupan salah satu icon pariwisata yang sudah mendunia. Memiliki objek wisata dengan potensi yang sangat memadai apakah cukup bagi Provinsi Sumatera Selatan untuk bersaing merebut pangsa pasar dalam komunitas ASEAN? Siapkah SDM-nya? Siapkah infrastrukturnya? Siapkah konektivitasnya? Siapkah dengan industri yang menjadi ikutan sektor pariwisatanya?
Sarana dan prasarana di Sumatera Selatan sebagai penunjang utama konektivitas adalah Bandara Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) II. Bandara merupakan gerbang awal masuknya wisatawan ke suatu destinasi wisata. Dengan bandara yang sudah bertaraf internasional, mempunyai jalur penerbangan yang cukup padat, termasuk sudah tersedianya jalur penerbangan internasional seperti Palembang–Singapura (PP), Palembang–Malaysia (PP), ini merupakan potensi awal untuk menghadapi tantangan persaingan dalam MEA 2015. Potensi awal tersebut merupakan modal bagi Sumsel menghadapi ketatnya persaingan dalam industri pariwisata. Bermodal sebagai tuan rumah dalam penyelenggaraan beberapa event tingkat internasional (seperti SEA Games 2011, Islamic Solidarity Games 2013, MTQ Internasional 2014, Pekan Olah Raga Mahasiswa Asian 2014), adalah merupakan kekuatan bagi Sumsel. Ditunjang dengan banyaknya jumlah hotel berbintang dan non-bintang yang telah sering menerima wisatawan mancanegara khususnya dalam event-event internasional, tentunya SDM yang ada dalam sektor pariwisata tersebut sudah dipersiapkan, minimal dengan kemampuan berbahasa asing, pelayanan prima, termasuk memberi informasi kepariwisataan kepada para wisatawan. 
Kompetensi SDM untuk ke depannya perlu menjadi perhatian, bagaimana agar SDM-SDM yang terlibat dalam kepariwisataan telah tersertifikasi baik secara nasional maupun internasional. Perlu adanya kerja sama antara pemerintah daerah setempat dan para pelaku industri pariwisata membentuk sebuah lembaga formal yang memfasilitasi peningkatan kompetensi/edukasi bagi SDM kepariwisataan dan sertifikasi kepariwisataan. Sehingga diharapkan SDM yang tersedia mampu bersaing dengan SDM-SDM dari komunitas MEA. 
 
Hal lain yang menjadi perhatian dalam menghadapi tantangan MEA tersebut adalah industri kreatif yang akan menjadi penunjang keberhasilan industri pariwisata secara umum. Sumsel dengan ibu kota provinsinya Palembang telah mempunyai banyak sekali pusat-pusat oleh-oleh, pusat cendera mata, wisata kuliner, yang hampir tersebar di setiap sudut kota. Dari kualitas yang biasa sampai dengan kualitas yang luar biasa, bisa menjadi banyak pilihan bagi wisatawan.
Tenunan songket merupakan cendera mata yang banyak diburu wisatawan. Tenunan ini merupakan khas Sumsel, yang motifnya sekarang sudah bergaya modern, namun tanpa meninggalkan motif aslinya. Tetap dengan nuansa emas dan corak yang cerah, batik-batik jumputan pun banyak tersedia di galeri-galeri wisata. Pemerintah daerah setempat harus mampu menggerakkan masyarakat yang kreatif untuk bekerja sama mendukung industri kreatif, khususnya industri yang mendukung sektor pariwisata dengan kualitas produk yang dihasilkan berstandar internasional dan mempunyai nilai jual, serta produk tersebut tidak hanya memenuhi pasar domestik saja, namun sudah diarahkan untuk pasar internasional.
Keberhasilan mengikutsertakan masyarakat dalam kegiatan industri kreatif akan menjadikan income daerah yang sangat besar, bukan hanya dari segi finansial, melainkan juga dari segi pemberdayaan masyarakatnya, sehingga secara tidak langsung akan tercipta sebuah pariwisata yang berbasis masyarakat (community based tourism). 
Daya tarik (attraction), dalam hal ini atraksi-atraksi yang ditampilkan pada objek-objek wisata, akan menjadi hal yang sangat berkesan bagi wisatawan jika dikemas dengan baik. Budaya lokal dengan sentuhan kedaerahan yang unik akan mempunyai nilai jual yang tinggi. Apalagi Sumsel sangat kental dengan tarian-tarian adat, upacara-upacara adat, festival dayung, dan sebagainya dapat menjadi tontonan bagi wisatawan. Dalam mengemas atraksi budaya diperlukan juga kreativitas yang tinggi. Sehingga apa yang disajikan jauh dari kesan membosankan, bahkan menjadi suatu hal yang berkesan bagi wisatawan, yang kemudian berharap bisa mengulangi lagi kunjungan wisatanya.
Untuk memasuki tantangan yang sudah di depan mata, yaitu MEA 2015, faktor lain yang perlu menjadi perhatian juga adalah komitmen para stakeholder/ (pemangku kepentingan). Stakeholder sebagai penentu regulasi kepariwisataan diharapkan dapat memberikan kemudahan bagi pelaku industri pariwisata dalam pengembangan objek-objek wisata, pengembangan industri-industri wisata, dan pengembangan infrastruktur wisata. Melalui stakeholder pula, kondisi kondusif destinasi wisata diharapkan dapat terjaga, khususnya wisatawan mancanegara yang sangat peduli dan memerhatikan masalah keamanan dan kenyaman dalam berwisata. 
Faktor terakhir yang juga menjadi bagian penting dalam menghadapi MEA 2015 adalah perlunya promosi yang sangat agresif. Sebaik dan sebagus apa pun suatu destinasi wisata, jika tidak didukung dengan promosi yang menarik, maka hal tersebut akan menjadi sia-sia.
Sebab, daya tarik (attraction) dalam promosi pun merupakan komponen yang menentukan wisatawan akan berkunjung ke suatu destinasi wisata atau tidak. Sumsel melalui berbagai pihak, baik pemerintah daerah maupun biro-biro perjalanan dan berbagai asosiasi pariwisata, telah memberikan banyak informasi melalui internet. Dengan mudah kita dapat mengetahui destinasi-destinasi wisata berikut paket-paket harga yang ditawarkan, tempat pusat cendera mata, pusat oleh-oleh, pusat kuliner sangat mudah diakses. Hanya saja perlu adanya pemikiran agar promosi tersebut dapat dibuat dalam dua bahasa, yaitu bahasa Indonesia dan bahasa internasional (Inggris). Ini mengingat target Sumsel untuk mampu menghadapi pasar ASEAN. Bandara, hotel-hotel, objek-objek wisata sebaiknya dilengkapi dengan informasi-informasi seputar Provinsi Sumsel, sehingga memudahkan para wisatawan untuk memperoleh informasi. 
Bukan hal yang mudah dan bukan hal yang mustahil untuk memenangkan persaingan dalam MEA. Kita harus menganggap MEA adalah sebuah peluang besar bagi industri pariwisata di Sumsel untuk meningkatkan dan memperbaiki diri serta memperkuat keunggulan wisata daerah. Perlu adanya komitmen yang kuat antara pelaku usaha wisata dan stakeholder. Sehingga kepariwisataan diharapkan menjadi salah satu sektor andalan perekonomian Sumsel yang mampu menggalakkan berbagai kegiatan ekonomi guna menyediakan lapangan pekerjaan, meningkatkan pendapatan daerah dan masyarakat. Semoga. (*/ce6)