Back Anda disini: Home

Artikel

Polri Ungkap Jaringan Mafia Hongkong

JAKARTA - Mabes Polri sedang menyiapkan sejumlah peralatan deteksi narkoba baru di pelabuhan dan 
bandara. Hal itu dilakukan menyusul pengungkapan jaringan narkoba internasional dengan barang bukti sabu-sabu oleh Direktorat Narkoba Polri belum lama ini. Jumlah tergolong fantastis, mencapai 71,5 kilogram atau senilai Rp143 miliar.
Kapolri Jenderal Sutarman mengatakan, pengungkapan tersebut belum tuntas. Pihaknya masih memburu dua bandar asal Hongkong dan pengedar besar di sejumlah kota yang menjadi bagian jaringan internasional tersebut. “Karena informasi ini sudah bocor, sementara saya jelaskan dulu pengungkapan awalnya,” ujar Sutarman di Mabes Polri kemarin.
Sabu-sabu itu diperoleh dari empat penyelundup melalui penangkapan secara simultan. Dimulai dari Agung Nugroho, warga Jakarta, dengan barang bukti 4,5 kilogram sabu-sabu. Dari nyanyian Agung, polisi menangkap Lo Tin Yau, warga negara Tiongkok dengan barang bukti 25 kilogram sabu-sabu. Lo ditangkap di kamar 7011 Hotel Hariston Jakarta Utara, 24 September lalu.
Usai meringkus Lo, polisi bergerak lagi dan menciduk Chau Fai Chuen, warga negara Tiongkok, di lobi Fave Hotel, Jakarta. Lewat interogasi awal, polisi menggeledah sebuah unit di apartemen Green Bay Pluit, Jakarta Utara. Di dalam apartemen tersebut polisi mendapati sabu-sabu yang setelah dikumpulkan beratnya 34 kilogram.
Terakhir, polisi menangkap Fan Koon Hung, warga Hongkong di sebuah rumah di Jalan Budi Asih, Tangerang, pada 29 September. Fan datang ke Indonesia setelah memastikan sabu-sabu kirimannya sampai di Tangerang. Polisi mengikuti dia dari Bandara Soekarno-Hatta. Ketika sampai di lokasi dan membuka paketnya, barulah polisi meringkus Fan. Barang bukti sabu-sabu milik Fan mencapai delapan kilogram.
Modus penyelundupan barang haram itu sangat rapi. Narkoba asal Hongkong tersebut dibungkus terpisah-pisah dalam kemasan plastik dengan berat 1-3 kilogram. Kemudian, setiap kemasan diselipkan dalam dus yang berisi manisan jeruk. Setelahnya, manisan tersebut diekspor ke Indonesia melalui jalur laut.
Benar saja, saat di pelabuhan, paket sabu-sabu itu tidak terendus oleh anjing pelacak karena tertutup oleh bau tajam jeruk. Namun, belakangan polisi tetap mampu menemukan paket tersebut beserta para tersangkanya. “Kami menyelidiki mereka selama empat bulan. Teknisnya hingga bisa menemukan tidak bisa kami ungkap ke publik,” tutur alumnus Akpol 1981 itu. 
Dirnarkoba Bareskrim Polri Brigjen Anjan Pramuka menjelaskan, narkoba jenis sabu-sabu termasuk mahal di Indonesia. Di tingkat konsumen, harganya mencapai Rp2 juta per gram. “Nilai barang bukti dalam pengungkapan kali ini Rp143 miliar,” terangnya.
Para tersangka dikenakan pasal berlapis dalam UU nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika. Yakni, pasal 114 jo 132 jo 113 subsidair pasal 112 jo 132. Pasal tersebut memuat perdagangan narkotika golongan 1 yang bobotnya melebihi 1 kilogram. Ancaman sanksinya adalah hukuman mati.
Kapolri memastikan pihaknya akan memberikan bukti-bukti yang meyakinkan pada saat persidangan nanti. Dengan demikian, pihaknya berharap hakim mau mempertimbangkan hukuman terberat bagi para perusak generasi bangsa itu. “Narkoba ini bisa meracuni sedikitnya 7.150.000 orang,” tutur Sutarman. Asumsinya, satu orang mengonsumsi 0,01 gram sabu-sabu.
        Mantan kapolwiltabes (sekarang Polrestabes) Surabaya itu menuturkan, cukup banyak modus operandi penyelundup narkoba yang diungkap Mabes Polri. Modus paling umum adalah menyembunyikan narkoba di salah satu perlengkapan yang menempel di tubuh.
        Cara umum lainnya adalah menyimpannya di dalam tubuh dengan cara ditelan. Cara tersebut memiliki risiko amat besar, karena kalau kapsul yang ditelan itu pecah, penyelundup bisa mati keracunan. Selama ini cara tersebut sudah berulang kali terungkap oleh kepolisian di berbagai kota.
        Salah satu cara ekstrem menyelundupkan narkoba adalah dengan menggunakan mayat bayi. Sutarman menuturkan, pihaknya pernah menangkap penyelundup yang menggunakan mayat bayi. “Petugas curiga karena bayi itu tidak bergerak sama sekali. Ternyata itu mayat bayi yang organnya diambil dan diganti sabu,” ujarnya. namun, Sutarman menolak menjelaskan lebih lanjut mengenai pengungkapan tersebut.
        Setelah pengungkapan fantastis tersebut, Sutarman menjanjikan pengetatan pengawasan di sejumlah pintu masuk Indonesia bersama Bea Cukai. Pihaknya akan terus memperbaharui sistem maupun alat deteksi narkoba di pelabuhan-pelabuhan dan bandara. “Selama ini, yang paling berperan dalam pengungkapan narkoba sebenarnya adalah insting petugas,” terangnya. Peralatan canggih hanya membantu membuktikan kecurigaan petugas terhadap para penyelundup. 
        Polri juga mustahil mengawasi pintu-pintu masuk ilegal seperti pelabuhan tikus. Apalagi jika transaksi dilakukan di tengah laut. Misalkan berkedok kapal nelayan yang menangkap ikan. Kapal nelayan tersebut membarter ikan dengan narkoba di tengah laut. Sepintas, yang tampak adalah nelayan menjual hasil tangkapannya secara langsung ke konsumen di tengah laut.
        Sutarman menambahkan, kerjasama antar kepolisian di berbagai negara sangat membantu dalam pengungkapan berbagai kasus narkoba. Jika ada WNA melakukan tindak pidana di Indonesia, maka dia akan diadili di Indonesia. Namun, jika pelaku kejahatan datang ke Indonesia hanya untuk bersembunyi, jika tertangkap akan segera dideportasi. (byu/sof)