Back Anda disini: Home

Artikel

Sepekan, Investor Asing Lepas Rp 1 Triliun

JAKARTA - Menutup perdagangan akhir pekan, indeks harga saham gabungan (IHSG) kembali mendarat di zona merah. Pada penutupan perdagangan kemarin, indeks drop 30,919 poin (0,619 persen) ke level 4.962,96. Sedangkan indeks 45 saham unggulan (LQ45) turun 5,72 poin (0,68 persen) ke posisi 838,68.
 
Dengan penurunan itu, artinya sepanjang pekan IHSG terkoreksi 0,28 persen jika dibandingkan dengan minggu sebelumnya. Saham yang diperdagangkan sepanjang lima hari itu tercatat 23,720 miliar lembar dengan nilai Rp 22,873 triliun. Investor asing secara kumulatif dalam seminggu melakukan aksi beli Rp 9,937 triliun dan aksi jual Rp 11,022 triliun. Dengan begitu, terjadi penjualan bersih (foreign net sell) senilai Rp 1,084 triliun.
 
Khusus perdagangan kemarin, investor asing melakukan penjualan bersih Rp 620,3 miliar. Secara kumulatif, sejak awal tahun sampai kemarin investor asing masih mencatatkan pembelian bersih Rp 44,643 triliun. Di pasar uang, nilai tukar rupiah kembali melemah ke Rp 12.207 per dolar Amerika Serikat (USD) bila dibandingkan dengan Rp 12.190 per USD pada penutupan sebelumnya (kurs tengah Bank Indonesia).
 
Bursa Asia pada penutupan perdagangan kemarin kompak di zona merah. Indeks Straits Times turun 35,38 poin (1,09 persen) ke 3.223,87. Indeks Nikkei 225 terkikis 178,38 poin (1,15 persen) ke 15.300,55. Indeks Hang Seng anjlok 445,99 poin (1,90 persen) ke 23.088,54. Indeks Composite Shanghai melemah 14,83 poin (0,62 persen) ke level 2.374,54.
 
Tim Riset PT Valbury Asia Securities memaparkan, ada sejumlah sentimen yang menggerakkan bursa domestik. Dari sisi eksternal, langkah Bank of Japan (BoJ) mengambil kebijakan moneter longgar untuk mencapai target inflasi 2 persen bakal membawa angin segar. Perekonomian Jepang bakal diuntungkan dengan target pencapaian inflasi 2 persen sehingga berdampak pada kawasan regional.
 
Sejumlah ekonom juga memperkirakan BoJ menaikkan stimulus dalam jumlah signifikan pada Januari 2015 jika dibandingkan dengan Oktober 2014. BoJ sendiri tidak menutup pintu pelonggaran baru apabila laju inflasi menjauh dari sasaran.Ini membawa sentimen positif ke pasar. (gen/c11/oki)