Sen09012014

Last update11:42:09 AM

Back Anda disini: Home

Artikel

Duku Komering Terancam Punah

Manisnya duku komering dikenal hingga tingkat nasional. Hanya saja, tanaman dengan istilah lansiumdomesticum corr itu terancam punah. Akankah Sumatera Selatan (Sumsel) kehilangan tanaman yang sudah menjadi identitas tersebut ?

UMUMNYA duku komering tumbuh di pinggiran Sungai Ogan. Tanaman tersebut menyebar merata hampir di seluruh wilayah Sumsel.

Seperti di Kabupaten OKU Timur, OKU, Musirawas, Muratara, Muara Enim, dan OKI. Hanya saja, keberadaannya terancam punah. Ini lantaran, kondisi sekitar tanaman tersebut yang mulai tidak mendukung.
    Banyak faktor yang memengaruhinya. Diantaranya penggundulan hutan dan lahan di bagian hulu, serta pendangkalan hebat pada daerah aliran sungai (DAS) yang berdampak terjadinya banjir. Nah, kondisi itu ternyata menjadi penyumbang terhadap ancaman kepunahan tanaman duku.
    “Tanda-tanda tanaman duku terancam punah itu sekarang sudah tampak. Bahkan, pada sejumlah daerah, pohon duku banyak mati. Lambat-laun akan menular ke daerah lain jika tidak ditanggulangi,” ungkap Dr Ir Suwandi MAg, ketua survei wabah penyakit mati massal tanaman duku di Kecamatan Lubuk Batang, Kabupaten OKU digagas Lembaga Pengabdian Masyarakat Universitas Sriwijaya.
    Menurut Suwandi yang didampingi anggota survei, Dr Ir Chandra Irsan MSi, selain akibat banjir hingga pohon duku banyak mati, ada penyebab lain yang cukup mengkhawatirkan, yakni kehadiran mati massal tanaman duku. Matinya pohon duku ini diawali dengan cara meranggas, yakni pelapukan yang diawali dari ujung ranting hingga ke batang. Jenis penyakitnya sendiri masih didalami. Yang jelas, kondisi ini patut diwaspadai.
    “Penyakit tersebut ditemukan pada tanaman duku di desa Lubuk Batang Lama dan Lubuk Batang Baru, Kecamatan Lubuk Batang, Kabupaten OKU Induk. Dimana, ada kemiripan jenis penyakit tersebut pada sejumlah tanaman duku di Kabupaten OKU Timur,” ungkap Suwandi.
Dijelaskan, kematian massal tanaman duku ditemukan pada tanaman duku di aliran Sungai Ogan. Gejala awal serangan penyakit berupa kelayuan dan kematian ujung ranting. Pada tahapan selanjutnya, sebagian ranting dapat layu, mengering, dan mati. Penyakit ini menyebar cepat ke bagian tanaman di bawahnya. Inilah yang menyebabkan kematian sebagian atau seluruh tajuk.
Penyakit cepat menular ke tanaman di sekitarnya sehingga menyebabkan kematian pada hamparan kebun. Jika ranting layu dipotong, akan ditemukan empulur atau teras cabang yang berwarna cokelat kehitaman. Kulit batang sakit akan melapuk berwana abu-abu dengan bercak-bercak cokelat kehitaman.
Selanjutnya, kata Suwandi, pelapukan yang cepat pada bagian empulur dan pembuluh diduga disebabkan oleh aktivitas toksin yang dihasilkan patogen. Pelapukan pada bagian yang vital inilah yang menyebabkan tanaman cepat layu, mengering, dan mati.
Kemudian, pengamatan lebih lanjut menunjukkan bahwa titik awal melapuknya teras dan kulit kayu bermula dari titik atau daerah luka bekas gerekan hewan pengerat. “Diduga kuat, gerekan hewan pengerat menjadi jalan masuk patogen ke jaringan pembuluh. Gejalah penyakit ini ditemukan pada tanaman yang belum dan sudah berbuah,” terangnya. Nah, cara pemulihan sementara, bisa dilakukan dengan pemangkasan pada bagian cabang atau ranting.
Masih kata Suwandi, dari hasil survei di lapangan ini, tentunya menjadi acuan sementara untuk penelitian lebih lanjut. Terutama, untuk meneliti nama penyakitnya. Dimana, penyakit kematian massal tanaman duku tersebut belum pernah dilaporkan sebelumnya. Meskipun menurut pengamatan masyarakat, gejala kematian sama dengan yang ditemukan di OKU Timur.
Oleh karenanya, lanjut dia, survei penyakit perlu dilanjutkan ke daerah yang dilaporkan masyarakat. Langkah ini memetakan serangan penyakit dan mengidentifikasi faktor-faktor ekologis untuk pengendaliannya. Karena, wabah penyakit yang menyebabkan kematian massal tanaman duku penah terjadi di Provinsi Jambi.
Penyakit tersebut, kata dia, merupakan penyakit kanker batang yang gejala awalnya dimulai dari batang. Sedangkan penyakit duku di Kabupaten OKU ini merupakan pelapukan teras kayu yang dimulai dari ranting.  “Sejauhmana kemiripan antara penyakit-penyakit tersebut, perlu kajian lebih lanjut. Yang jelas, harus ada upaya konkret yang dilakukan semua komponen. Terutama, pemerintah dan masyarakat sendiri,” ujarnya. (asa/roz/ce4/ndy)