Kam09182014

Last update02:00:37 PM

Back Anda disini: Home

Artikel

SBY Kunjungi Korban Letusan Gunung Kelud

KEDIRI - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), kemarin mengunjungi korban letusan Gunung Kelud. SBY bersama ibu Ani Yudhoyono mengunjungi pengungsi yang ada di Masjid An Nur, Pare, Kabupaten Kediri.

    Sekitar pukul 13.00 WIB, Presiden bersama rombongan sampai di posko yang menampung lebih dari seribu pengungsi tersebut. Para pengungsi dan warga sekitar yang telah menunggu kedatangan SBY berkerumun untuk bisa bertemu langsung dan bersalaman.
          Dalam kunjungannya, SBY dan rombongan menyempatkan diri menemui beberapa pengungsi. Mereka meninjau bagaimana posko kesehatan yang ada di pengungsian tersebut. Dalam sehari, sekitar 300 pengungsi mendapat perawatan ditempat tersebut. Kebanyakan dari mereka mengalami sakit darah tinggi dan batuk pilek.
    Presiden SBY menyapa para pengungsi. Seorang lansia yang sedang duduk di sebuah kursi mencuri perhatian ibu presiden. Ani Yudhoyono kemudian berbincang dengan Sarti (86), pengungsi asal Ngarpang, Puncu. Surti mengeluhkan mengalami sakit sesak napas. Ani Yudhoyono berharap semoga Sarti lekas sembuh.
    Rombongan juga memantau posko-posko relawan yang didirikan di sekitar Masjid An Nur. SBY mengucapkan terima kasih terhadap para relawan yang telah meluangkan waktunya. “Terima kasih kepada para relawan,” ungkapnya.
    Kunjungan singkat SBY ke lokasi pengungsian membuat merasa bahagia. Hal ini diungkapkan Juninah (47), pengungsi asal Kampung Baru, Kecamatan Kepung. Ia meresa senang bisa bertemu langsung dengan orang nomor satu di Indonesia. “Senang bisa bertemu dengan bapak presiden,” ungkapnya.
    Selain ada yang senang dengan kedatangan SBY. Ada pengungsi yang mengalami kekecewaan. Hal ini dirasakan Sriatun (45), pengungsi yang tinggal di Tulungrejo, Pare. Ia kecewa karena presiden tidak mengunjungi semua posko pengungsian.
          Sekitar 30 menit, SBY dan rombongan mengunjungi posko pengungsian Masjid An Nur Pare. Rombongan melanjutkan perjalanan untuk menjenguk pengungsi yang ada di Kecamatan Wates.

Pembagian Logistik Tak Terkoordinasi

    Pembagian logistik di kawasan terdampak letusan Gunung Kelud terkesan tak terkoordinasi. Tidak ada koordinasi yang jelas. Warga pun merasa tak diperlakukan secara adil. Terutama yang berada di kawasan atas atau di lereng gunung. Pasalnya, barang-barang sumbangan kerap sudah habis di bawah.
    Kondisi ini salah satunya dialami Andik (35), warga Dusun Laharpang, Desa/Kecamatan Puncu. “Dari bawah sudah diambili. Yang atas nggak kebagian. Kalau gitu terus kami makan apa?” ujarnya.
    Menurutnya, sama sekali tak ada koordinasi yang dilakukan. Barang-barang kebutuhan untuk hidup, seperti mi, air mineral, selimut, dan lain sebagainya, bahkan nasi bungkus kerap sudah habis saat mobil pengantar sumbangan sampai di atas.
    “Kayak saya ini terpaksa turun jauh untuk dapat. Itu pun paling mi, yang bisa terbawa. Padahal keluarga saya banyak yang butuh,” ungkapnya.   
    Hal senada juga dikatakan Erna (30), yang juga warga dusun yang paling dekat dengan Gunung Kelud ini. Menurutnya, masalah koordinasi pendistribusian barang sumbangan memang sulit.
“Perangkat sibuk ngurusi bantuan yang lain seperti genteng. Jadi nggak ada yang ngatur ini,” ujarnya.
    Kondisi ini kabarnya juga terjadi di wialayah lain. Selain tempat yang jauh. Medan yang berat memang jadi kendala. Truk atau pikap pengantar sumbangan dari warga kerap berhenti di jalan-jalan besar, atau desa yang masih berada di kawasan landai. 
    Mengingat semakin ke atas, pasir semakin tebal. Tak hanya itu, bebatuan seukuran genggaman tangan juga memadati jalan. Hal ini membuat kendaraan oleng. Roda kendaraan hanya berputar, tak bisa melaju. Apalagi jika tanjakannya semakin curam. Kendaraan rawan tergelincir.
    Terkait tak terkoordinasinya pembagian logistik, Edhi Purwanto, Plt Kabag Humas Pemkab Kediri mengatakan bahwa kondisi ini karena banyak penyumbang yang langsung datang ke lokasi. Padahal, Pemkab selalu menyarankan agar penyumbang mengirimkan bantuannya lewat bagian logistik Satlak PB yang terletak di depan area convention hall (CH) Simpang Lima Gumul (SLG). “Tapi kalau mau dibawa sendiri, kami tidak bisa melarang. Tapi agar lebih terkoordinir dan tepat sasaran ya dibawa ke bagian logistik Satlak saja,” ujarnya.
    Mengingat banyaknya sumbangan logistik dari pihak swasta, apakah Pemkab sendiri juga menyediakan anggaran untuk logistic? Edi mengaku am status bencana pemkab tentu melibatkan semua pihak secara darurat. “Ada obat-obatan dan lain sebagainya. Itu juga termasuk logistik dari Pemkab,” ujarnya. (die/jpnn/ce2/ndy)