Min07052015

Last update07:46:33 AM

Back Anda disini: Home

Artikel

Mestinya Too Big to Fail

SAYA hanya bisa mendengarkan dengan sungguh-sungguh ketika banyak pengusaha mengeluhkan lesunya ekonomi saat ini. ”Sangat lesu,” kata mereka.
 
”Jauh dari yang dulu kami bayangkan,” tambah mereka. Ada yang omzetnya turun sampai 40 persen. Banyak yang sudah melakukan PHK.
 
Tidak menyangka, begitu saya kembali dari sekolah di Amerika Serikat selama tiga bulan, saya harus menghadapi banyak pertanyaan dari para pengusaha seperti itu.
 
Tiba-tiba saya merasa bersalah ketika saya tidak bisa menjawab pertanyaan mereka. Misalnya: Sampai kapan kelesuan ekonomi ini akan berlangsung? Saya juga belum siap untuk menjawab pertanyaan ini: Masih akan lebih lesu atau akan tetap lesu atau kelesuan ini akan segera berakhir?
 
Jawaban saya satu-satunya adalah: Coba saya pikirnya dulu. Sudah tiga bulan saya tidak mengikuti perkembangan apa pun. Selama di Amerika, saya benar-benar puasa berita. Tidak mengikuti perkembangan di dalam negeri. Jawa Pos pun (online) tidak saya buka. Saya terus belajar dan belajar. Dan membaca buku. Sampai 16 buku saya lahap dalam tiga bulan. Sayang, tidak satu pun tentang ekonomi.
 
Membaca kelesuan ekonomi itu harus kita sikapi sebagai membaca huruf. Kelesuan itu kita ibaratkan garis yang menurun. Seperti memulai menulis huruf ”I”. Kalau masih terus menurun, berarti ”I”-nya masih akan panjang. Kalau kelesuan itu sudah sampai tahap paling lesu, garis itu berhenti.
 
Tidak bisa lebih lesu lagi. Lebih dari itu berarti mati.
 
Panjang-pendeknya ”I” bergantung lama atau sebentarnya masa kelesuan itu. Setelah kelesuan mencapai dasarnya, kemungkinan garis itu hanya satu: berbelok ke samping. Dari huruf ”I” menjadi huruf ”L”. Tetap lesu, tapi tidak akan lebih lesu lagi. Apakah ”L”-nya akan pendek atau akan menjadi ”L” panjang, tentu bergantung yang memegang pena.
 
Pola ”L” yang pendek tentu bisa kita terima. Tidak mungkin dari turun langsung bisa naik. Harus melalui masa-masa mendatar dulu. Tapi, kalau ”L”-nya terlalu panjang, kematianlah yang akan dihadapi.
 
Kita tentu mengharapkan pola ”L” itu segera berubah menjadi ”U”. Berarti segera sembuh dari kelesuan. Lantas, segera bangkit lagi ke atas. Pemegang pena harus berusaha keras menarik pena itu untuk membuat huruf ”U”, bahkan sejak ketika huruf ”I” sedang terjadi.
 
Ini tidak mudah. Persyaratannya banyak. Tintanya harus ada. Penanya harus ada. Kertasnya harus ada. Yang pegang pena juga harus punya kemampuan memegang pena. Semuanya akan teratasi kalau ada keyakinan mampu mengatasinya.
 
Banyak ekonom yang masih memegang teori lama ini: Biarkan rupiah melemah. Itu ada baiknya. Ekspor kita akan melonjak.
 
Teori itu benar. Pada masanya.
 
Tapi, para pengusaha yang sehari-hari bergerak di bidang ekspor bisa menemukan kenyataan lain. Pembeli di luar negeri bukan pedagang yang bodoh. Mereka tahu bahwa rupiah lagi melemah. Berarti eksporter Indonesia ambil untung terlalu banyak. Mereka juga berhitung. Lalu minta harga diturunkan.
 
Dari pengalaman itu, kita jadi tahu bahwa teori ”rupiah melemah, ekspor akan meningkat” tersebut kini hanya berlaku sebagian.
 
Kita hanya bisa melihat dan mengamati. Apakah dalam waktu tiga bulan ke depan huruf ”I” itu sudah akan mulai berubah menjadi ”L”?  Atau ”I”-nya masih akan lebih panjang?
 
Teori-teori yang kelihatannya nonekonomi kini juga sudah diakui menjadi bagian dari teori ekonomi. Misalnya trust. Kepercayaan. Tidak adanya trust sudah bisa mengganggu ekonomi. Misalnya lagi ”persepsi”. Kelihatannya kata itu jauh dari teori ekonomi. Tapi, persepsi bahwa kita akan mampu atau tidak akan mampu juga berpengaruh pada ekonomi.
 
Misalnya lagi signal atau conflicting signal. Tidak satunya kata dan perbuatan. Tidak satunya kata seseorang dengan orang yang lain.
 
Kelihatannya itu bukan teori ekonomi, tapi sudah akan langsung berpengaruh pada ekonomi.
 
Dan banyak lagi.
 
Lalu, di mana hope-nya?
 
Tetap ada.
 
Indonesia sebenarnya tidak mudah jatuh. Negeri ini sudah terlalu besar untuk mudah jatuh atau dijatuhkan begitu saja. Secara ekonomi, Indonesia juga telanjur besar. Dalam kata-kata singkat, sebenarnya Indonesia ini sudah termasuk too big to fail.
 
Tapi, bukan berarti kita boleh bersikap sembrono. Atau menganggap persoalan kelesuan ini hanya remeh-temeh. (***)
 
        Dahlan Iskan
Mantan CEO Jawa Pos