Sel09232014

Last update01:53:51 AM

Back Anda disini: Home

Artikel

Jagad Maritim Sumatera

Oleh: Farida R. Wargadalem dan Budi Agustono*)

*) Farida R. Wargadalem, staf pengajar Prodi Sejarah, Universitas Sriwijaya dan  Ketua Umum Masyarakat Sejarawan Indonesia (MSI) Cabang Sumsel. Budi Agustono, Sekretaris Prodi Magister Sejarah, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Sumatera Utara.      

Ketika Indonesia lampau bernama Nusantara, bangsa ini dikenal sebagai bangsa  maritim. Masyarakat maritim ditandai dengan masyarakat yang terbuka, kosmopolitan, dan berwawasan mancanegara, outward looking.

Ciri masyarakat maritim yang terbuka, kosmopolitan, dan berwawasan mancanegara ini terlihat ketika terjadi persentuhan silang antarbudaya antara masyarakat yang berada di kota-kota pantai dengan pedagang yang berasal dari berbagai belahan negara mancanegara seperti Tionghoa, Arab, Persia, India, dan Eropa. Sewaktu masyarakat kota maritim  menjalin aktivitas perdagangan dengan masyarakat mancanegara terjadi perkawinan antara masyarakat lokal dengan orang Tionghoa, Arab, Persia, dan India.
Perkawinan antara perempuan lokal dengan pedagang Cina yang bermukim di kota setempat memadukan dan menyerbukkan silang budaya antara orang lokal dan budaya Tionghoa. Karena pedagang Tionghoa menetap dan kawin dengan perempuan lokal di berbagai tempat, misalnya di wilayah kota pantai Sumatera seperti Palembang, dan Jambi, pedagang Tionghoa mendapat jabatan strategis menjadi syahbandar di  daerah tersebut.
Palembang yang dibangun wangsa Sriwijaya merupakan kantong peradaban maritim.  Puluhan sungai  yang terhubung dengan Sungai Musi yang berada di sekitar kota menjadi urat nadi dalam jalur maritim. Banyaknya sungai, baik yang ada di pusat kota (Kota Dua Puluh Sungai) maupun di uluan (dikenal dengan nama Batanghari Sembilan). Pedagang Tionghoa, Arab, India, dan Persia, ditambah lagi pedagang-pedagang lokal dari berbagai wilayah Nusantara yang datang ke Palembang untuk barter bermacam komoditi semakin menjulangkan Palembang.
Posisi yang sangat strategis dan memiliki berbagai komoditi yang laku di pasar dunia, menempatkan Palembang menjadi kawasan yang sangat diperhitungkan dalam percaturan dunia. Prasasti-prasasti Sriwijaya dan Berita Cina abad 7-10 dengan sangat jelas menggambarkan keberadaan kerajaan ini yang sangat aktif dalam bidang politik dan perdagangan, sekaligus pusat keagamaan Asia Tenggara. Kondisi itu terus berlangsung, meskipun perannya mengalami kemunduran sejak abad 11. Meski demikian,  nama San-fo-tsi (Palembang) tetap tercatat dalam berita Cina (Chu-fan-Chi) tahun 1225, dan pada 1397 di duduki Jawa (Majapahit). Pendudukan secara tidak langsung, ditambah gonjang-ganjing di pusat pemerintahan, membuka peluang masuknya para bajak laut (lanun) memainkan perannya di daerah ini. Posisi inilah yang membawa Laksamana Cheng-Ho memasuki Palembang. Dari tujuh kali pelayarannya (1405-1433), sebanyak empat kali Cheng-Ho singgah di Palembang.
Dari jumlah tersebut menunjukkan bahwa Palembang memiliki posisi penting di mata Cheng-Ho, apalagi salah satu missinya adalah menangkap lanun Ch’en Zuyi untuk dibawa dan dihukum di Nanjing, Cina. Palayaran raksasa melibatkan 62 kapal besar, dan lebih dari 200 kapal kecil, dengan 27.600 awaknya. Palembang yang secara hukum berada dibawah dominasi Majapahit, namun faktanya di bawah kendali para lanun dan menjadi salah satu persinggahan penting dalam lawatan Cheng-Ho. Semua itu membuktikan bahwa bandar Palembang tetap merupakan salah satu bandar penting dan potensial di Nusantara.
Selain Palembang, peradaban maritim yang pernah berjaya adalah Jambi (Melayu). Keberadaannya sudah terdeteksi dalam berita Cina sejak 644/645. Namun, sejak 685 Jambi sudah menjadi bagian dari Sriwijaya. Dengan demikian, berarti keberadaan Melayu merupakan salah satu dari bandar Sriwijaya, yang berfungsi menguasai jalur lalu lintas Selat Malaka. Kemajuan kerajaan maritim Sriwijaya juga bermakna kemajuan Jambi. Penguasaan tersebut juga menempatkan Jambi sebagai bandar maritim penting di Nusantara. Hal itu diperkuat dengan adanya bukti tinggalan kompleks percandian yang terdapat di Muaro Jambi dengan luas 3.100 hektar. Menurut Profesor Masanori Nagaoka dari Programme Specialist for Culture UNESCO  berpotensi menjadi “warisan dunia”.
Kantong peradaban  maritim lainnya di Sumatera adalah Padang. Sejak tumbuh dan berkembang menjadi kawasan maritim pada abad ke delapan belas, Padang bermetamorfosis menjadi wilayah yang sangat dinamis, kosmopolitan dan terbuka. Dinamis, kosmopolitan dan terbuka karena wilayah ini ramai dikunjungi para saudagar dari Arab, Tionghoa, India dan Timur Tengah. Para raja dan penguasa lokal di daerah ini  terlibat aktif dalam aktivitas perdagangan dan pelayaran. Para saudagar asing ini berdagang dan berlayar di kawasan ini terlebih dahulu berkomunikasi dengan para raja dan penguasa lokal agar mendapat izin berdagang. Para raja dan penguasa lokal ini tidak hanya memberi izin berdagang, tapi juga mereka mempunyai kapal, berdagang dan berlayar dari satu tempat ke tempat lain. Pada masa itu para saudagar lokal yang selalu  berdagang adalah orang Minang, Aceh, Batak dan Cina. Kedatangan para saudagar ini tidak saja membuat pantai Barat Sumatera ini ramai, tetapi juga membuka akses  jaringan dagang antara  daerah pantai dan pedalaman.
Selain Palembang, Jambi dan Padang, Barus adalah kota dagang yang terkenal di  penjuru dunia di masanya jayanya. Barus yang sekarang  terletak di Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara, berkembang menjadi kota dagang karena denyut kehidupannya berasal dari perdagangan maritim. Kapal-kapal dari berbagai kawasan  keluar masuk mengangkut barang dagangan dari Barus ke pelabuhan lain. Produk lokal yang sangat termasyhur dari Barus adalah kapur barus dan kemenyan. Kapur barus dipasarkan sampai Timur Tengah. Orang  Tionghoa, India dan Jawa adalah pedagang yang selalu mengunjungi daerah ini untuk mencari emas, sutera, damar, dan madu. Mata uang emas dan perak lazim dijumpai di kawasan ini. Emas dari Sumatera, terutama Barus menjadi salah satu barang dagangan yang sangat dikenal luas di mancanegara. Bahkan karena seringnya mengunjungi Lang po lusi (Barus), orang India mempunyai pemukiman sendiri di kota tua ini.
Seperti halnya kota dagang di Asia Tenggara, di wilayah peradaban maritim Palembang, Jambi, Padang, dan Barus telah tumbuh menjadi kota yang plural. Pluralitas bangsa  dari berbagai belahan bumi ini melahirkan hibriditas budaya. Hibriditas budaya ini merupakan pondasi multikulturalisme. Namun bersamaan dengan memudarnya jagad peradaban maritim sebagai akibat ekspansi penguasa kolonial, sumbu peradaban maritim ini  perlahan-lahan mati suri. Makin hari hari kantong-kantong peradaban maritim  ini  keberadaannya semakin menurun, ambruk, dan hancur hingga akhirnya tidak menyisakan sisa-sisa kebesarannya di masa lampau.
Setelah keruntuhan Palembang, Jambi, Padang dan Barus sebagai kantong peradaban maritim, tidak pernah terdengar lagi kebesarannya sebagai kota maritim. Palembang yang dikenal sebagai Venice of the East, yang masyhur dengan kemaritimannya di masa lalu, kini tinggal kenangan, begitu pula dengan Jambi. Padang yang dikenal sebagai kota dagang yang waktu itu banyak berdiri maskapai pelayaran asing di kota itu, sekarang ini tidak lagi menyisakan kebesaran masa lalunya sebagai sumbu peradaban maritim. Barus yang di masa keemasannya bermukim berbagai bangsa yang menghasilkan percampuran budaya dan menjadi kota kosmopolitan, kini hanya tinggal kenangan dalam ingatan publik. Ironinya kota tua yang semakin tidak terawat dan semakin terlewatkan dalam aktivitas kemaritiman, malah karena miskinnya pengetahuan sejarah tentang Barus, tidak banyak yang mengetahui letak kota pelabuhan tua ini.
Saat ini situs-situs kantong peradaban maitim ini dibiarkan terlantar dan perhatian terhadap kebaharian itu semakin memudar. Pembiaran terhadap jagad kemaritiman ini terlihat dari tidak tidak mampunya negara ini mencegah kapal-kapal asing yang menjarah hasil laut di perairan Indonesia. Ketahanan nasional di  bidang kelautan ini tidak mendapat perhatian dari negara. Minimnya ketahanan nasional atas jagad maritim mencerminkan negara melakukan pembiaran terhadap hancurnya situs maritim. Ini artinya negara belum tergerak untuk menghidupkan warisan peradaban  maritim yang telah terbangun ratusan tahun lalu.     Dengan demikian warisan peradaban  maritim yang memproduksi persilangan budaya diabaikan. Padahal warisan tradisi maritim yang bertumpu pada persilangan budaya atau hibriditas budaya menjadi modal sosial masyarakat maritim. Terabaikannya modal sosial peradaban maritim merupakan pertanda lemahnya ketahanan nasional. Hal ini terlihat dari menurunnya spirit menghargai pluralitas budaya yang belakangan ini semakin meredup dalam kehidupan bernegara dan berbangsa. Padahal dengan menghidupkan kembali spirit peradaban maritim dengan memanfaatkan sumber daya laut dapat memperkuat identitas  bangsa. (*)