Back Anda disini: Home

Artikel

Rawan Disalahgunakan

Indonesia merupakan negara yang mudah menerima pengaruh luar. Kemajuan teknologi dan kebudayaan menjadi dua hal yang cukup signifikan. Lantas seperti apa masyarakat negeri ini menyikapi Valentine Day ?
----------------------
BISA bilang valentine day atau hari kasih sayang cukup dikenal masyarakat Indonesia. Terutama kalangan muda mudi-nya. Ini menjadi contoh budaya luar yang berhasil masuk ke Indonesia. Parahnya, kebudayaan luar itu mudah diterima dan dianggap menjadi bagian budaya Indonesia.

Ini terlihat adalah perayaan hari valentine yang kerap dinanti-nanti kalangan remaja. Jika salah mengartikannya, tentunya berdampak negatif bagi generasi bangsa. Karena, rawan disalahgunakan.
Nah, setiap tahunnya, valentine dirayakan pada 14 Februari. Di hari ini, semua orang merayakan kasih sayangnya terhadap sesama. Beberapa simbol valentin seperti bunga, cokelat dan pernak-pernak serba pink akan menjadi barang yang laris manis di hari itu.
Simbol cinta selalu hadir mengiringi tradisi valentine yang terus dirayakan hingga kini. Simbol berupa kartu berbentuk hati dan gambar cupid bersayap yang mulai dikenal pada abad ke-19.
Pemberian berbagai simbol valentine ini menjadi sebuah tradisi bagi masyarakat. Hal-hal yang biasa diucapkan pada saat valentin adalah perasaan sayang yang dimiliki oleh seorang pria untuk teman wanitanya, ataupun sebaliknya.
Tradisi hari valentine berbeda-beda di setiap negara. Di Amerika Serikat, pria memberikan berlian kepada pasangan wanitanya. Di  Jepang dan Taiwan, misalnya kedua negara itu merayakan Valentine dengan tradisi yang unik.
Di Jepang, berkewajiban memberi cokelat adalah wanita. Para wanita harus menyediakan banyak cokelat untuk dibagikan ke teman-teman prianya, baik teman yang spesial maupun teman biasa.
Untuk di Indonesia, tradisi merayakan valentine terbilang tidak ada yang istimewa. Mereka yang merayakan biasanya adalah kalangan anak muda dengan saling mengirim hadiah dan kado kepada pasangannya.
Namun, ada satu yang dikhawatirkan dalam perayaan hari valentine. Sesuai dengan namanya hari kasih sayang, beberapa pasangan memanfaatkan momen tersebut untuk melakukan hubungan suami istri di luar nikah. Buktinya, aparat kepolisian di Indonesia sering menjaring pasangan mesum di kamar-kamar hotel saat razia di hari valentine. Parahnya, sebagian besar yang terkena razia tersebut adalah pasangan muda-mudi yang belum berstatus suami istri.
Dalihnya, sang wanita rela memberikan sesuatu yang berharga itu atas nama cinta kepada pasangan prianya. Hal inilah yang membuat image valentine day sangat rawan disalahgunakan.
Devie Rachmawati pengamat Sosial dan Budaya dari Universitas Indonesia (UI) mengatakan, meskipun sebagian masyarakat Indonesia kontra terhadap hari valentine, namun bagi orang yang merayakannya dipersilakan saja asalkan tidak melanggar aturan hukum dan norma agama.
"Larangan tersebut jangan sampai melanggar hak asasi manusia (HAM). Pasalnya, ada hak orang lain yang ingin merayakan hari valentine,"ujar Devie.
Terkait persepsi perayaan hari valentine yang dikaitkan dengan seks bebas (free seks), Devie menuturkan hal itu tidak sepenuhnya mendasar. Sebab, hal tersebut tergantung dengan pribadi masing-masing orang, apakah menjunjung tinggi moral agama atau tidak.
Kontroversi valentine day, sambungnya, jangan dibesar-besarkan karena malah akan menambah masalah baru. Dia menekankan, bahwa hari valentine sudah menjadi budaya sebagian warga bukan cuma di Indonesia tapi juga di dunia. “Toh hari valentine sudah membudaya, jadi jangan membuat respon negatif atas budaya yang sudah ada," tukasnya.
Meski dinilai banyak mudarat, tapi hari valentine membuat beberapa pihak meraup keuntungan. Seperti para penjual bunga yang menganggap momen tersebut sebagai momen berdagang yang baik karena mereka bisa menjual ratusan tangkai bunga, terutama bunga mawar merah.
Begitu pula dengan para pencetak kartu, yang dengan sengaja mendesain beragam kartu Valentine untuk menyambut hari kasih sayang itu. Bahkan, hotel-hotel bintang lima menghadirkan kegiatan saat momen hari valentine yang menambah keuntungan finansial.
Meski valentine sudah menyebar di penjuru dunia, tidak sedikit negara yang melarang perayaan valentine, terutama negara-negara Islam. Beberapa negara Islam  yang melarang masyarakatnya merayakan valentin antara lain Arab Saudi, Pakistan, Iran, Malaysia, Uzbekistan. Di negara tersebut, Valentine mutlak tidak diperbolehkan, artinya hari kasih sayang ini berada pada area hitam yang jelas.
Sementara itu di beberapa negara lainnya perayaan Valentine masih masuk ke dalam area abu-abu. Contohnya Indonesia, meskipun bukan negara berasas Islam, sebagian besar warga negaranya adalah muslim. Di Indonesia, valentine tidak dilarang tetapi juga tidak dianjurkan.
Untuk diketahui, sejarah valentine mengacu pada seorang bernama Santo Valentine. Pemprakarsa dirayakannya Valentine ini adalah Paus Gelasius 1 pada tahun 494 masehi. Di hari itu, semua pecinta diberi waktu untuk mengungkapkan rasa cintanya pada orang yang dicintainya dengan memberikan bunga, memberikan kembang gula, dan mengirim berbagai kartu ucapan yang cantik.
Di awal abad pertengahan, cerita mengenai Santo Valentine diuraikan dengan jelas dalam Legenda Aurea. Menurut legenda itu, Santo Valentine diinterogasi oleh Kaisar Romawi Claudius II. Kaisar Romawi itu terkesan dengan Valentine. Ia menawarkan untuk mengkonversikan ajaran nasrani ke paganisme, tapi Santo Valentine menolaknya.
Santo Valentine yang menolak permintaan Kaisar Romawi tersebut kemudian dieksekusi. Sebelum dieksekusi, Valentine menunjukkan keahliannya menyembuhkan kebutaan yang diderita oleh putri sipir penjara. Sebelum dieksekusi, Valentine juga menulis sebuah kata-kata di kartu Valentine yang pertama. Kata-kata tersebut konon ditujukan untuk seorang gadis buta. (roz/ndy).