Warning: Invalid argument supplied for foreach() in /home/sumex/public_html/libraries/joomla/database/database/mysql.php on line 383
Back Anda disini: Home

Warning: Invalid argument supplied for foreach() in /home/sumex/public_html/libraries/joomla/database/database/mysql.php on line 383

Artikel

Membingungkan, Pasien Kecewa

Pasca implementasi program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), yang dikelola Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan, ternyata masih dijumpai banyak persoalan. Di antaranya, klaim pembayaran hingga stok obat bagi pasien.
---------------------
BELUM lama ini misalnya, terjadi kesalahpahaman antara keluarga pasien atas nama Alfatah, yang nyaris membayar Rp35 juta dari total tagihan selama perawatan senilai Rp45 juta. Sementara, BPJS hanya menanggung Rp10 juta.

Persoalan ini berawal saat 21 Januari 2014 lalu, Alfatah menjalani perawatan di RSMH Palembang atas musibah kecelakaan.
Kepala Instalasi Pusat Pelayanan Administrasi Terpadu Rumah Sakit, Resti Mahayani mengatakan, saat itu pasien yang bersangkutan pulang pada 1 Februari. Karena hari sudah menjelang sore, petugas coder sudah pulang. Jadi, pihak administrasi RSMH hanya memberi biaya pernyataan tarif umum sementara.
Lanjut dia, pada tarif umum pasien tersebut, tercantum biaya Rp45 juta, sementara ditanggung coder atau paket INA CBG’S hanya Rp10 juta. Jadi, awalnya, Rp35 juta dibebankan terhadap pasien.
Di dalam keterangan tersebut, terlampir penambahan diagnosis, salah satunya mengenai operasi yang dilakukan pasien. Otomatis biaya coder pun bertambah hingga mencapai Rp100 juta.  Lantaran tarif beban pasien sebesar Rp45 juta, jadi biaya pun dianggap sudah mencukupi. “Semua biaya ditanggung oleh paket INA CBG’S. Jadi, pasien dinyatakan bebas dari biaya. Sementara uang jaminan sebesar Rp5 juta beserta KTP, dikembalikan kepada pasien,” tegasnya.
Selain kebingungan masalah klaim, kemarin (11/2), sejumlah pasien rawat jalan RSMH Palembang mengeluh karena beberapa stok obat kosong. Akibatnya, pasien harus menunggu beberapa hari lagi untuk mendapatkan obat tersebut.
Seperti yang dialami, Roslaini, pasien dengan diagnosis jantung ini, pernah mengalami kekurangan obat dua minggu lalu.  Di resep dokter yang menangani, tertulis empat jenis obat yang berbeda indikasi.
Ketika mengambil obat di tempat pengambilan obat (TPO) khusus BPJS rawat jalan, wanita yang bekerja sebagai pegawai negeri sipil (PNS) ini hanya mendapatkan tiga jenis obat. “Satu obat lagi masih kosong, sehingga kami disuruh bersabar sampai stok obatnya ada,” ujarnya.
Menurutnya, satu obat yang tersisa, yakni jenis vitamin untuk pelengkap stamina tubuh. Sedangkan obat-obatan utama, tetap tersedia. Untuk hari ini, kata dia, semua obat telah tersedia. “Alhamdulillah, semua obat yang ditulis oleh dokter semuanya ada,” katanya.
Ia mengaku, tersendatnya stok obat sejak berlakunya pelayanan BPJS. Sebelumnya, jaminan Askes tidak pernah mengalami seperti ini. Hal yang sama dialami Subroto, seorang ayah yang menemani putranya berobat penyakit jantung ini, terpaksa pasrah ketika seorang petugas loket TPO mengatakan salah satu obat yang tertera di resep kosong. “Kata petugasnya, vitamin B kompleksnya belum ada, jadi kosong,” ujarnya.
Diakui warga km 5 Palembang ini, sejak berobat menggunakan BPJS, baru kali ini kekurangan obat. Meskipun bentuk obatnya vitamin, tapi itu sangat penting dalam perkembangan kesehatan putranya. “Mau gimana lagi, kalau petugasnya bilang stok obat tersebut kosong,” ucapnya pasrah.
Berbeda dengan Diana, keluarga pasien ini mengantre untuk mengambil obat adiknya yang terdiagnosis jantung serta batu ginjal. Kata Diana, adiknya kontrol di RS Pusri Palembang. Tapi untuk pengambilan obat, dirujuk ke RSMH karena stok obat di sini (RSMH,red) lebih lengkap. “Ternyata obat-obat yang dibutuhkan semuanya ada, tidak pernah kurang satu pun,” bebernya.
Sementara, Kepala Instalasi Farmasi, Eva Yunila SSi Apt, didampingi Lilik Mindarti Sfarm Apt, koordinator Rawat Jalan mengatakan, terbatasnya stok obat dipengaruhi beberapa penyebab, diantaranya pihak farmasi belum mendapat pengiriman dari distributor obat. Bisa jadi, distributor obat memang belum ada stok obat yang diperlukan.
Menurutnya, saat ini permintaan produksi obat lebih banyak dari sebelum berlakunya BPJS, seperti stok obat di puskesmas. Pelayanan primer ini dituntut memberikan pelayanan obat lebih lengkap dari sebelumnya. “Belum lagi, RS tipe B ataupun tipe C yang harus melengkapi obat-obatannya,” paparnya.
Kata Diana, obat-obat yang tersendat hanya obat yang berbentuk supporting atau vitamin. Untuk obat yang utama, pihaknya selalu menyediakan agar pasien tetap mengonsumsi obat penting itu. “Semua obat itu penting, tapi ada indikasi hanya sebatas stamina tubuh saja, bukan efek ketergantungannya,” jelasnya.
Dia menerangkan, layanan BPJS berpedoman dengan Formularium Nasional (Fornas). Dimana, standar obat yang dipakai sesuai dengan yang dikeluarkan Kementerian Kesehatan. Ada beberapa vitamin dasar yang ter-cover dalam paket BPJS. Sebagian vitamin tidak ter-cover BPJS. “Biasanya, vitamin yang tidak ter-cover itu digantikan dengan vitamin sesuai Fornas,” katanya.
Tambahnya, meskipun obat yang dibutuhkan terlambat, tapi pihak pelayanan TPO memberikan informasi agar pasien datang lagi ketika pihaknya menelepon. Setiap pasien memiliki data lengkap, termasuk nomor telepon. Jadi, petugas menelepon pasien ketika obat-obat telah tersedia. “Paling lama pasien menunggu satu minggu,” pungkasnya. (cj3/roz/asa/ce4/ndy)  
 


Warning: session_write_close() [function.session-write-close]: write failed: No space left on device (28) in /home/sumex/public_html/libraries/joomla/session/session.php on line 676

Warning: session_write_close() [function.session-write-close]: Failed to write session data (files). Please verify that the current setting of session.save_path is correct (/tmp) in /home/sumex/public_html/libraries/joomla/session/session.php on line 676