Back Anda disini: Home

Artikel

Masyarakat Kurangi Belanja Konsumtif

PALEMBANG - Masyarakat Sumsel selaku nasabah perbankan kini mulai mengurangi belanja bersifat konsumtif. Ini terbukti dari aliran dana kas perbankan yang masuk (inflow) ke Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPBI) Wilayah VII hingga akhir Januari 2014 sebesar Rp1,2 triliun. Ini lebih besar dari setoran perbankan Januari 2013 Rp1,1 triliun.

    “Itu artinya, semakin banyak uang yang masuk ke perbankan, masyarakat cenderung saving atau menyimpan uang di bank, karena mengurangi pengeluaran yang bersifat konsumtif,” ungkap Direktur Sistem Pembayaran KPBI Wilayah VII, Dadan M Sadrah, kemarin (13/2).
    Tren peningkatan dana masuk ini sudah terjadi sejak tiga tahun terakhir. “Di Januari 2012, aliran dana kas yang masuk sebesar Rp818,2 miliar,” ujarnya. Dikatakan, uang kas masuk itu merupakan uang lebih yang didasarkan dari limit di perbankan kemudian disetor ke BI. “Tiap perbankan kan ada limit persiapan dana masing-masing di bank,” kata dia.
    Padahal, kata dia pada Januari, ada momen hari besar seperti Imlek yang membuat kebutuhan masyarakat meningkat. Tapi faktanya justru masyarakat tak begitu melakukan transaksi yang berlebihan. Bukan saja mengurangi belanja kebutuhan konsumtif, melainkan menunda ekspansi bisnis dan lainnya dengan menginvestasikan uangnya ke bank. “Kondisi ini tentu berimbas baik terhadap perbankan untuk menghimpun dana pihak ketiga (DPK) yang prediksi bakal kesulitan karena tahun politik,” ungkapnya.
    Dikatakan, rata-rata DPK perbankan di awal tahun meningkat signifikan. “Jika dilihat dari sisi transaksi uang keluar (outflow) dari BI yang ditarik perbankan tercatat pada Januari 2014 sekitar Rp665,2 miliar atau mengalami penurunan dibandingkan uang keluar Januari 2013 sebesar Rp674,8 miliar dan tahun 2012 Rp550miliar,” tuturnya.
    Tahun ini, pihaknya memproyeksi kebutuhan uang mencapai Rp17 triliun atau mengalami kenaikan dari realisasi kebutuhan uang tahun 2013 sebesar Rp16,2 triliun. “Proyeksi kebutuhan uang tahun ini lebih tinggi dari tahun sebelumnya. Bahkan dibandingkan lima tahun terakhir ada kenaikan sekitar 20 persen. Kenaikan ini semata-mata untuk mengantisipasi hal yang tak terduga,” tutupnya. (cj9/fad/ce1/ndy)