>> Home Sumatera Ekspres Rindu Keluarga, ”Saingan” Bersolek
Dicat dan Diperbaiki
PALEMBANG – Pascakebakaran bagian bawah jembatan Ampera 2010 lalu, hingga ki...Readmore
Demo BBM Meluas
SUMSEL - Aksi demontrasi besar-besaran menolak kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (...Readmore
La Furia Roja (Belum) Perkasa
RECIFE - Spanyol menunjukkan jati dirinya sebagai tim penguasa dunia. Menghadapi j...Readmore
Ahsan-Hendra Selamatkan Indonesia
JAKARTA - Indonesia tidak jadi malu sebagai tuan rumah di Djarum Indonesia Open 20...Readmore
Perampok Tembak Pedagang Emas
KAYUAGUNG – Kawanan perampok bersenjata api yang diduga berjumlah enam orang...Readmore
  • Dicat dan Diperbaiki

    PALEMBANG – Pascakebakaran bagian bawah jembatan Am...

  • Demo BBM Meluas

    SUMSEL - Aksi demontrasi besar-besaran menolak kenaikan h...

  • La Furia Roja (Belum) Perkasa

    RECIFE - Spanyol menunjukkan jati dirinya sebagai tim pen...

  • Ahsan-Hendra Selamatkan Indonesia

    JAKARTA - Indonesia tidak jadi malu sebagai tuan rumah di...

  • Perampok Tembak Pedagang Emas

    KAYUAGUNG – Kawanan perampok bersenjata api yang di...

NEWS UPDATE

Stop
Play
Rindu Keluarga, ”Saingan” Bersolek

Kehidupan di balik jeruji besi tak seburuk sangkaan orang. Kedisiplinan, ketekunan ibadah, ketrampilan, perbaikan moral dan lainnya banyak diajarkan dari tempat ini. Melihat kondisi itu, wartawan Sumatera Ekspres berkunjung ke Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Wanita Klas IIA Palembang yang terletak di Jl Merdeka, kemarin.
Tak ada rasa minder dari lima penghuni di Lapas Wanita Klas IIA Palembang saat dibincangi wartawan koran ini. Ketika diminta berfoto pun tak segan mereka menampilkan gayanya masing-masing. Bak model terkenal, mereka pose sembari menjinjitkan kakinya meski dengan busana dan aksesori seadanya.
Make up mereka pun dibuat sedemikian rupa, sehingga terlihat cantik meski tingal di lapas. ”Kita setiap hari harus berias, tapi cukup seadanya saja. Make up ini di bawa dari keluarga saat menjenguk,” ujar Lia Rupita, salah seorang penghuni Lapas yang tersangkut masalah narkoba.
Di sana, mereka diajarkan selalu tampil cantik. Mereka saling bersaing untuk tampil cantik di antara para penghuni di tempat tersebut. Dengan begitu, mereka seperti merasakan dunia luar. Namun, mereka tetap diminta disiplin dengan mengikuti aturan yang ditentukan.
”Dari kedisiplinan ini, kita bisa membentuk diri lebih baik. Jadi, saat keluar nanti kita bisa mengubah sikap buruk kita,” kata wanita kelahiran Lubuklinggau, 6 Februari 1984 lalu. Menurutnya, ia merasa lebih baik setelah ditahan di tempat tersebut. Jika tidak, konsumsi narkoba jenis sabu yang ia lakukan atas dasar coba-coba dari ajakan teman, masih berlangsung sampai sekarang.
Akibat buruknya tersebut dapat mengancam nyawanya. Akan tetapi, ia tak mau bicara banyak tentang hal tersebut. Menurutnya, masa lalu harus dilupakan dan diganti lembaran baru yang lebih baik. ”Mungkin sekitar 4-5 tahun menjadi pengguna dulunya,” kata Lia yang ditahan di tempat tersebut selama 5 tahun 3 bulan.
Selama masa tahanan sejak Juli 2011 lalu, ia banyak mendapat pengajaran. Baik itu dalam hal ibadah maupun ketrampilan. ”Kalau dulu salatnya nggak rajin, sekarang setiap hari dijalani. Yang jelas, ada perubahan dari diri kita di bidang agama ini,” jelas single parent satu anak usia 9 tahun ini.
Saat ini, anak yang ia miliki ikut dengan mantan suaminya. Jika nantinya keluar dari tempat tersebut, ia ingin bertemu anak dan keluarganya yang lain. ”Mau ketemu anak dulu kalau bebas nanti,” ungkapnya. Di sana, para penghuninya juga bisa menggunakan telepon untuk menghubungi keluarga masing-masing.
Selain peningkatan ibadah, mereka juga diajarkan ketrampilan. ”Sekarang sudah bisa menjahit, merajut dan membuat akrilik. Setelah bebas, mungkin akan meneruskan ketrampulan ini untuk dijadikan usaha. Nanti cari modal sendiri,” jelas Lia. 
Sementara Rini Antika, penghuni Lapas Klas II A Wanita Palembang lainnya mengungkapkan hal yang sama. Di sana, mereka diminta untuk berdandan setiap hari. ”Kalau nggak dandan kena tegur, jadi harus rapi setiap hari,” ujar Rini yang tersangkut masalah narkoba ini.
Menurutnya, menjalani hari-hari di lapas tersebut, pada awalnya memang berat. Namun, lama-kelamaan semuanya bisa berjalan dengan baik. Apalagi, jika aturan yang ada di tempat tersebut diikuti.
”Ada perubahan setelah tinggal di lapas. Kalau dulu tidak ditangkap karena masalah narkoba, yang jelas belum berubah sampai sekarang. Saat ini, banyak ilmu agama yang didapatkan,” ungkap Rini yang juga single parent satu anak ini yang tertangkap di Tanjung Raja, OKI. Ia menjadi penghuni di Lapas sejak September 2011 lalu.
Diungkapkannya, sejak di tempat tersebut ia lebih tekun mengaji. Salat lima waktu ia jalani untuk memperbaiki kehidupannya dan lebih mendekatkan diri dengan Allah swt. Selain ilmu agama, ia juga mendapatkan ketrampilan dengan mengikuti bimbingan.
Ia memilih akrilik, merajut dan menjahit. ”Sebelumnya nggak bisa jahit, tapi sekarang sudah bisa. Insyaallah nantinya ingin usaha dari ketrampilan yang didapatkan dari sini,” jelasnya. Keluarga juga sering menjenguknya. Biasanya, bisa 2-3 kali sebulan.
Nadia, warga binaan Lapas Klas IIA Wanita Palembang lainnya mengaku, masuk ke tempat tersebut sejak 2010 dikarenakan kasus narkoba. “Saya divonis hukuman 4 tahun penjara, sekarang sudah jalan 2 tahun Mas,” ujarnya tersenyum.
Perempuan tamatan SMP ini menjelaskan, selama di Lapas ia diajarkan berbagai keterampilan. Seperti menjahit, merajut, salon dan lainnya. Di samping, mengaji dan Salat. “Awalnya aktif, tapi sekarang mulai dikurangi. Banyak ilmu yang saya dapatkan di sini Mas,” ungkapnya.
Nadia mengaku pertama kali masuk Lapas sangat sulit untuk adaptasi. “Tapi berkat aktif di kegiatan, jadi banyak teman. Tadinya saya tidak bisa ngaji, tetapi sekarang sudah bisa,” bebernya.
Anak ketiga dari tujuh saudara ini mengaku sangat rindu dengan keluarganya, terutama  pada dua anak kembar dan suaminya. Sebulan sekali, suami dan anak selalu menjenguknya. “Untuk mengatasi rasa rindu itu, terkadang saya menelpon keluarga lewat wartel yang ada di dalam Lapas,“ lanjutnya .
Keberadaannya di Lapas tidak malah membuatnya tidak bisa berprestasi. Perempuan yang punya hobi traveling ini pernah menjadi juara 2 busana muslim pada lomba yang diadakan Lapas saat 17 Agustusan. Bahkan ia dua kali telah menjadi juara 2 pada lomba itu.
Sekarang Nadia dipercaya oleh pegawai Lapas untuk memegang kunci. Tugasnya membantu pegawai Lapas untuk membuka pintu sel. “Alhamdulillah saya dipercaya oleh pegawai, tapi dalam menjalani tugas tetap didampingi pegawai,” tukasnya.
Endang Oktarina (22), warga binaan Lapas Merdeka ini sudah 5 tahun lebih menjalankan aktivitas sehari-harinya di dalam lapas. Rasa rindu terhadap keluarga serta teman-teman sebayanya sangat ia dambakan. Meskipun keinginan tersebut harus ditebusnya dengan menjalani hukuman selama 14 tahun pasal kasus narkoba.
Hari-harinya di lapas, Endang mengaku banyak mendapatkan pembelajaran dan hikmah yang dipetik dari semuanya. Sekarang rasa penyesalan itu sudah dikubur dan dijalaninya dengan hal positif. Segala kegiatan di lapas Merdeka diikutinya mulai dari keterampilan, pengajian, serta beribadah.
Ya, hikmah dari kegiatan yang diikutinya tersebut lambat laun menuntun pribadinya menjadi orang yang lebih sabar dan taat beribadah. “Tadinya saya tidak bisa mengaji, saat disini (lapas) alhamdulilah sudah bisa sekarang. Kemudian salat lima waktu, disini saya lebih rajin,” kata cewek latah ini.
Kegiatan di Lapas Merdeka setiap hari begitu padat diikuti seluruh warga binaan. Mulai pukul 09.00 WIB sampai 12.00 WIB, mereka mengikuti kegiatan mengaji. Dilanjutkan dengan aktivitas membuat kerajinan seperti membuat tempat (kotak) tisu, asbak dan berolahraga.
“Saya bersyukur, selama di sini sudah banyak keterampilan dan hikmah yang saya peroleh. Mudah-mudahan setelah keluar, keterampilan yang saya pelajari menjadi bekal. Dan kepingin menjadi wirausaha yang sukses. Serta tidak mengulangi kesalahan yang sudah-sudah,” ujar dia.
Prestasi Endang patut diacungi jempol selama berada di dalam lapas Merdeka. Ia pernah menjadi juara I busana muslim dan busana casual. Selain itu, kepribadiannya sebagai seorang wanita selama berada di lapas begitu mencolok dibandingkan sebelumnya. Sebab ia bisa merias alias bermake-up sendiri.
“Sebenarnya saya dulu tidak bisa-bisa amat bermake-up. Tapi di sini saya lebih feminim dan lebih memperhatikan kesehatan ketimbang sebelumnya. Di sini, subuh kita sudah bangun menjalankan ibadah berjemaah dan paginya sudah senam bersama,” jelas Endang lagi.
Sama halnya dengan Yeni Murniati (30) yang akrab disapa Yeyen. Rasa penyesalannya terungkap manakala ia ditanya koran ini soal kasusnya. “Kena kasus narkoba,” kata Yeyen tertunduk. “Ke depan saya kepingin lebih baik lagi dari sekarang. Dan yang jelas tidak narkoba lagi,” timpalnya.
Ibu dari satu anak ini juga banyak mendapatkan hikmah dan pembelajaran selama menjadi warga binaan lapas Merdeka. “Di sini saya mengikuti kegiatan keterampilan membuat kerajinan aklirik. Termasuk menjalankan kegiatan beribadah bersama teman-teman lainnya,” kata wanita yang tengah menjalani hukuman selam 3 tahun lebih ini.
Rasa rindu terhadap keluarga, suami dan sang anak terkadang harus dinantinya selama satu bulan sekali. “Keluarga, suami, anak setiap sebulan sekali pasti datang menjenguk. Memang setiap hari rasa rindu itu datang. Bahkan kepingin saya (kalau bisa) makan bareng (kumpul) bersama keluarga besar,” ujar Yeyen.
Dia menganggap, keberadaannya sebagai warga binaan lapas Merdeka sudah menjadi rumah kedua. “Di sini saya sudah banyak teman yang saya anggap sebagai keluarga sendiri. Mudah-mudahan kalau saya keluar nanti, saya akan menyempatkan diri mengunjung keluarga saya di sini (lapas),” pungkasnya.
Yeyen memiliki prestasi selama berada di lapas Merdeka. Ia seringkali tampil sebagai penari di setiap momen hari 17- an. “Setiap peringatan 17 Agustus, saya sudah dua kali tampil menari tanggi dihadapan tamu undangan. Nah, di sini juga saya sudah pinter dandan,” celetuknya lantas tersenyum.(rei/cj7/wek)





Add this to your website
 

ALL SPORT

article thumbnailPercepat Jalur Juara
23 Feb 2013

LONDON - Manchester United akan bertandang ke markas Queens Park Ranger dalam lanjutan Premier League yang akan dilangsungkan Sabtu (23/2). Pertandingan yang rencananya disiarkan Global TV mulai pu [ ... ]


Berita lain

GELORA SRIWIJAYA

article thumbnailKim-Vali Masih Tanda Tanya
23 May 2013

JAKARTA - Besok (24/5), Persiwa Wamena menjamu Sriwijaya FC di Stadion Pendidikan, Wamena. Namun, tim berjuluk Badai Pegunungan itu masih pusing menyiapkan komposisi terbaik untuk menjamu juara ber [ ... ]


Berita lain

Harian Pagi Sumatera Ekspres
Gedung Graha Pena Jl. Kol H Barlian No.773 KM.6,5 Palembang 30152
Telp : (0711) 411768, 415263, 415264
Fax :  (0711) 420066
Info Berlangganan : (0711) 7739888
Info Layanan Iklan : (0711) 420078