Jum08282015

Last update07:01:45 AM

Back Anda disini: Home

Artikel

Puasa Tidak Sekadar Lapar dan Haus

MULAI kemarin umat muslim menjalankan ibadah puasa. Sebuah ibadah yang sangat khusus. Sebuah ibadah yang menghubungkan langsung antara seorang hamba dengan Tuhannya. 
Dalam sebuah hadis Qudsy yang terkenal, Allah berfirman: ’Puasa adalah untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan memberikan pahalanya.’’
Puasa adalah sebuah ibadah istimewa. Dalam ritual sebulan penuh ini, seorang manusia lebih memilih Tuhannya ketimbang dirinya sendiri, ketimbang hawa nafsu dan egonya. Itulah yang menjadikannya istimewa. Ibaratnya, seseorang dengan sengaja memilih sebuah jalan yang sulit untuk Tuhannya.
Tentu, puasa yang dimaksud di sini adalah puasa yang benar. Yang bukan sekadar tidak makan, tidak minum, dan berjunub dalam keadaan sengaja mulai matahari terbit hingga matahari tenggelam, namun juga menekan hawa nafsu dan ego sedemikian kuat sehingga menjadi pribadi yang lebih baik.
Disinilah konteks sosial ibadah tersebut bermula. Ketika seseorang berhasil menekan ego dan hawa nafsunya, dia akan menjadi pribadi yang lebih baik. Dia jadi terbiasa mendahulukan kepentingan yang lebih besar ketimbang dirinya.
Hal itu akan sangat bagus bagi masyarakat. Sebab, sumber kejahatan sebenarnya hanya satu. Yakni, ’’itu milikku’’ –sesuatu hal yang identik dengan ego.
Jika para pejabat, aparat, dan politikus negeri ini berhasil mengembangkan pribadi mereka menjadi lebih baik, alangkah bahagianya warga Indonesia. Tidak perlu semua, cukup setengah saja dari yang ada sekarang, situasi akan menjadi lebih baik.
Setiap berkaca tentang wajah Indonesia, kita akan merasa malu. Dulu mengagung-agungkan diri sebagai bangsa yang baik dan ramah, namun kasus Angeline dan sejumlah kasus lain membuyarkan klaim diri itu. Setiap hari terjadi konflik di tingkat elite negeri ini. Yang kebetulan berkuasa akan membantai lawan- lawan politiknya yang nanti juga terbantai oleh rezim yang lebih baru lagi.
Di tingkat masyarakat juga terlihat gambaran suram. Ruang publik media sosial lebih didominasi kecaman, olok-olok, perang wacana yang nyaris tidak rasional lagi, dan lebih meributkan hal-hal yang tidak substansif. Misalnya, apakah warung harus buka atau tutup selama bulan puasa. Atau, haram atau tidak jika melakukan A, berkata B, atau bertindak C. Padahal, bangsa lain sudah berbicara tentang luar angkasa.
Karena itu, momen puasa ini kiranya tepat dijadikan semacam pause dari riuhnya kehidupan. Memandangnya dari angle view yang lebih tinggi, merenunginya, dan kemudian mempunyai semangat baru dari seorang pribadi yang lebih baik.
Indonesia kini sangat membutuhkan pribadi- pribadiyanglebihbaik. (*)