>> Home Sumatera Ekspres Gempa-Tsunami Masih Mengancam
Tangkal Badai Pegunungan
PALEMBANG - Sriwijaya FC belum pernah menang saat berlaga ke markas Persiwa Wamena di...Readmore
Jual 15 Unit per Bulan
PALEMBANG – Penjualan Honda Brio di PT Maju Mobilindo -- Main Dealer Honda Palemban...Readmore
Putusan Sesuai Perintah MK
PALEMBANG - Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kota Palembang segera mengeluarkan surat kepu...Readmore
Nenek Delapan Cucu Masuk Bui Lagi
PALEMBANG – Walau pernah mendekam di penjara selama 1 tahun  bulan 4, yang bebas t...Readmore
Banyak Saingan, Diminta Transparan Harga
Saat koran ini jalan-jalan ke sana siang kemarin, pengunjung di bawah tiap tenda tida...Readmore
  • Tangkal Badai Pegunungan

    PALEMBANG - Sriwijaya FC belum pernah menang saat berlaga ke...

  • Jual 15 Unit per Bulan

    PALEMBANG – Penjualan Honda Brio di PT Maju Mobilindo -- M...

  • Putusan Sesuai Perintah MK

    PALEMBANG - Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kota Palembang seger...

  • Nenek Delapan Cucu Masuk Bui Lagi

    PALEMBANG – Walau pernah mendekam di penjara selama 1 tahu...

  • Banyak Saingan, Diminta Transparan Harga

    Saat koran ini jalan-jalan ke sana siang kemarin, pengunjung...

NEWS UPDATE

Stop
Play
Gempa-Tsunami Masih Mengancam PDF Cetak Surel
Ditulis oleh Administrator   
Jumat, 13 April 2012 12:00

BANDA ACEH - Gempa besar yang melanda Nangroe Aceh Darussalam (NAD), Rabu (11/4) sore, mengakibatkan lima korban tewas. Kecemasan juga belum sepenuhnya hilang dari warga Bumi Serambi Mekah karena gempa susulan masih terus terjadi. Meski demikian, dilaporkan kalau warga sudah kembali ke rumah masing-masing dan mencoba beraktivitas seperti biasa.

Berdasar data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), korban meninggal terdapat di empat wilayah berbeda. Yakni, Kota Banda Aceh atas nama Yatim Kulam (70), Kabupaten Lhoksemauwe satu korban tewas pria berusia 39 tahun, dan dua di Kabupaten Aceh Besar adalah Fauziah (60) dan M Yusuf (70). Sedangkan satu korban tewas lagi di Kabupaten Aceh Barat Daya bernama Hatijah Hamid (70).

Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho menjelaskan kalau kelima korban meninggal bukan karena secondary effect seperti tertimba bangunan atau longsor. “Mereka meninggal karena serangan jantung,” ujarnya.

Kaget tersebut datang saat gempa berkekuatan besar datang. Kemungkinan, korban tewas yang didominasi para lanjut usia itu trauma berat dengan gempa sebelumnya di 2004. Selain itu, masih ada satu korban kritis anak-anak lantaran tertimpa pohon saat gempa di Aceh Singkil.

Lebih lanjut dia menjelaskan, korban luka-luka sampai kemarin malam mencapai tujuh orang. Masing-masing empat orang di Kabupaten Simeuleu, dua di Aceh Singkil dan satu di Aceh Selatan. Meski demikian, Sutopo menegaskan kalau data tersebut belum sempurna karena masih dilakukan pendataan.

Untuk kerugian materiil, BNPB belum bisa mengestimasi seluruhnya. Beberapa yang sudah didata diantaranya adalah jembatan putus di Aceh Barat. Jembatan itu menyambungkan Kecamatan Jatmalaka ke Kecamatan Samatiga. “Di sana, Asrama Putri Pesantren Arrazatun Nabawiyah juga rusak,” jelasnya.

Sementara di Aceh Besar, dilaporkan adanya kerusakan cukup parah di sebuah rutan. Bahkan, gara-gara itu narapidana yang melarikan diri dan belum ditemukan hingga kini.

BNPB masih mengimbau kepada warga untuk tetap siap siaga di beberapa hari ini. Sebab, goncangan masih terjadi meski magnitude gempa terus menurun. Sutopo sendiri belum bisa memastikan sudah berapa kali gempa terjadi, namun hingga kemarin sore sudah mencapai 31 kali gempa susulan.

Kewaspadaan terlihat dari toko-toko milik warga yang ada di pinggir pantai barat untuk sementara waktu ditutup. Sedangkan yang agak jauh dari pantai kebanyakan sudah dihuni lagi rumahnya. “Untuk mengurangi korban anak-anak, sebagian sekolah di Aceh Besar dan Aceh Utara diliburkan,” tandasnya.

Menambah ketenangan warga, Menurut Sutopo, Tim Reaksi Cepat BNPB sudah tiba di Sumatera Utara, Aceh, Sumatera Barat dan Bengkulu. Personel, logistik dan peralatan telah disiapkan BNPB, semuanya dalam posisi stand by untuk dikerahkan ke lapangan. Namun semuanya menunggu komando dari lapangan yang saat ini sedang melakukan kajian kerusakan dan kerugian.

Di bagian lain, Menkokesra Agung Laksono mengatakan, pihaknya bersama Presiden akan meninjau kondisi lapangan pascagempa hari ini. Agung memaparkan, pemerintah akan melakukan tiga tinjauan.

Yang pertama, mengecek fasilitas ASEAN Co-ordinating Center for Humanitarian Assistance on Disaster Management (AHA Center) atau Pusat Mitigasi Bencana Kawasan Negara ASEAN Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) yang berada di sekitar area gempa.

Sebab, saat terjadi gempa, hanya dua dari empat sirene yang berfungsi. “Itu diakibatkan tidak adanya power supply karena tidak ada listrik. Karena itu, ke depan kita pikirkan untuk memiliki power supply independen,” kata Agung dalam konferensi pers di gedung Menkokesra, kemarin (12/4).

Selanjutnya, pemerintah akan memantau jalur-jalur evakuasi di sekitar wilayah gempa. Agung mengungkapkan, korban berjatuhan bukan semata karena bencana, melainkan dampak dari kepanikan masyarakat. “Sebelumnya pernah terjadi di Manado, bencana sampai menimbulkan kecelakaan lalu lintas. Karena berebut menyelamatkan diri,” jelas Agung.

Untuk itu, lanjut dia, pemerintah berencana membangun sejumlah shelter berupa gedung tinggi yang kokoh dan tahan badai di area-area yang berpotensi bencana. Shelter tersebut dibangun untuk menampung setidaknya 5.000 orang. Dengan keberadaan sejumlah shelter diharapkan bisa mencegah jatuhnya korban saat bencana terjadi.

“Sebenarnya sudah banyak yang menawarkan, salah satunya Jerman. Jadi nanti shelter itu akan dibangun setiap 1 atau 2 kilometer, di samping jalur evakuasi. Tapi memang dibutuhkan anggaran yang tidak sedikit untuk itu. Kita akan bicarakan itu juga,” paparnya.

Di samping itu, kata dia, kunjungan tersebut juga bermaksud meninjau kinerja pemerintah daerah dalam menangani kondisi pascagempa. Sejauh ini, pemda bisa mengatasi permasalahan-permasalahan terkait gempa kemarin. “Jadi tinggal monitoring dari pusat. Kesiapan early warning system kita sudah dipasang mulai dari Aceh, Papua, Jawa sampai Sulawesi,” kata politikus Partai Golkar itu.

Sementara itu, dari pihak BPPT menyatakan gempa yang terjadi kemarin, adalah gempa yang berskala regional. Menurut peneliti Geodinamika BPPT Agustan, gempa Aceh tergolong gempa Outer Rise. Gempa tersebut merupakan dampak dari gempa Sumatera-Andaman yang terjadi pada 26 Desember 2004 lalu.

Gempa tersebut menyimpan energi yang sangat besar. Dalam waktu 40 detik mampu menghasilkan getaran guncangan yang dahsyat. “Karena didominasi pergeseran lempeng secara horisontal jadi tidak menimbulkan gelombang tsunami yang besar,” jelas Agustan.

Namun, lanjut dia, jika pergeseran yang terjadi secara vertikal, maka bisa menimbulkan tsunami yang besar. Hal itu pernah terjadi pada tahun 1977 di Sumbawa. Gempa tersebut mengakibatkan 187 korban tewas. “Gempa ini sangat jarang terjadi. Ini baru kali ketiga. Sebelumnya tahun 2007 dan 1977,” katanya.

Meski tidak menimbulkan gelombang tsunami yang besar, beberapa daerah seperti Padang, Bengkulu dan Pantai Barat Sumatera masih terancam gempa. Deputi BPPT sekaligus Ketua AHA Center Ridwan Djamaluddin menuturkan, masih ada energi yang belum dilepaskan.

“Energi yang keluar akibat gempa kemarin, tidak melepaskan energi ini. Jadi masih tersimpan. Hal itu bisa mengancam daerah Padang, Bengkulu dan Pantai Barat Sumatera. Tapi kita belum bisa pastikan kapan, para ahli masih menelusuri,” jelasnya.

 

Gempa Jelang UN, Kemendikbud Ketar-ketir

Gempa yang mengguncang perairan Aceh Rabu sore lalu sempat membuat cemas jajaran Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud). Pemicunya, gempa yang terjadi bertubi-tubi itu, mengguncang beberapa hari sebelum pelaksanaan ujian nasional (UN) SMA dan sederajat.

Untungnya setelah mengorek informasi dari lokasi, Mendikbud Mohammad Nuh lega karena gempa tidak sampai merusak infrastruktur penunjang UN. Mulai dari sekolah, gudang penyimpangan soal, dan sebagainya. “Jadi insya Allah bisa dijalankan serentak,” kata mantan menkominfo itu di Jakarta kemarin (12/4).

Nuh menuturkan, gempa susulan di Aceh tidak ada yang bisa mengetahuinya. Namun, dia berharap tidak akan ada gempa susulan yang berpotensi menggangu pelaksanaan UN SMA dan sederajat yang akan digelar 16-19 April mendatang.

 

33 Napi Kabur Belum Kembali

Sebanyak 33 narapidana dari ratusan warga binaan Lembaga Pemasyarakat (Lapas) Sigli sejak kabur saat gempa kemarin (11/4), dilaporkan belum kembali. Pencarian masih terus dilakukan pihak lapas dibantu kepolisian.

Kepala Lapas Kota Sigli, Joko Budi Supiyanto, kepada Rakyat Aceh (Sumeks Group) kemarin, mengatakan, saat gempa berkekuatan 8,5 SR melanda Kota Sigli, sejumlah 206 narapidana kabur karena takut tsunami.

Sejumlah petugas sipir rutan tersebut dibantu personel TNI/Polri masih melakukan pengejaran terhadap para napi yang masih di luar Rutan. “Jadi sekarang kita masih melakukan pengejaran terhadap 33 orang napi yang kabur karena isu tsunami pascaterjadinya gempa,” kata Joko.

Menurut Joko, para napi itu kabur pada saat gempa sedang berlangsung. Mereka kabur karena takut naiknya air laut raksasa yang lebih dikenal dengan sebutan tsunami. Seperti diketahui posisi, Lapas Benteng, Sigli, hanya terpaut 60 meter dari bibir pantai.” Dan inilah yang menyebabkan para napi kabur karena khawatir terjadinya tsunami,” sebutnya.

 

Dinding Lapas Meunasah Roboh

Sementara itu, gempa melanda Kota Banda Aceh juga mengakibatkan tembok atau dinding bagian belakang lapas di Desa Meunasah Manyang, runtuh sepanjang 60 meter dan beberapa tembok lainnya, terlihat retak-retak berat dan sedang. Bahkan, ada juga yang miring letaknya setelah gempa mengguncang kota setempat. Meski begitu, tidak ada korban jiwa maupun luka.

Kepala Lapas Banda Aceh di Desa Meunasah Manyang, Kecamatan Lambaro, Aceh Besar, Ridwan Salam menjelaskan, beberapa saat setelah gempa pertama terjadi, petugas lapas menghubunginya memberitahu kondisi sebagian dinding lapas yang roboh dan retak.

Untuk itu, Ridwan Salam pun meminta petugas jaga di lapas yang baru saja dua minggu lebih relokasi dari Lapas Kajhu, untuk menghubungi pihak kepolisian agar mengamankan lokasi. Karena banyak masyarakat yang ingin menyaksikan runtuhnya dinding lapas dari dekat. “Kita khawatir nanti ada yang masuk dan membebaskan napi,” tuturnya. (mir/ian/dim/ken/wan/ce1)


Add this to your website
 

--------------------------------------------------

GELORA SRIWIJAYA

article thumbnailKim-Vali Masih Tanda Tanya
23 May 2013

JAKARTA - Besok (24/5), Persiwa Wamena menjamu Sriwijaya FC di Stadion Pendidikan, Wamena. Namun, tim berjuluk Badai Pegunungan itu masih pusing menyiapkan komposisi terbaik untuk menjamu juara ber [ ... ]


Berita lain

Harian Pagi Sumatera Ekspres
Gedung Graha Pena Jl. Kol H Barlian No.773 KM.6,5 Palembang 30152
Telp : (0711) 411768, 415263, 415264
Fax :  (0711) 420066
Info Berlangganan : (0711) 7739888
Info Layanan Iklan : (0711) 420078