Sab09052015

Last update06:15:01 PM

Back Anda disini: Home

Artikel

Puasa dan Harga Sembako

Ada dialog antara seorang sarjana ekonomi jebolan Universitas Sriwijaya dan sarjana syariah jebolan UIN Raden Fatah, yang sama-sama baru 
diwisuda. Kebetulan tinggal satu indekos dengan harmonis, seharmonis hubungan dua universitas tersebut. 
Sang sarjana ekonomi dengan bersemangat, mengatakan, dalam teori ekonomi, “Semakin tinggi permintaan, maka harga barang akan semakin meningkat”. Apakah ada dalam Islam resep mengatasi melambungnya harga sembako yang acapkali terjadi ketika datang bulan puasa Ramadan? Resep dimaksud tentu saja diartikan dalam konteks perilaku masyarakat muslim. Bukan dalam konteks pemerintah yang baru-baru ini memang telah mengeluarkan keppres tentang itu.
Sang sarjana syariah juga bersemangat memberikan responsnya dengan mengatakan, kalau kita amati, di pasar-pasar tradisional dan modern memang harga berbagai kebutuhan pokok seperti beras, gula, lauk pauk, dan sayur mayur melambung tinggi. Beda dari biasanya. Ini tentu saja disebabkan permintaan masyarakat sangat tinggi pada bulan dan menjelang Ramadan. Terutama masyarakat muslim yang berlebihan dalam pemenuhan kebutuhan sehari-hari.  
Dalam Islam, kata sarjana syariah lebih lanjut, paling tidak ada dua resep dasar untuk mengatasi melambungnya harga sembako. Pertama, resep la tusrifu (jangan berlebih-lebihan). Kita hendaklah hidup sederhana dan makan secukupnya. Kedua, resep la tubadzdziru (jangan membuang-buang percuma rezeki yang diberikan Allah). Kalau ada kelebihan makanan hendaklah diberikan kepada fakir-misikin. Manakala dua resep ini kita amalkan, yakni kita tidak berlebih-lebihan dan tidak membuang-buang percuma rezeki pemberian Allah, maka peningkatan harga sembako Insya Allah tidak akan terjadi.
Mudah-mudahan kita dapat melaksanakan dua resep tersebut, sembari menanti pelaksanaan kebijakan penguasa. Tentu, dalam rangka mengatasi melambungnya harga sembako dan bahan-bahan kebutuhan lainnya. Wa Allah A’lam bi ash-Shawab.(*/ce1)