Back Anda disini: Home

Artikel

KPK Kembangkan DOM Jero di Kemenparekraf

JAKARTA - Mantan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Jero Wacik (JW) masih bisa menghirup udara bebas usai diperiksa penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) selama 6 jam sebagai tersangka. Namun, Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi, Busyro Muqoddas mengaku pihaknya mengembangkan adanya kemungkinan Jero melakukan pemerasan untuk dana operasional menteri (DOM) saat menjabat Menteri Pariwisata.

Karenanya pada Rabu (8/10) lalu, penyidik memanggil Wakil Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Wamenparekraf), Sapta Nirwandar yang pernah menjadi bawahan Jero Wacik. "Itu (Wamenparekraf) untuk mencari modus dugaan pemerasan. Itukan memerlukan kekuatan bukti-bukti dan saksi-saksi," jelasnya kemarib (9/10) di Gedung Kemenkumham, Jakarta.

Ia membenarkan jika Sapta Nirwandar dipanggil penyidik untuk dimintai keterangan berkaitan dengan jabatan Jero Wacik selaku Menteri Pariwisata. "Itu (pemanggilan Sapta) karena Jero kan (pernah) disana. Masih terus didalami (dugaan)," tegas Busyro. Salah satu yang didalami ialah tentang anggaran Dana Operasional Menteri (DOM) selama Jero memimpin Kementerian Pariwisata.

Sementara usai pemeriksaan sebagai tersangka dalam  dugaan korupsi berupa pemerasan di lingkungan Kementerian ESDM, Jero Wacik mengenakan kemeja warna biru dipadukan dengan jaket hitam ini tidak langsung ditahan KPK dan pergi meninggalkan dengan mobil kijang hitamnya yang bernopol B 1693 FKB.

Jero membantah telah melakukan pemerasan yang dituduhkan KPK. Oleh karena itu, ia sempat bingung ketika dituduhkan melakukan aksi pemerasan di lingkungan Kementerian ESDM. "Saya perlu sampaikan kalau ada tuduhan pemerasan saya tidak pernah meras siapapun," ujarnya.

Jero mengaku dalam pemeriksaan perdana sebagai tersangka, ia ditanya lima pertanyaan oleh penyidik. Semua keterangan juga sudah disampaikan ke penyidik. Semua dilakukan karena ia mengikuti proses hukum yang berlaku di Indonesia. "Pertanyaan yang paling banyak mengenai DOM (Dana Operasional Menteri)," jelasnya.

Menurut Jero, semua kementerian dan kepala lembaga tinggi negara mendapatkan DOM. Oleh karena itu ketika ia menjabat sebagai Menteri Pariwisata juga mendapat DOM selama tujuh tahun. Sementara itu ketika menjadi Menteri ESDM mendapat DOM selama tiga tahun. "Pengunaannya juga sesuai dengan aturan," tegasnya.

Dalam kesempatan ini, Jero juga membantah melakukan rapat untuk menaikan besaran DOM di Kementeriannya. Karena berapapun besaran DOM yang ada di kementeriannya akan diterima dengan lapang dada. "Berapa pun ada DOM yang segitu ya saya gunakan," paparnya.

Jero mengakui, besaran DOM di Kementerian ESDM mencapai Rp120 juta/bulan. Sementara ketika ditanya besaran DOM di Kementerian Pariwisata, Jero mengaku tidak ingat. "Pokoknya berapa yang ada itu yang saya pakai," tegasnya.

Jero menuturkan, dalam pemeriksaan, juga ditanya mengenai penghasilan dan pengeluaran biaya hidupnya setiap bulan. Termasuk yang ditanya penyidik adalah besaran gaji sebagai menteri. Dalam sesi sesi tanya jawab, penyidik juga menanyakan biaya kost anaknya yang masih kuliah. "Penyidik menanyakan yang berkisar antara DOM sama biaya-biaya hidup saya," jelasnya. (ran)