Min08302015

Last update01:58:32 AM

Back Anda disini: Home

Artikel

Puasa Ramadan dan Jalan Menuju Takwa

Oleh: Drs Umar Sa’id*)
*) Ketua Forum Umat Islam (FUI) Sumsel.
 
“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana telah
 diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu menjadi orang yang bertakwa”.(QS Albaqarah:183)
Ali bin Thalib memberikan makna takwa  adalah rasa takut akan ancaman dan beramal sesuai tuntunan Alquran, bersyukur terhadap nikmat yang banyak dan rida terhadap nikmat yang sedikit, senantiasa bersiap-siap  untuk masa yang panjang. Menzalim diri sendiri dan menzalimi orang lain.
Dari pengertian di atas maka yang dimaksud takwa adalah terus-menerus meletakkan dari dalam  pemeliharaan  yang dapat memelihara dari kemarahan Allah dan siksa-Nya. Yaitu dengan selalu memelihara segala suruhan-Nya dan larang-Nya. Takwa adalah merupakan bekal yang terbaik bagi manusia. Sebagaimana diterangkan dalam Alquran surat Al-Baqarah:197 “Dan berbekallah kamu, maka sebaik-baik perbekalan ialah takwa. Karena itu bertakwalah kamu kepada-Ku wahai orang-orng yang berakal.”
Jalan Menuju Takwa
Untuk dapat meraih predikat takwa maka yang perlu adanya usaha-usaha konkret yang harus dilakukan. Nah untuk meniti jalan tersebut ada beberapa cara di antaranya: Pertama, mua’ahadah yaitu senantiasa mengingat perjanjian dengan Allah, bahwa kita adalah hamba Allah yang diperintahkan untuk senantiasa mengabdi dan beribadah  kepada-Nya.
Bagi orang-orang yang mengerjakan salat mereka berjanji sekurang-kurangnya  sebanyak 17 kali bahwa dia tidak akan menyembah Tuhan selain kepada Allah  dan tidak mohon pertolongan selain kepada Allah.
“Hanya kepada Allah kami menyembah dan hanya kepada Allah kami mohon pertolongan”. Dan mereka juga berjanji bahwa segala pengabdian dan amal usahanya bahkan hidup  dan matinya hanyalah untuk Allah. Ikrar dari pernyataan janji tersebut hendaklah tidak hanya perjanjian retrika formal melainkan perlu diwujudkan dalam tindakan nyata.
Kedua, muaqobah yaitu senantiasa memberikan sanksi kepada diri sendiri apabila melakukan kesalahan atau lalai dari taat dan beribadah kepada Allah. Hal ini sebagaimana dilakukan Umar bin Khatab tatkala beliau mengunjungi salah satu kebun. Beliau  menyaksikan orang-orang yang telah selesai salat ashar  berjemaah. Maka sebagai hukumannya beliau menginfakkan  kebun yang beliau kunjungi itu untuk kepentingan kaum muslimin, karena kebunnya tersebut telah melalaikannya  dari zikir kepada Allah.
Bagi yang terbiasa untuk mengoreksi diri  kemudian menjatuhkan sanksi terhadap dirinya apabila berbuat salah, maka akan tumbuh kedisiplinan yang tinggi untuk menjalankan perintah  Allah dan senantiasa menjauhi  larangan-Nya.
Kalau terlena dalam kemaksiatan  lalu segera menggantinya dengan amal saleh, agar amal saleh tersebut dapat menghapus dosa dan kesalahannya.
Nabi saw bersabda: “Bertakwalah kepada Allah di mana saja kamu berada dan ikutilah perbuatan jelekmu dengan perbuatan baik, niscaya dia akan menghapuskannya dan pergaulilah manusia dengan akhlak yang baik. (HR:Tirmidzi).
Ketiga, mujahadah yaitu selalu bersungguh-sungguh dalam setiap amal sekecil apapun, karena kesuksesan besar itu berawal dari yang kecil-kecil. Manakala yang kecil saja tidak mampu dan diabaikan lalu bagaimana akan meraih yang besar.
Kesungguhan dalam beramal, bekerja dan beribadah ini merupakan bukti keimanan seorang mukmin, yaitu yang beriman dengan meyakini dalam hati, mengucapkan dengan lisan dan mengamalkan dengan anggota badan.
Di dalam Alquran surat Al-Ankabutt ayat 2-3 diterangkan. “Berjihad dengan sungguh-sungguh di jalan Allah merupakan pembeda antara orang-orang beriman dengan orang munafik.”
Selain menjaga kesungguhan dalam amal, setiap mukmin juga dituntut untuk selalu istikomah dalam ketaatan  dan ketakwaannya. Sebagaimana sabda Nabi saw. “Katakanlah aku beriman kepada Allah kemudian istikomah.”(HR Muslim).
Keempat, muroqobah yaitu merasa selalu diawasi oleh Allah. Kesadaran merasakan pengawasan Allah ini sehingga melahirkan kesetiaan dan ketaatan di setiap saat. Saat bekerja di rumah, saat di perjalanan, atau saat di mana saja berada merasakan pengawasan Allah. Akan membangun kepekaan hati untuk senantiasa taat kepada Allah dan pengawasan Allah akan membangun kepekaan hati untuk senantiasa taat kepada Allah dan menjauhi segala bentuk kemaksiatan  sejak dari kemaksiatan mata sampai kepada perut.
Dengan selalu bermuqorobah berarti berusaha melemahkan keinginan untuk berbuat munkar dan maksiat. Sebab selalu menyadari bahwa Allah sedang mengawasinya.
Sebagaimana firman Allah swt. “Dan dia (Allah) menyertaimu di mana saja kamu berada dan Allah melihat apa saja yang kamu kerjakan”.(QS:57:4)
Kelima, muhasabah yaitu selalu menghisab amal yang kita kerjakan membandingkan antara amal yang baik dengan amal yang buruk sebelum segala perbuatan kita dihisab oleh Allah.
Jangan kita tertipu oleh amal kita sebagaimana bunyi pepatah, semut di seberang lautan tampak, gajah di pelupuk mata tidak tampak. Janganlah kita menjadi orang sibuk mengoreksi pekerjaan dan urusan serta kesalahan orang lain sementara kekurangan dan kesalahan sendiri terlupakan.
Dalam hal ini Nabi saw berpesan. “Orang cerdas adalah orang yang mengoreksi dirinya dan mempersiapkan amal-amal untuk bekal sesudah mati. Dan orang-orang yang bodoh (hina) adalah orang yang menuruti hawa nafsunya dan yang berangan-angan yang muluk”.(HR:Tirmidzi)
Kita harus senantiasa sadar bahwa hidup di dunia hanyalah sementara bagaikan seorang musafir yang sedang dalam perjalanan menuju kampung yang dituju yaitu negeri akhirat yang kekal.
Kesimpulan kelima jalan takwa di atas bagaikan butiran mutiara ratna mutu manikam, manakala dia dirangkai menjadi satu maka dia akan menjadi perhiasan yang indah dalam diri kita. Lebih indah daripada perhiasan yang indah dari belahan bumi mana pun, maka keindahan itulah yang sebenarnya wujud daripada takwa.