Back Anda disini: Home

Artikel

Instropeksi dan Kenali Diri

Oleh: Made Toya, S.Pd*
*) Pemuka Umat Hindu Sumsel
 
NYEPI berasal dari kata sepi. Kata tersebut mendapat awalan Nye yang berarti melakukan (kegiatan). Setelah mendapat awalan Nye huruf S menjadi luluh/hilang. Nyepi artinya 
melakukan kegiatan sepi. Istilah lain dari kata sepi adalah Sipeng. Keadaan sepi sangat dibutuhkan dalam rangka menciptakan suasana tenang, damai, dan tentram.
Keadaan yang demikian itu akan sangat menunjang pelaksanaan Nyepi. Dalam Nyepi umat Hindu akan mengintrospeksi diri (Mulat Sarira) yang diarahkan untuk mengenal diri kita yang sejati, serta untuk menganalisa hal-hal yang telah diperbuat selama ini, apakah baik atau pun buruk.
Yang baik untuk dipertahankan bahkan ditingkatkan, sedangkan yang buruk ditinggalan dan tidak diulangi kembali. Umat Hindu akan merenung tentang dirinya, dari mana berasal, untuk apa atau apa yang menjadi tujuan hidupnya, dan kemana perginya setelah kehidupan ini.
Hidup berasal dari Tuhan; hidup adalah proses pembelajaran diri menuju kesempurnaan dan peningkatan kualitas; dan hidup akan di akhiri dengan kembali bersatu dengan Tuhan (Manunggaling kawula lan gusti).
Dalam Tattwa/filsapat dinyatakan bahwa diri kita yang sejati bukan badan melainkan Sang Atman yang merupakan percikan terkecil dari Tuhan. Atman yang menjiwai makhluk hidup disebut Jiwatman. Dalam kejadiaannya, Jiwatman ini dibelenggu oleh kekuatan, seperti: Tri Guna (Sattwan, Rajas, dan Tamas (sifat tenang/damai, emosional, lamban), Manah (pikiran), Ahamkara (keakuan), Panca Bhudindrya (lima alat pengindra), Panca Karmendrya (lima alat penggerak tubuh), serta Wasana Karma (sisa hasil perbuatan yang belum tuntas dinikmati). Kesemuanya itu sangat berperan dalam membentuk karakter peribadi masing-masing. Ada dua jenis karakter secara garis besarnya, karakter baik atau sebaliknya karakter tidak baik atau jahat.
Untuk menciptakan kondisi sepi, perlu diatur beberapa ketentuan. Ketentuan yang mengatur tentang pelaksanaan Nyepi ada empat, disebut Catur Bratha Panyepian, meliputi: 1) Amati Geni yang artinya tidak boleh menyalakan api, termasuk apinya napsu, 2) Amati Karya yang artinya tidak boleh melakukan aktifitas kerja dalam bentuk apapun, 3) Amati Lalungan, berati tidak boleh bepergian ke luar rumah, dan 4) Amati Lelanguan, yaitu dilarang memukul atau mendengarkan bunyi-bunyian, baik yang enak didengar atau yang tidak enak di dengar. 
Di dalam Lontar Sudarigama tentang Nyepi ada disebutkan seperti berikut di bawah ini.
“... ejangnya nyepi amati geni, tan wenang sajadma anyambut karya sakalwirnya, agni-gni saparanya tan wenang, kalinganya wenang sang wruh ring tattwa gelarakena samadi tapa yoga ametitis kasunyata.”
Artinya,
“... besuknya Nyepi tidak menyalakan api, tidak boleh semua orang melakaukan pekerjaan, berapi-api dan sejenisnya tidak boleh, karenanya orang yang tahu hakikat keagamaan melakukan samadi tapa yoga menuju kesucian.”
Dari kutikan isi lontar di atas juga dapat diketahui bahwa terhadap orang yang bergerak di bidang keagamaan (seperti Pendeta, Pinandita, tokoh dan pemuka agama) hendakanya melakukan tapa (berdisiplin dalam mengendalikan seluruh indra), Yoga (memusatkan pikiran kepada Ida Sang Hyang Widhi), dan Samadi (tercapainya kondisi mental atau Bhudi yang seimbang) sehingga terwujudnya keesucian lahir dan bathi. Dari kesucian lahir dan bathin, akan tercipta suatu kebahagian dan kedamaian abadi.
Pada umumnya, umat melaksanakan Catur Brata Penyepian di rumah masing-masing. Tetapi, ada juga sebagaian yang melakukannya di tempat sembahyang secara bersama-sama.
Proses tersebut Penyepian tersebut, kalau baleh diumpamakan seperti seekor ulat. Kita semuanya tahu bahwa ulat adalah binatang sangat menjijikkan yang dengan rakusnya memakan daun tanpa henti-hentinya siang dan malam sehingga merusak tanaman. Ketika sudah waktunya, ia akan mengurung diri dengan tidak beraktifgitas sama sekali.
Melalui proses menjadi kepongpong terlebih dahulu, lalu menjelma menjadi seekor kupu-kupu yang idah dengan tempat dan pola hidup yang berbeda sama sekali. Ia beterbangan ke sana ke mari di udara untuk mencari madu dari berbagai jenis bunga sebagai makanannya. Ketika mencari makan, ia sama sekali tidak merusak tanaman,  bahkan sebaliknya membantu penyerbukan agar terjadi pembuahan.