Sel09232014

Last update01:53:51 AM

Back Anda disini: Home

Artikel

Veteran Dominan

CURITIBA – Dua finalis Piala Dunia 2010 Spanyol dan Belanda akan kembali bentrok di Arena Fonte Nova, Salvador, dini hari nanti. Laga tersebut merupakan pertandingan perdana di grup B Piala Dunia 2014. Bagi De Oranje, julukan Timnas Belanda, pertandingan ini tidak hanya untuk mengamankan tiket ke babak 16 besar, tapi juga menghapus trauma kekalahan menyakitkan empat tahun lalu.
    Ya, trauma final Piala Dunia 2010 masih menghantui sebagian pemain Belanda. Mereka masih ingat dengan beberapa peluang emas yang seharusnya bisa berbuah gol dan trofi juara. Salah satunya ketika winger Arjen Robben yang tinggal berhadapan dengan kiper Iker Casillas di pertengahan babak kedua.
    Namun sayang, target balas dendam tersebut sepertinya bakal sulit terealisasi. Sebab, kekuatan Belanda justru tereduksi di Piala Dunia 2014, menyusul cedera yang menimpa Rafael van der Vart, Kevin Strootman, Gregory van der Wiel, dan Jetro Williams. Belanda kini didominasi para pemain muda, dan 15 di antara mereka baru menjalani debut di major event.
Sebaliknya, Spanyol masih didominasi pemain veteran Piala Dunia 2010 seperti kiper Iker Casillas, bek Sergio Ramos, Gerrard Pique, gelandang Andres Iniesta, Xavi Hernandez, dan penyerang Fernando Torres. Kematangan La Furia Roja diprediksi bakal membuat luka De Oranje semakin dalam.
”Tim kami tidak berbeda. Lebih atau kurang, pemainnya masih sama, pelatih yang sama, dan gaya bermain sama. Mungkin mereka (Belanda) mengalami banyak perubahan. Mereka diperkuat beberapa pemain baru, terutama di lini pertahanan,” tutur Sergio Busquets, gelandang Spanyol kepada Reuters.
Meski demikian, kubu Spanyol tetap mewaspadai semangat revans tim asuhan Louis van Gaal tersebut. Tiga pemain senior Belanda, yakni Robin van Persie, Arjen Robben, dan Wesley Sneijder, punya kemampuan mengoyak pertahanan melalui skema serangan balik.
”Jadi, kami harus beradaptasi dengan situasi baru, mencoba untuk bermain dengan cara kami, menjaga bola, waspada terhadap transisi permainan mereka. Terutama ketika pemain berbahaya mereka bermain seperti Robben, Van Persie, dan Sneijder,” ujar Busquets.
Faktor pelatih juga jadi catatan penting bagi Busquets. Sebab, Van Gaal yang pernah menangani Barcelona gemar mengutak-atik strategi yang mampu mengecoh lawan-lawannya. ”Mereka memiliki pelatih berbeda yang akan menggunakan sistem bermain dengan menempatkan lima bek, bermain lebih mengandalkan serangan balik,” katanya.
Van Gaal memang mengusung skema baru. Pelatih yang akan menangani Manchester United selepas Piala Dunia 2014 itu sudah menyiapkan formasi utama 5-3-2. Van Gaal memang hobi mengutak-atik formasi tim. Ketika masih menangani Barcelona, Van Gaal pernah menggunakan sistem 3-3-3-1.
Sementara itu, Bayern Munchen yang juga pernah dia tangani sukses melaju ke final Liga Champions 2009-2010 dengan formasi 4-2-3-1. ”Kami tak punya pilihan selain memainkan lima pemain bertahan melawan Spanyol. Kami harus membatasi ruang mereka dan membuat lapangan serasa lebih sempit,” tutur Van Gaal.
Pilihan Van Gaal jatuh pada Daryl Janmaat, Stefan de Vrij, Ron Vlaar, Bruno Martins Indi, dan Daley Blind. Sebelumnya Blind memiliki peran sebagai gelandang bertahan. Van Gaal berharap timnya tak ceroboh dan tetap fokus pada setiap pemain Spanyol yang memasuki daerah berbahaya.
”Saya tak akan mengatakan siapa yang lebih baik untuk kami hadapi. Sistem yang di miliki Spanyol selalu sama, dan mereka se mua memiliki kualitas,” ujar Van Gaal. (ady/ego/ce5)