Back Anda disini: Home

Artikel

Pertahankan Dagelan Mataram demi Tontonan Berisi Sentilan dan Tuntunan

SLEMAN – Semakin berkembangnya dunia komedi di Indonesia seolah membuat guyonan tradisional di Yogyakarta kurang begitu dilirik. Namun dalam sejarahnya, humor yang dikenal dengan Dagelan Mataram memiliki kekuatan. Salah satunya mengusung humor dengan gaya yang khas Mataram.

Upaya melestarikan humor tradisi dilakukan komunitas Dagelan Mataram melalui pentas bertajuk “Golek Jodho” di Aula PKKH UGM Yogyakarta, Kamis malam (16/10). Pementasan yang menampilkan maestro dagelan Jogja itu hadir dengan format Dagelan Neo Mataram.

“Komedi tradisional Jawa khas Jogjakarta menghadirkan sebuah kreativitas. Bahkan, jika menilik lebih dalam, telah menginspirasi perkembangan lawak di Indonesia,” kata budayawan Indra Tranggono seperti dikutip Radar Jogja.

Indra yang dalam pementasan itu bertindak sebagai inisiator sekaligus manajer panggung, mengaku sangat berharap Dagelan Mataram tetap eksis. Dalam pementasan itu, spirit Dagelan Mataram dihadirkan dengan konteks persoalan orang Jawa yang lebih kompleks.

Sesuai semangatnya, Dagelan Mataram tidak hanya hadir sebagai tontonan, tapi juga tuntunan dan tananan.  “Dagelan Mataram menghadirkan kelucuan getir, satiris, penuh sentilan sosial. Dagelan Mataram menunjukkan tabiat kultural orang Jawa, yaitu tertawa dan mengejek diri sendiri. Cara ini adalah metode bertahan dari berbagai tekanan hidup,” katanya.

Sementara Kepala PKKH UGM, Faruk HT mengatakan, inti dari Dagelan Mataram pada dasarnya adalah plesetan. Menurutnya, plesetan tidak hanya secara harafiah plesetan kata, melainkan juga plesetan situasi. Bentuk kritik seperti inilah yang telah melekat kuat di Yogyakarta.

“Dagelan Mataram harus dipertahankan dan para senimannya perlu mendapat penghargaan. PKKH berharap aneka persoalan di ranah kehidupan dapat didekati dengan beragam cara, salah satunya melalui apresiasi seni tradisi seperti dagelan Mataram,” ungkapnya.

Lakon “Golek Jodho” ini dimainkan oleh Grup Krabat Goprak. Meski komunitas itu terbilang baru, namun penggawanya adalah seniman-seniman senior. Sebut saja Warjudi, Minten, Joko Ismoyo, Sugeng Iwak Bandeng, Aldo Iwak Kebo, Khocil Birawa, Fajar Chothiet, Irma Sule Ismawati dan Tyas Windu.

Sang dalang pementasan, Nano Asmorodono mengungkapkan, lakon “Golek Jodho” berkisah tentang pertengkaran pasangan suami istri dari keluarga kaya raya. Sumber pertengkaran berangkat dari logika sepele. Suami-istri itu beda pendapat soal calon mantu bagi anak perempuan semata wayangnya.

“Sesuai ciri khasnya, hadir dengan kesederhanaan namun dengan satir. Kritik yang berwujud halus namun bermakna dalam. Bahwa manusia bertindak sesuai keinginannya tanpa melihat dampak sekelilingnya,” kata Nano. (dwi/jko/ong/jpnn)