Rab07012015

Last update10:02:23 PM

Back Anda disini: Home

Artikel

Godok Aturan Bayi Tabung Donasi

Pemerintah Victoria mempertimbangkan langkah pertama di dunia untuk memungkinkan orang yang dikandung lewat proses bayi tabung donasi dapat mengetahui identitas telur atau sperma donor mereka, bahkan jika si pendonor meminta anonimitas.
 
Usulan perubahan aturan mengenai teknologi reproduksi ini meliputi pembahasan mengenai rancangan aturan yang dirilis hari ini dan berbeda dengan reformasi lain yang akan diberlakukan pekan ini.
 
Backbencher Victoria Anthony Carbines mengatakan aturan ini akan disertai persyaratan ketat, sehingga donor tidak akan bisa dihubungi tanpa persetujuannya.
 
"Jika mereka tidak ingin dihubungi sama sekali mereka dapat mengungkapkan haknya tersebut,"
 
"Dan informasi mengenai dirinya hanya akan diberikan kepada orang yang terlahir dari pembuahan yang menggunakan donornya hanya jika mereka bersedia menandatangani persetujuan untuk tidak melakukan kontak dengan pendonor," kata Carbines.,
 
"Juga akan berlaku sanksi hukum bagi siapa yang melanggar ketentuan dari komitmen tersebut,'
 
Orang yang lahir dari proses pembuahan yang diatur menggunakan sperma atau sel telur donasi dapat didenda hampir $9.000 atau hampir Rp100 juta jika mereka melanggar ketentuan tersebut.
 
Proses uji publik usulan perubahan aturan ini direncanakan akan berlangsung hingga awal September mendatang, karena Pemerintah Victoria berencana akan memperkenalkan UU ini ke parlemen Victoria pada akhir tahun 2015 ini.
 
Namun Asosiasi Medis Australia (AMA) cabang Victoria mengkhawatirkan potensi masalah dari perubahan aturan ini.
 
Presiden AMA Victoria, Dr Tony Bartone mengatakan anonimitas pendonor harus dilindungi.
 
"Keputusan itu dibuat berdasarkan anonimitas salah satu pihak yang dilindungi. Apakah lalu pembuahan itu terjadi atau tidak itu benar-benar merupakan masalah sekunder," kta Dr Bartone.
 
"Tapi kemudian pemerintah merilis usulan perubahan yang memungkinkan dilakukannya identifikasi donor,"
 
Tapi keberatan AMA Victoria ini dinilai tidak simpatik bagi orang yang lahir dari pembuahan donor seperti warga bernama Lauren Burns.
 
"Para dokter itu perlu memperhatikan juga tangung jawab etis atas sejumlah dampak yang dihasilkan dari proses pembuahan donor tersebut,' katanya.
 
Burns juga  menilai kekhawatiran yang diungkapkan kalangan  komunitas medis ini bisa bersifat pribadi.
 
"Ada juga potensi terjadinya konflik kepentingan dalam banyak donor yang direkrut dalam program yang diselenggarakan profesi medis, jadi kita tidak tahu mungkin saja ada konflik kepentingan pribadi juga," kata burns.
 
Menurut Lauren Burns sebagai orang yang lahir dari proses pembuahan dari sumbangan sperma dan mengaku sebelum menemukan identitas ayah kandungnya Ia seperti memiliki pertanyaan yang tidak bisa dijawab.
 
"Rasanya sebagai manusia biasa, ketika kita melihat wajah kita di cermin kita menyadari kita pasti memiliki kemiripan, bisa kemiripan wajah ataupun kepribadian ataupun ketertarikan yang dapat kita telusuri balik pada orang lain didalam keluarga kita," tutur Burns.
 
"Tapi bagi orang yang lahir dari pembuahan donor, sebagian dari perasaan itu hilang dan mereka tidak tahu apa latar belakang etnis mereka atau apa yang mereka wariskan bagi dari konteks sosial maupun medis," tambahnya.
 
Sementara itu seorang pendonor sperma Roger Clarke menilai penilaian yang seimbang perlu didasarkan atas pertimbangan hak anak.
 
Clarke pernah mendonorkan spermanya pada tahun 1980 dan hingga kini dia telah menemui dua anak yang terlahir dari donor spermanya.
 
"Mereka memberi saya opsi ketika itu untuk memutuskan apakah saya menghendaki anonimitas saya dilindungi?" cerita Clarke.
 
"DItanyakan juga 'Apakah Anda siap bertemu dengan anak anda, ya atau tidak, dan saya dengan senang mencontreng kolom 'ya'.
 
"Dalam pandangan saya, keseimbangan harus didasarkan pada hak anak," katanya.
 
"isu anonimitas sangat sensitif bagi banyak pendonor dan ada banyak juga yang terganggu dengan gagasan kalau anonimitas ini bisa dikesampingkan.
 
"Tapi dari semua hal saya meyakini kalau setiap anak yang terlahir dari proses pembuahan donor mereka memiliki hak untuk mengetahui orang tua biologis mereka."