Sel08042015

Last update08:43:06 PM

Back Anda disini: Home

Artikel

Lampu Tempel Tenaga Baterai

KREATIVITAS bisa datang dari mana saja. Saat praktik mata pelajaran (mapel) elektronika, seorang guru memberikan tugas untuk membawa 
lampu. Rendy Yudianto bersama dua temannya, Rangga Putra Indrawan dan Syahrur Ramadhan, memiliki ide untuk membawa lampu tempel. 
Menurut mereka, saat ini lampu tempel jarang ditemukan, apalagi digunakan. ”Bentuknya klasik dan unik. Jadi, kami berpikir untuk membawanya,” ujar siswa SMKN 3 Surabaya tersebut. 
Kalau biasanya menggunakan bahan bakar minyak, mereka mengkreasikan dengan menggunakan baterai berkapasitas 1,5 volt untuk menyalakan lampu tempel. Baterai yang digunakan untuk lampu tempel tersebut berjenis LR44. Selain ditempel, mereka membuat lampu itu bisa berdiri di meja. Dalam pembuatannya, mereka mengakui tidak mudah.
Mereka berusaha berkali- kali untuk menghasilkan nyala lampu yang terang. ”Yang paling susah dan lama itu mengaitkan kabel dari baterai ke lampu serta mengupas kulit tembaga untuk aliran listriknya,” papar siswa 17 tahun itu. Agar tetap terlihat jadul, mereka menggunakan wadah kaca berwarna cokelat gelap dan sumbu khas lampu tempel. 
Satu lampu membutuhkan empat baterai. Seluruh baterai diletakkan bertumpuk, lantas dimasukkan ke dalam paralon. Setelah itu, kawat tembaga dikaitkan ke dalam baterai, lantas disambungkan dengan lampu. ”Yang terpenting, lampu bisa nyala. Setelah itu, baru disambungkan dengan alat yang berfungsi sebagai sakelar,” terang Rendy. 
Memang, saat awal pembuatan, mereka membutuhkan waktu lama. Setelah terbiasa, mereka dapat menghasilkan satu lampu hanya dalam waktu 30 menit. Usaha tersebut membuahkan hasil. Lampu tempel bertenaga baterai itu menyala hingga 10 jam.
Tidak cukup puas. Tiga siswa bersama guru pembimbingnya, Budi Prasetyo, memasarkan lampu tempel tersebut. Hasilnya memuaskan. Satu buah lampu dijual Rp 20 ribu. ”Bersyukur sekali. Sekarang sudah banyak pesanan. Bukan hanya wilayah Surabaya, tapi ada pesanan rutin dari Jakarta,” imbuh Syahrur. (bri/c6/nda)