Sab08292015

Last update05:14:09 PM

Back Anda disini: Home

Artikel

Menjaga Kesucian Diri

Prof Dr H Romli SA MAg
 
ALLAH swt berfirman dalam Surat Al-Syams:91 pada  ayat 7-10, yang terjemahannya sebagai 
berikut: “Dan demi jiwa serta kesempurnaan penciptaannya (7) Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu jalan kefasikan dan ketakwaan (8) Sungguh beruntunglah bagi orang yang menjaga kesucian jiwa tersebut (9) Dan sungguh merugilah bagi orang mengotori jiwa tersebut (10)”. 
Berdasarkan ayat itu, dapat dipahami bahwa manusia pada dasarnya adalah suci. Bersih  dan didorong untuk menjaga kesucian dirinya. Akan tetapi manusia bisa juga menjadi kotor atau ternoda karena ia tidak mampu menjaga kesucian dirinya itu.
Suci atau kotornya diri manusia sangat bergantung pada manusia itu sendiri. Sebab, dalam diri manusia telah diberikan (diilhamkan) dua potensi (kecendrungan), “fujur” dan “takwa”. 
Kata “fujur” (fujuraha), mengandung arti berpaling dari kebaikan. Jelasnya, melakukan kemaksiatan dan kekotoran baik sifatnya qauliayah (ucapan) maupun fi’liyah (perbuatan, tindakan, atau perilaku buruk). Perbuatan fujur mencakup semua perbuatan yang tidak baik dalam berbagai dimensi dan tingkatannya. 
Sementara itu, kata “takwa” (taqwaha) dalam konteks ini adalah potensi dan kecenderungan untuk berbuat baik. Yakni, segala bentuk perbuatan baik dan amal saleh yang hanya ditujukan untuk mendekatkan diri kepada Allah swt, Sang Khaliq (Pencipta).  
 Faktanya, dua potensi (kecenderungan) buruk dan baik ini atau sering disebut dengan potensi negatif dan positif saling berlawanan satu sama lainnya. Dan, jika kecenderungan negatif lebih dominan dalam diri seseorang, maka orang tersebut sangat berpotensi  melakukan tindakan kejahatan. Sebaliknya, jika potensi atau kecenderungan positif itu lebih dominan dalam diri seseorang, maka orang tersebut sangat berpotensi melakukan perbuatan baik. 
Pertanyaannya, bagaimana caranya sehingga kecenderungan positif dan perbuatan baik itu bisa tumbuh dan berkembang dalam diri seseorang serta kecenderungan negatif dan buruk bisa dikendalikan? Jawabannya, perlu upaya pendidikan dan pemahaman tentang ajaran baik dan buruk bagi manusia.
Pertama, berusaha mematuhi apa yang diperintahkan Allah dan menjauhi larangannya. Kedua, membiasakan diri mengerjakan ibadah dan hal-hal baik serta menghindari hal-hal yang tidak baik. Terakhir, ketiga, Allah swt akan menghargai dan memuliakan orang-orang yang berbuat kabaikan. Menempuh jalan takwa dengan memberi pahala. Sebaliknya akan memberi sanksi dan ancaman hukuman bagi orang yang berbuat keburukan yang menempuh jalan fujur. Wa Allahu A’lam bi al-Shawwab.(*/ce1)