Rab07012015

Last update05:27:21 AM

Back Anda disini: Home

Artikel

Terobosan PDIP Gelar Sekolah Partai

JAKARTA - PDI Perjuangan mulai Minggu (28/6) hingga Jumat (3/7) nanti menggembleng kader-kadernya yang akan diusung pada pemilihan kepala daerah tahun ini. Ada 137 bakal calon kada maupun wakilnya dari PDIP yang menjalani sekolah partai agar benar-benar mampu bersaing pada pilkada serentak 9 Desember nanti.
 
Langkah PDIP menggelar sekolah partai bagi kader-kadernya yang akan diusung di pilkada serentak itu dinilai sebagai terbobosan penting. Menurut pengamat politik dari Universitas Padjadjaran (Unpad) Bandung, Muradi, sekolah partai bagi calon kada itu bisa menjadi cara PDIP untuk mengintegrasikan kepentingannya sebagai partai pengusung dengan harapan publik.
 
Muradi menjelaskan, PDIP tentu merasa perlu memastikan kepentingannya sebagai partai diakomodir calon kada. Di sisi lain, PDIP tentu juga harus kompromi dengan harapan publik.
 
“Sekolah partai calon kepala daerah PDI Perjuangan ini bisa memelopori cara untuk mengintegrasikan harapan publik dengan kepentingan partai politik. Jadi harus diapresiasi sebagai bagian dari terobosan politik," ujar Muradi dalam keterangan terulisnya ke media, Senin (29/6).
 
Pimpinan di Pusat Studi Politik dan Keamanan (PSPK) Unpad itu menambahkan, persepsi publik selama ini menempatkan parpol hanya sebagai pengusung di pilkada saja. Sebab, yang dijual adalah figur calon kada.
 
Karenanya, sering kali hubungan antara publik pemilih dengan partai pengusung justru tak sinergis. Bahkan kemenangan partai di suatu daerah saat pemilu legislatif, bisa saja dipecundangi oleh partai gurem saat pilkada.
 
Muradi menegaskan, kesan itulah yang hendak dikikis PDIP melalui sekolah partai bagi calon kada. Di samping itu, PDIP tentu ingin memastikan calon kada yang diusung juga membawa ideologi partai pimpinan Megawati Soekarnoputri itu.
 
“Katena warna ideologi partai harus menjadi pondasi antara harapan publik dengan tujuan dari partai pengusung yang terimplementasi dalam visi dan misi calon kepala daerah," ulasnya.
 
Selain itu, Muradi juga melihat sekolah partai itu menjadi cara bagi PDIP untuk memosisikan calon kada agar tidak merasa sok besar karena menjadi figur yang populer. “Jadi figur calon kepala daerah tidak lagi hanya sekedar menyihir pemilih dengan figuritasnya semata, tapi juga sebagai bagian laku etika politik yang mencerminkan partai pengusungnya,” ulasnya.(ara/jpnn)