Back Anda disini: Home

Artikel

Rusia Menginvasi Crimea

SIMFEROPOL - Crimea semakin mencekam. Setelah unjuk rasa massa pro-Rusia pada Kamis (27/2), giliran kelompok bersenjata pendukung Kremlin yang beraksi di republik otonomi yang merupakan bagian dari Ukraina tersebut. Kemarin (28/2) sekelompok pria bersenjata Kalashnikov berpatroli di Bandara Internasional Simferopol.
    Selain menguasai bandara utama Crimea, kelompok bersenjata tersebut menduduki lapangan udara milik militer yang terletak di Kota Sevastopol, pinggiran Laut Hitam.

Kendati demikian, aktivitas di bandara komersial Crimea berjalan lancar kemarin. Seluruh penumpang tetap menjalani prosedur penerbangan seperti biasa. Yakni, mulai proses check in sampai boarding.
     Pria-pria bersenjata yang menamai diri sebagai militan dari Brigade Rakyat Crimea itu mengaku hanya berjaga di bandara. Tetapi, Ukraina menuduh bahwa Rusia sengaja mengintervensi urusan keamanan dalam negerinya. Karena itu, Menteri Dalam Negeri Ukraina Arsen Avakov langsung melaporkan insiden tersebut kepada Dewan Keamanan (DK) PBB. Dia meminta PBB untuk campur tangan dalam krisis politik Ukraina. “Saya hanya bisa mendeskripsikan situasi ini sebagai pendudukan dan invasi militer,” tulis Avakov pada laman Facebook-nya kemarin.
     Avakov menyatakan bahwa bandara dan lapangan terbang Crimea jatuh ke tangan pasukan Rusia pada Kamis malam. Secara khusus, dia menyebut bahwa pria-pria bersenjata yang berpatroli di bandara dan lapangan terbang itu adalah personel Angkatan Laut (AL) Rusia.
     Kemarin, jurnalis Associated Press melaporkan bahwa dua truk militer memblokade jalan utama menuju Bandara Internasional Sevastopol. Sejumlah pria berpakaian loreng berjaga di dekat truk tersebut. Sama seperti rekan-rekan mereka yang berpatroli di bandara, kelompok tersebut mempersenjatai diri mereka dengan senapan.
     Sejak Viktor Yanukovych tersingkir dari kursi presiden pada 22 Februari, ketegangan menyelimuti Crimea. Sebab, politikus berusia 63 tahun itu melarikan diri ke wilayah Ukraina yang mayoritas penduduknya berbahasa Rusia tersebut. Dari Crimea, sekutu Presiden Vladimir Putih itu melanjutkan pelariannya ke Kota Moskow, Rusia. Pada Rabu (26/2) dia tiba di Negeri Beruang Merah.
     Kamis lalu atas permintaan Yanukovych, Kremlin memberikan jaminan keamanan kepada tokoh yang masih mengklaim dirinya sebagai presiden Ukraina tersebut. Kemarin dia muncul dari tempat persembunyiannya di Sanatorium Barvikha milik Kremlin. Dia mengadakan jumpa pers dan menampik tuduhan Ukraina soal pembunuhan masal demonstran serta surat perintah penangkapan atas namanya.
     Kamis lalu Ukraina berhasil membentuk kabinet baru. Arseniy Yatsenyuk terpilih sebagai perdana menteri (PM). Begitu terpilih sebagai kepala pemerintahan, sekutu dekat Yulia Tymoshenko tersebut langsung menyusun daftar para menteri. “Ukraina telah terpecah belah. Tapi, Ukraina bisa melihat masa depannya bersama Eropa. Kami akan menjadi bagian dari Uni Eropa (UE),” tegasnya.    
     Kisruh politik Ukraina membuat Austria dan Swiss berwaspada. Kemarin Austria membekukan aset sekitar 18 tokoh Ukraina yang diduga melakukan pelanggaran HAM selama krisis berlangsung. Bersamaan dengan itu, pemerintah Swiss mulai menginvestigasi Yanukovych terkait dengan tuduhan pencucian uang di negerinya. (AP/AFP/BBC/hep/c18/tia/ce6)