Back Anda disini: Home

Artikel

Kualitas Dan Profesionalisme Tenaga Pendidik

Oleh Syukri Hamzah*)
*) Guru Besar FKIP Universitas Bengkulu.

Laju  perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di  berbagai bidang akan terus berlangsung dan tak akan mungkin terbendung.  Inovasi dan terobosan akan memicu persaingan di berbagai bidang. Suka atau tidak suka, perkembangan tersebut akan menyentuh berbagai aspek kehidupan masyarakat, termasuk  kebutuhan dunia kerja.  
Perkembangan ini harus mampu direspon oleh dunia pendidikan dengan sungguh-sungguh bila tak ingin lulusannya menjadi penonton sebuah kemajuan yang berbeda dari sebelumnya.

Lulusan yang dihasilkan dari sebuah lembaga pendidikan, harus memenuhi syarat kemampuan untuk berhasil dengan pekerjaan yang dihadapinya. Saat ini banyak negara di dunia yang telah melakukan reformasi kurikulum, pengajaran, dan penilaian dengan maksud untuk mempersiapkan  pendidikan secara lebih baik  untuk  kebutuhan hidup peserta didik  dan pendidikan yang lebih tinggi serta bekerja setelah merampungkan pendidikannya.
Masa hadapan tentulah tak sama dengan masa kini.  Kompleksitas masalah dan fenomena yang akan terjadi akan begitu beragam yang kesemuanya perlu dibekalkan pada peserta didik saat ini. Masalahnya, apakah  keterampilan yang diperlukan generasi  muda agar dapat sukses di dunia yang berubah dengan cepat ini, dan pada giliran berikut masalahnya  adalah apakah kompetensi yang diperlukan pendidik perlu agar secara efektif dapat  mengajarkan keterampilan-keterampilan kepada siswa mereka?
Pertanyaan ini, bagaimanapun, masih sulit untuk dijawab dengan bukti yang nyata saat ini.   Namun demikian, kiranya kita dapat memahami konsekuensi  logis dari kondisi ini -- dengan mengingat bahwa pendidik merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan proses pendidikan – karenanya, pendidik  dengan jabatan professional yang disandangnya tentulah harus  mengikuti perkembangan yang terjadi yang diikuti dengan selalu beradaptasi terhadap  perkembangan tersebut  dan terus berusaha meningkatkan pengetahuan serta kemampuan yang dibutuhkan untuk menanggapi perkembangan tersebut.
Richard dan  Farrell (2005) menyatakan bahwa guru selama karir mereka memiliki kebutuhan yang berbeda pada waktu yang berbeda, juga kebutuhan sekolah serta lembaga tempat mereka bekerja akan  berubah seiring waktu. Tekanan bagi guru adalah keharusan untuk  selalu memperbarui  pengetahuan mereka.
Dengan demikian,  seyogiyanya pendidik harus lebih siap dan didukung dalam menangani masalah-masalah yang berkembang itu.  Lebih dari itu, pendidik harus kreatif dan mampu melakukan inovasi-inovasi dalam proses pembelajaran dan pendidikan.  Kebiasaan melaksanakan tugas secara rutin tanpa kreativitas atau terobosan sudah harus ditinggalkan, karena pendidik bukan jabatan amatiran, tetapi merupakan jabatan professional.
Sejalan dengan itu, maka  para pendidik harus dibekali dan membekali diri dengan keterampilan-keterampilan yang baru, termasuk hal-hal yang mungkin saja selama ini tidak akrab dengannya ataupun belum pernah diajarkan sebelumnya.
 Upaya peningkatan kualitas dan professional pendidik, tentunya  tak terbatas pada upaya yang hanya dilakukan pendidik secara pribadi semata,  pemerintah (daerah) selaku salah unsur yang juga bertanggung jawab terhadap pendidikan hendaknya juga  menyadari bahwa peningkatan kualitas dan pengembangan profesionalisme pendidik juga menjadi tanggung jawab Pemerintah Daerah.
Karenanya, masalah pendidikan harus menjadi perhatian dan mendapatkan tempat yang utama  dalam program pembangunan yang diluncurkan pada setiap priode anggaran. Sehingga, keluhan terhadap kualitas lulusan tidak semata-mata tertuju pada pendidik dan lembaga pendidikan, sementara masalah sebenarnya tidak hanya terbatas pada pendidik dan sekolah.
Dengan demikian,  kualitas luaran pendidikan harus menjadi tanggung jawab bersama semua unsur yang terlibat di dalamnya. Tantangan masa hadapan harus dipandang secara komprehensif, termasuk harus pula upaya meng-update  standar penilaian yang digunakan.
 Masa hadapan bukan milik kita, tetapi adalah masa milik anak cucu kita.  Daoed Yoesoef pernah menyatakan, “Negara ini bukanlah warisan nenek moyang kita, tetapi merupakan titipan anak cucu kita kepada kita”.  Karena itu, pendidikan dan pembinaan haruslah tertuju ke masa hadapan.  Kita harus menjadikan masa hadapan menjadi masa kini.  Semoga.