Jum10242014

Last update10:26:50 PM

Back Anda disini: Home

Artikel

Menciptakan Pertumbuhan Ekonomi yang Berkualitas di Lahat

Oleh: Rika Yurista, S.ST)
*) Plt. Kasi Neraca Wilayah dan Analisis Statistik (Nerwilis) BPS Kabupaten Lahat
 
Tantangan terbesar setiap negara/wilayah saat ini adalah tidak hanya mendorong 
ekonomi tetap tumbuh dan ekspansif tetapi juga berkualitas. Secara teoritis ukuran berkualitas dapat diartikan sebagai pertumbuhan ekonomi yang secara signifikan memperbesar ketersediaan lapangan pekerjaan dan menurunkan angka kemiskinan.
Selain itu, pertumbuhan ekonomi semakin berkualitas ketika semakin besar masyarakat yang terlibat dan menikmati hasil perekonomian produktif di dalam sistem perekonomian. Akan tetapi polemik yang berkembang di masyarakat saat ini banyak sekali yang berbicara dan mengkritik pembangunan dengan interpretasi yang dikemukakan mengandung kebenaran, tetapi terkadang pemahaman yang disampaikan justru melenceng dari pengertian sebenarnya. 
Keluhan yang sering dilontarkan masyarakat mengenai pembangunan perekonomian di Kabupaten Lahat adalah “Lahat yang kaya akan lahan penghasil barang tambang dan hasil pertanian/perkebunan yang banyak, tidak menjamin warga Lahat sendiri hidup makmur”. “Dengan nilai pertumbuhan ekonomi baik tetapi kenyataan riil di lapangan tidak mendukung, karena semakin banyak penduduk miskin dan pengangguran”. Keluhan ini yang kita dengar secara terus menerus dari masyarakat, yang seharusnya menjadi perhatian penting bagi kita semua.
Membahas pertumbuhan ekonomi di Kabupaten Lahat tak jauh halnya dengan membahas nilai Produk Domestik Regional Bruto (PDRB). Berdasarkan teori ekonomi nilai Produk Domestik yang timbul disuatu daerah tidak sama dengan pendapatan yang diterima produk daerah tersebut. Kenyataannya bahwa sebagian dari faktor produksi (modal dan tenaga kerja) yang digunakan dalam kegiatan produksi disuatu daerah berasal dari daerah lain/luar negeri. Demikian juga sebaliknya faktor produksi yang dimiliki oleh penduduk daerah tersebut ikut serta dalam proses produksi didaerah lain/luar negeri.
Pertumbuhan ekonomi Lahat selama periode lima tahun terakhir menunjukkan laju pertumbuhan perekonomian yang relatif baik walaupun agak sedikit melambat di tahun 2013 yaitu sebesar 5,58 persen dibandingkan tahun 2012 yang mencapai 6,01 persen. Dari sembilan sektor lapangan usaha (sektor pertanian, pertambangan, industri, listrik/gas, konstruksi, perdagangan/hotel/restoran, pengangkutan/komunikasi, keuangan dan jasa-jasa) yang memberi sumbangan terhadap nilai PDRB terbesar adalah sektor pertambangan dan pertanian yaitu masing-masing sebesar 28,79 persen dan 23,91 persen dari seluruh sektor lainnya.
Dalam struktur ekonomi sektor yang dominan atau yang diandalkan mempunyai kedudukan paling atas dalam struktur tersebut akan menjadi ciri khas dari suatu perekonomian diwilayah tersebut. Sektor pertambangan dan pertanian meskipun menjadi sektor andalan di Kabupaten Lahat tidak serta merta bisa dikatakan menjamin kemakmuran perekonomian masyarakat setempat meningkat. 
Sektor pertambangan dan penggalian memberikan sumbangan terbesar terhadap nilai tambah Kabupaten Lahat akan tetapi laju pertumbuhan di sektor ini sangat kecil (1,63 persen) dibandingkan dengan laju pertumbuhan lainnya. Jumlah produksi barang tambang yang dua tahun belakangan ini semakin menurun mempengaruhi laju pertumbuhan.
Akan tetapi pada kenyataannya di lapangan pengangkutan batu bara dan barang tambang lainnya masih banyak beredar dijalan, memberikan pertanyaan “apakah hanya stock yang diangkut untuk transaksi jual beli sehingga dengan kata lain produktifitas nya berkurang ?” atau “mengapa tidak ada timbal balik lebih untuk kecamatan berpotensi penghasil barang tambang ?”, seakan-akan hasil tambang hanya dirasakan oleh kaum tertentu yang kaya saja bukan penduduk setempat.
Fenomena yang sama, sektor pertanian selain memiliki sumbangan terbesar kedua terhadap nilai tambah bruto diiringi pula dengan laju pertumbuhan yang tinggi mencapai 5,83 persen. Dengan nilai laju pertumbuhan yang tinggi di sektor pertanian tidak serta merta kita menolak angka tersebut dengan beranggapan bahwa masih sangat banyak masyarakat miskin di pedesaan Kabupaten Lahat. Sehingga beranggapan suatu hal yang mustahil sektor pertanian tumbuh sebesar itu.
Padahal, angka pertumbuhan sektor pertambangan dan pertanian tersebut memang belum tentu akan langsung berpengaruh terhadap penurunan kemiskinan. Relasi antar kedua variabel tersebut akan bergantung pada sisi mana pertumbuhan dalam sektor tersebut terjadi. Semisalnya, jika pertumbuhan itu karena pengaruh akumulasi nilai tambah dari petani berlahan luas semata, atau dari pengusaha pertambangan yang berinvestasi skala modal besar saja tentu hal itu kurang berdampak pada tingkat kesejahteraan masyarakat lapisan bawah. Dalam konteks ini, yang perlu ditanyakan adalah pada dilapisan masyarakat Kabupaten Lahat mana pertumbuhan itu terjadi. 
Jika kontribusi pertumbuhan diwilayah Lahat tersebut umumnya datang dari sektor yang padat modal saja berarti daya serap tenaga kerja akan rendah dan dampaknya pada penguatan ekonomi rakyat di Kabupaten Lahat tentu akan kurang signifikan. Melihat perkembangan ekonomi yang langsung dirasakan oleh rakyat kesejahteraannya, tidak bisa hanya dari sektor lapangan usaha mana yang menonjol diwilayah tersebut akan tetapi perlu ditelaah lagi struktur perekonomian sektor-sektor lapangan usaha lainnya.
Walaupun laju pertumbuhan dan konstribusi sektor pertanian dan pertambangan/penggalian tinggi, belum tentu akan membawa kesejahteraan pada petani atau penduduk/pekerja di daerah penghasil tambang tersebut. Kita lihat pertumbuhan disektor lainnya yang laju pertumbuhan tinggi yaitu sektor keuangan (13,45 persen), sektor pengangkutan/komunikasi (12,18 persen) atau sektor perdagangan/hotel/restoran (7,47 persen) apakah kita bisa mengatakan bahwa ketiga sektor ini akan pasti membawa kesejahteraan bagi pekerja nya?. Tentu saja tidak ada jaminan, bisa jadi pertumbuhan sektor tersebut didominasi kegiatan-kegiatan berskala besar dan padat modal saja sehingga mematikan kelompok kegiatan ekonomi berskala kecil (rumah tangga) dalam hal ini rakyat.
 Itulah sebabnya mengapa terkadang perekonomian menunjukkan pertumbuhan tetapi angka kemiskinan di Kabupaten Lahat meningkat tiap tahunnya. Jumlah penduduk miskin di Kabupaten Lahat mencapai lebih dari 71.000 jiwa atau sekitar 18,61 persen dari populasi penduduk di Kabupaten Lahat, dengan kata lain di tahun 2013 jumlah penduduk miskin meningkat sebesar 8 persen dari tahun 2012  Untuk menanggulanginya perlu waktu dan strategi pemerintah beserta juga ditentukan oleh struktur pertumbuhan ekonomi ditiap sektor lapangan usaha yang tumbuh berkesinambungan. Kabupaten Lahat dapat menciptakan pertumbuhan ekonomi yang berkualitas jika pertumbuhan itu diperoleh dari semua kegiatan ekonomi dan terutama yang dilakukan oleh masyarakat Lahat.
Didukung peran serta pemerintah daerah Kabupaten Lahat untuk meningkatkan aktifitas perekonomian masyarakat yang bukan hanya dari sektor padat modal saja, sehingga SDM Lahat dapat mengolah barang produksi ekonomi menjadi lebih tinggi nilainya dengan harapan dapat menyerap tenaga kerja dan merangsang tumbuh unit usaha pendukung sehingga barang produksi yang dihasilkan dapat diekspor dengan nilai berkualitas tinggi guna meningkatkan laju pertumbuhan ekonomi Kabupaten Lahat yang lebih berkualitas.