Kam09182014

Last update02:00:37 PM

Back Anda disini: Home

Artikel

Peredaran Upal Makin Marak

PALEMBANG – Jelang pelaksanaan Pemilihan Umum Legislatif (Pileg) 2014, peredaran uang palsu (upal) di masyarakat makin marak. Sebelumnya, jajaran Polres Lubuklinggau dan OKU Timur (OKUT) mendapati upal pecahan Rp50 ribu dari masing-masing tersangka yang mereka tangkap sebelumnya dalam kasus lain.
    Kali ini giliran jajaran Polsek Sukarami berhasil menggagalkan peredaran upal. Tersangkanya Linggau Hutama (45), warga  Jl  M Isa, Lrg Cinta Damai,  Kelurahan 9 Ilir, Kecamatan Ilir Timur (IT) II, dan Abdullah (21), warga Kompleks Yuka, Blok O, RT 15, Kelurahan Suka Maju, Kecamatan Sako.

    Dari kedua tersangka, berhasil diamankan barang bukti upal senilai Rp46,5 juta dengan rincian pecahan Rp100 ribu sebanyak  424 lembar dan Rp50 ribu sebanyak  82 lembar. Lalu, satu buah dompet warna hitam, satu buah sim C, tas warna hitam, 2 buah HP, satu lembar STNK sepeda motor atas nama Suandi BG 3596 NH, satu buah ATM BNI, serta struk bukti transfer.   
    Informasi dihimpun, kedua tersangka ditangkap Kamis (27/2) sekitar pukul 18.30 WIB usai berbelanja di warung milik Ali Fauzi di Jl Kol H Sulaiman Amin, Kompleks Perumdam Blok G4, RT 16/29, Kelurahan Karya Baru, Kecamatan Alang-Alang Lebar (AAL).
    Awalnya, kedua tersangka yang mengendarai sepeda motor Honda Supra Fit BG 3596 NH mampir di warung korban. Kemudian tersangka berbelanja dua bungkus rokok dengan pecahan upal Rp100 ribu dengan nomor seri nuu241123.
    Merasa curiga, pemilik warung kemudian mengecek uang yang tampak palsu. Sembari menghubungi pihak kepolisan, pemilik warung menunda kembaliannya sebesar Rp60 ribu.
    Tak lama aparat datang dan langsung menangkap tersangka. Saat digedelah, didapati upal senilai Rp46,5 juta di dalam tas tersangka yang diletakkan di sepeda motor. Aparat pun langsung menggelandang tersangka ke Mapolsekta guna pemeriksaan lebih lanjut.
Di hadapan petugas, tersangka Linggau mengaku jika upal tersebut dipesan dari temannya berinisial AS, warga Pemalang, Jawa Tengah. "Uang itu punya AS, tapi kami ngambilnya ketemuan sama G di Jakarta. Mungkin dia suruhan AS,” ungkap bapak dua anak ini.
Menurutnya, upal tersebut dipesan dengan cara ditransfer melalui bank ke AS. Pemesanan pertama upal Rp25 juta dibeli seharga Rp10 juta. Uang tersebut habis dibelanjakan ke warung-warung yang ada di Palembang sebanyak Rp21 juta dan bersisa Rp4 juta.
Setelah itu, ia kembali memesan upal sebanyak Rp42,5 juta yang dibeli seharga Rp15 juta kepada AS. “Untuk yang kedua duitnya aku transfer juga via ATM, dan ngambil upalnya juga di Jakarta langsung sama AS,” sambungnya.
Linggau mengaku awal perkenalannya dengan AS sejak tiga bulan lalu. Lalu AS menawari bisnis upal sejak Januari. “Kalau produksinya, kata AS, ada di Tegal dan yang cetak Al,” bebernya.
Kapolsekta Sukarami Kompol Imam Tarmudi didampingi Kanit Reskrim Iptu AK Sembiring mengatakan, kedua tersangka dijerat Pasal 245 KUHP tentang Menyimpan dan Mengedarkan Upal dengan ancaman 15 tahun penjara.
Disinggung mengenai maraknya peredaran upal jelang Pileg 2014, Imam mengaku masih dalam penyelidikan. “Kita belum sampai ke sana. Informasi  upal ini diedarkan di warung-warung,” pungkasnya. (gti/vin/ce6)